‘Orang-orang Terlupakan’ di Perang Abadi Afghanistan

by -22 views
‘orang-orang-terlupakan’-di-perang-abadi-afghanistan

Insiden mengerikan di Afghanistan menunjukkan bahaya dari mengandalkan Operasi Khusus saja untuk berjuang di perang nasional.

Baik pemerintahan Trump dan Obama sangat bergantung pada unit Pasukan Khusus yang sangat terlatih untuk menjaga Afghanistan dari kehancuran. Strategi tersebut telah menyembunyikan episode terbaru dari Perang Afghanistan selama 21 tahun dari mata publik.

Namun, strategi itu gagal untuk menstabilkan negara dan menekan pasukan elit militer Amerika Serikat untuk mengorbankan nyawa mereka di perang abadi yang hampir tidak diketahui publik.

Ketika Kunduz, kota besar di Afghanistan utara, jatuh ke tangan Taliban pada 2015, Pasukan Khusus AS dikirim dalam misi rahasia untuk membantu pasukan komando Afghanistan merebutnya kembali. Kurang sumber daya dan tidak siap, para prajurit mendapati diri mereka di tengah-tengah pertempuran sengit dengan perintah yang saling bertentangan.

Kisah bagaimana hal itu menyebabkan salah satu bencana terburuk militer AS di Afghanistan, yang dimuat di The Atlantic, menunjukkan bahaya dari mengandalkan Operasi Khusus saja untuk berjuang di perang nasional.

Mayor Michael Hutchinson, Baret Hijau dari Grup Pasukan Khusus ke-3, bertanggung jawab atas operasi rahasia untuk membantu pasukan komando Afghanistan merebut kembali Kunduz. Itu adalah penempatan tempur kelimanya. Sebelumnya dia ditempatkan tiga kali di Afghanistan dan satu kali di Irak. Meski demikian, intensitas pertempuran sebelumnya tidak ada apa-apanya daripada penempatan tempurnya yang terakhir.

Kunduz telah diserang empat hari sebelumnya. Tentara dan polisi Afghanistan, yang diganggu oleh korupsi dan kepemimpinan yang buruk, telah meninggalkan jabatan mereka dan menyerahkan kota itu kepada Taliban dengan nyaris tanpa perlawanan. Kota itu jatuh dalam beberapa jam.

Baret Hijau telah mendarat daerah itu melalui udara dan tidak memiliki kendaraan lapis baja. Mereka hanya memiliki satu peta, dan tidak ada yang pernah menginjakkan kaki di kota itu sebelumnya.

Setelah empat hari pertempuran, mereka masih berada di markas polisi kota, tempat tim Amerika dan Afghanistan mendirikan pusat komando. Itu bukan rencana awal: Mereka seharusnya mendirikan pijakan di kantor gubernur, tetapi tersesat dalam kegelapan. Mereka diserang dari semua sisi, dan hanya serangan udara dan penembak jitu yang mencegah Taliban menguasai pangkalan.

Hutchinson melakukan kontak dengan pesawat tempur AC-130, yang berputar di atas mereka, untuk memberikan dukungan udara kepada rekan-rekannya di Afghanistan yang bersiap untuk menyerang sebuah gedung yang diyakini sebagai pusat komando dan kendali Taliban.

Namun, orang Afghanistan tidak memiliki radio, dan mengandalkan jangkauan telepon seluler yang terbatas untuk melakukan kontak dengan Hutchinson. Komunikasi tidak merata. Setelah mendengar tembakan meletus, penerjemah Hutchinson dapat menghubungi mereka dan memastikan mereka membutuhkan dukungan udara untuk gedung yang mereka serang. Hutchinson memerintahkan penembak untuk meluncurkan tembakan.

Serangkaian kegagalan teknis dan komunikasi di atas pesawat telah menghalangi kru untuk mempersiapkan misi. Tim Hutchinson juga kehabisan baterai yang dibutuhkan untuk penerima video yang biasanya digunakan untuk berkomunikasi dengan awak pesawat.

Itu menyebabkan dia tidak tahu, ada yang tidak beres. Bangunan yang dia perintahkan untuk diserang oleh senapan AC-130 bukanlah pusat kendali Taliban, tetapi Rumah Sakit Trauma Center yang dikelola oleh Médecins Sans Frontières (MSF) atau Dokter Lintas Batas.

Di sana, Evangeline Cua sedang berada di sela-sela operasi. Dia membuka praktik sendiri di Filipina, negara asalnya, tetapi mengambil cuti untuk bekerja di kelompok bantuan selama musim panas.

Beberapa bulan sebelumnya sangat intens, tetapi tidak seberapa dibandingkan dengan empat hari terakhir. Rumah sakit telah dibanjiri pasien sejak kota itu runtuh, dan petugas kesehatan menggunakan lorong dan kantor untuk menyediakan ruang bagi tempat tidur sementara.

Serangan pertama dari AC-130 menghantam ruang gawat darurat rumah sakit. Ruang operasi berguncang dan jendela berderak. Cua mendongak dan bertukar pandang dengan asisten ahli bedah yang telah selesai menjahit luka pasien. Para dokter sudah terbiasa dengan suara ledakan dan tembakan. Mereka tertawa gelisah. Mungkin hanya bentrokan lain, pikirnya, kelelahan.

Namun kemudian ledakan kedua terjadi. Para ahli bedah terkejut dan lari ke lorong, meninggalkan pasien yang masih dibius di atas meja operasi. Para dokter dan perawat berkumpul di seberang aula, berlindung di bawah meja. Namun terlalu sulit untuk bernapas melalui asap yang tajam, Cua meraba-raba jalan kembali ke ruang operasi.

Pikirannya berpacu untuk memahami apa yang sedang terjadi. Rumah sakit itu seharusnya dilindungi. Semua pihak telah mengakui ketidakberpihakannya. Serangan udara? Mengapa? Ledakan memekakkan telinga lainnya mengguncang bangunan, dan langit-langit runtuh, membuat mereka jatuh ke dalam kegelapan. Dia melihat garis datar monitor jantung pasiennya. Kita akan mati, pikirnya. Peluru terus menghantam gedung.

Direktur negara MSF, Guilhem Molinie, tengah berada di Kabul ketika dia menerima telepon dari rumah sakit yang melaporkan serangan udara tersebut. Dia segera menghubungi Bandar Udara Bagram, “Trauma Center sedang diserang,” kata Molinie kepada petugas AS yang mengangkatnya. “Kalian mengebom rumah sakit!”

Petugas itu berlari ke pusat operasi gabungan, memberi tahu kapten pertempuran tentang panggilan itu dengan berbisik. Namun, Letnan Kolonel Jason Johnston, komandan batalion Grup ke-3, yang duduk di dekatnya, mendengar dan terkejut. Dia meminta petugas itu mengulangi laporannya. Tak satu pun dari mereka menyadari serangan udara sedang berlangsung.

Mereka mencoba menghubungi Hutchinson, tetapi tidak berhasil selama beberapa menit. Mereka mengidentifikasi gumpalan asap yang mengepul dari pusat Kunduz melalui umpan video dan menarik koordinat untuk memeriksanya dengan yang disediakan oleh rumah sakit. Ketika Hutchinson menelepon kembali, Johnston memberi tahu dia tentang laporan itu. Hutchinson mencoba untuk memproses pesan tersebut. Dia mengingat apa yang terjadi satu jam terakhir dan tidak menyangka apa yang sebenarnya terjadi.

Perang Afghanistan

Patroli Marinir Amerika Serikat pada tanggal 1 April 2009 di Now Zad di Provinsi Helmand, Afghanistan. (Foto: Getty Images/John Moore)

“Tidak mungkin,” katanya. “Itu tidak mungkin.”

Hutchinson memerintahkan pesawat untuk berhenti menembak, tetapi tidak menyebutkan laporan itu kepada orang lain. Laporan itu akan memberikan pukulan yang mengerikan bagi moral pasukan, menambah tekanan dari pertempuran yang sedang berlangsung. Dia berkata pada dirinya sendiri pasti ada kesalahan.

Saat matahari terbit, bangunan rumah sakit yang hancur itu masih membara. Cua dan para dokter serta perawat lainnya yang selamat dari pengeboman berusaha untuk menyelamatkan yang terluka. Dilaporkan, 42 orang, termasuk 14 anggota staf, dilaporkan tewas dalam serangan itu.

Setelah pertempuran sengit selama seminggu, Kunduz kembali ke bawah kontrol pemerintah. Hutchinson belum mendengar apa-apa lagi tentang serangan udara itu dan, karena dia dan timnya belum mengunjungi lokasi ledakan, dan masih menganggap laporan itu keliru.

Tentara Afghanistan bersorak saat tentara Amerika lewat. Mereka merasa seperti pahlawan dalam film. Mereka telah menyelamatkan kota dari kehancuran melawan rintangan. Mereka tidak siap menerima berita itu.

Di TV di belakang kamp, ​​perhatian dunia memang terfokus pada Kunduz, tetapi tidak pada kekalahan Taliban. Setiap saluran utama meliput pengeboman rumah sakit oleh AS, dan menanyakan apakah serangan udara itu kejahatan perang.

Hutchinson masih percaya, dia dan anak buahnya telah melakukan hal yang benar dengan pergi ke kota itu, dan mencoba menghibur Ben Vontz, Baret Hijau muda yang bertanggung jawab untuk berkomunikasi dengan penembak malam itu. Jika misinya gagal, Taliban akan bercokol di Kunduz sekarang, katanya pada Vontz, dan pertempuran dari pintu ke pintu untuk mengusir mereka akan menghasilkan korban jiwa yang lebih tinggi.

Sudah sepuluh tahun sejak tur pertama Hutchinson di Irak. Satu dekade adalah waktu yang lama untuk mempelajari bagaimana memproses kengerian perang. Baginya, jelas pengeboman itu adalah kesalahan yang disebabkan oleh kerusakan peralatan, kelelahan, dan kesalahan manusia. Semua orang telah melakukan yang terbaik dalam situasi yang seharusnya tidak mereka hadapi, katanya kepada Vontz. Pengontrol tempur itu masih berusia 25 tahun, dan itu kali pertamanya dikerahkan dalam pertempuran. Dia tidak bisa dihibur.

Kemudian, tim investigasi telah mencapai Kunduz; mereka ingin segera bertemu Hutchinson. Para penyelidik menatapnya dengan tidak nyaman. Media menggambarkan Hutchinson sebagai penjahat perang potensial. Dia menolak untuk gentar dan berjanji untuk membantu penyelidikan.

Hutch menelepon ke rumah. Istrinya menjawab.

“Apakah semuanya baik-baik saja?” Tina bertanya. “Mereka menyebutnya kejahatan perang.”

Hutchinson dibebastugaskan dan dikirim ke Bandar Udara Bagram untuk menunggu hasil penyelidikan. Dia merasa yakin petugas penyelidik akan menyadari pasukan telah melakukan yang terbaik. Serangan itu adalah kesalahan yang tidak menguntungkan yang dibuat di tengah panasnya pertempuran. Dia berencana untuk menerima hukuman apa pun yang dianggap pantas oleh militer.

Ketika seorang pendeta berkunjung dari Kabul, dia terkejut melihat Hutchinson masih bersemangat. Dia dinilai berisiko akan bunuh diri. “Saya baik-baik saja,” kata Hutchinson padanya, mencoba terdengar ceria.

Namun dia mulai mendengar beberapa orang di markas besar Angkatan Darat yakin dia telah melanggar aturan serangan dan ingin dia diadili atas pembunuhan. Dia berusaha untuk tetap positif dan terus melakukan rutinitas olahraga untuk melawan depresi dan pikiran negatif yang mengomel padanya.

Dia tidak bisa bercerita banyak pada Tina melalui telepon, tetapi dia mencoba meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja setelah penyelidikan berjalan. Tina masih hamil dan memiliki dua anak.

Tina tahu dia seharusnya tidak bertanya, tapi dia takut tentang apa yang akan terjadi. “Aku tidak akan masuk penjara,” janjinya. Dia khawatir. Gambaran rumah sakit tergores di benaknya. Dia tidak bisa menahan untuk tidak membaca cerita-cerita dari staf dan pasien yang selamat, bahkan jika di dalam hatinya dia tahu bahwa suaminya telah melakukan yang terbaik.

Militer mengubah klaim resminya beberapa kali. Kerahasiaan seputar penyelidikan tersebut memicu kecurigaan terburuk dari publik: rumah sakit tersebut sengaja diserang. Hutchinson merasa orang-orang akan mengerti jika mereka mendengar langsung bagaimana kesalahan itu terjadi. Dia meminta untuk diizinkan menjelaskan secara terbuka apa yang telah terjadi. Batalyon tersebut memberitahunya bahwa itu bukanlah ide yang bagus.

Para penyelidik memanggil Hutchinson untuk diinterogasi berulang kali. Akhirnya, petugas penyidik, Brigadir Jenderal Richard Kim, meminta untuk berbicara padannya. Dia tidak mempercayai versi peristiwa Hutchinson, katanya. Dia mengira Hutchinson telah melanggar aturan serangan dan secara ilegal menggunakan tembakan pra-penyerangan. “Apakah Anda ingin mengubah cerita Anda?” Dia bertanya.

Hutchinson kaget. Dia bisa menerima telah membuat kesalahan dan warga sipil telah meninggal sebagai akibatnya. Dia bisa menerima bahwa tragedi itu seharusnya bisa dicegah. Dia siap menerima hukuman apa pun. Namun, dituduh berusaha menutupi tindakan yang disengaja? Itu keterlaluan. Itu tidak mungkin.

Penerjemah: Nur Hidayati

Editor: Purnama Ayu Rizky

Keterangan foto utama: Dua bocah lelaki melewati para anggota pasukan elite Unit Merah Taliban di Distrik Alingar, Provinsi Laghman, Afghanistan pada 13 Maret. (Foto: Jim Huylebroek/The New York Times/Redux)

‘Orang-orang Terlupakan’ di Perang Abadi Afghanistan

, , , , , ,

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *