Ormas Khilafatul Muslimin: Ini Ancaman Rasulullah Pada Pelaku Makar 

by -12 views
ormas-khilafatul-muslimin:-ini-ancaman-rasulullah-pada-pelaku-makar 

BincangSyariah.Com- Saat ini tengah viral Ormas Khilafatul Muslimin. Ormas ini bertujuan menegakkan syariat Islam, dengan cara mendirikan khilafah di Indonesia. Tindakan ini penting diwaspadai karena muncul dugaan adanya pemberontakan.

Berikut kami jelaskan mengenai etika dalam menanggulangi pemberontak dalam Islam.

Melihat syarat dan unsur yang harus dipenuhi dari berbagai macam mazhab, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai Ormas Khilafatul Muslimin apakah dapat dikategorikan sebagai bughot (pemberontak). 

Tetapi, apabila muncul fakta di lapangan yang memperlihatkan Ormas Khilafatul Muslimin secara nyata mengangkat senjata melawan pemerintah, atau muncul adanya usaha untuk meruntuhkan keutuhan negara Indonesia, harusnya tak berlebihan ketika dikatakan bahwa mereka layak untuk dimusnahkan. 

Ancaman Rasulullah Pada Pemberontak

Perbuatan ini juga telah dikecam oleh Nabi melalui sabdanya : 

مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلاحَ فَلَيْسَ مِنّا

Artinya : “Barangsiapa menghunus pedang kepada kami, ia bukan golongan kami.”

Makna hadis tersebut dita’wil dengan makna lain yaitu menghunus pedang kepada sesama muslim dengan tujuan mengancam, menakut-nakuti atau memeranginya dengan tanpa hak dan alasan yang dibenarkan. 

Jika dikaitkan dengan kondisi saat ini, bisa saja diartikan dengan meneror, persekusi, intimidasi atau menyakiti sesama muslim, baik dengan atau tanpa pedang atau senjata lainnya.  Rasulullah Shallallahu` Alaihi Wa Sallam memberikan pernyataan bahwa bahwa pelaku perbuatan tersebut dianggap bukan “golongan kami”. 

Dijelaskan bahwa makna (bukan golongan kami) pada hadis tersebut adalah bukan dari kebiasaan kami atau tidak mengikuti jalan kami. Dengan kata lain, perbuatan demikian (menghunus pedang atau meneror) sangat keras dilarang walaupun pelakunya tidak sampai kafir. [Subulus Salam Syarah Bulughul Maram, 8 : 45].

Etika Menumpas Pemberontak dalam Islam

Memerangi pemberontak, tentunya pemerintah harus mengikuti etika-etika untuk menanggulangi mereka. Artinya, tidak boleh berperang dengan membabi buta. Karena tindak kekerasan tak lain hanya akan menimbulkan kesengsaraan untuk rakyat. 

Namun, apabila tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh untuk menyelamatkan keutuhan NKRI, maka tindak kekerasan pun menjadi alternative yang tidak dapat dihindarkan. Hal ini tercermin dari firman Allah :

وَاِنْ طَاۤىِٕفَتٰنِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَاۚ فَاِنْۢ بَغَتْ اِحْدٰىهُمَا عَلَى الْاُخْرٰى فَقَاتِلُوا الَّتِيْ تَبْغِيْ حَتّٰى تَفِيْۤءَ اِلٰٓى اَمْرِ اللّٰهِ ۖفَاِنْ فَاۤءَتْ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَاَقْسِطُوْا ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

Artinya: “Dan apabila ada dua golongan orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. 

Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” [QS. al-Hujurat 9]

Ayat ini hendak menggambarkan tatkala ada pertikaian antara dua kelompok yang kadang-kadang menyebabkan peperangan, maka jalan pertama yang harus ditempuh adalah rekonsiliasi (perdamaian). 

Jika salah satu dari keduanya, yakni golongan yang bermusuhan itu terus menerus berbuat zalim terhadap golongan yang lain, sehingga tidak ada kemungkinan untuk mengadakan perdamaian, maka Allah membenarkan cara-cara kekerasan seperti perang. Itu pun masih harus mengikuti etika-etika peperangan. 

Dan perlu diingat, bahwa tujuan peperangan disini bukan untuk membabat habis kelompok tertentu, melainkan untuk menyadarkan mereka sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. 

Jika golongan itu telah kembali kepada perintah Allah, yakni menerima kebenaran maka kita harus berlaku damai kepada mereka, sehingga terjadi hubungan baik antara kedua belah pihak. [Tafsir al-Thabari, 292:22].

Lalu, bagaimana jika didalam pertempuran sengit tanpa sengaja mereka menjadi korban amukan peluru? Menurut Abdul Qadir Ahmad Atha’ jika dalam suatu pertempuran tanpa sengaja merenggut nyawa para wanita dan anak-anak kecil, karena sulit membedakan antara mereka dan para pemberontak seperti peperangan terjadi di malam hari atau melalui serangan udara, maka hal itu dianggap tidak mempunyai konsekuensi hukum apa-apa. 

Lain halnya, jika sengaja menyerang rakyat yang tidak bersalah. Para ulama sepakat atas keharamannya kecuali kalau mereka mencoba membantu para pemberontak.[ Hadza halal wa hadza haram, 395]

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa, selama jalan rekonsiliasi (perdamaian) masih bisa ditempuh, maka harus diupayakan semaksimal mungkin. Sedangkan, tindakan militer boleh dilakukan sebagai langkah akhir, ketika semua jalan sudah ditempuh tapi hasilnya nihil. 

Namun perlu diingat bahwa tujuan peperangan disini bukan untuk membabat habis kelompok tertentu, melainkan untuk menyadarkan mereka sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. 

Demikian penjelasan mengenai etika dalam menanggulangi pemberontak dalam Islam. Yang semoga bangsa Indonesia dijauhkan dari pemberontak, makar, dan ormas seperti Khilafatul Muslimin. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. 

(Baca: Jejak Khilafatul Muslimin Berbahaya Bagi Indonesia)

More

Leave a Reply

Your email address will not be published.