Nyawa 100 Orang Selamat Sebelum Ambruknya Atap Serambi Masjid Besar Nguter Sukoharjo

by -2 views
nyawa-100-orang-selamat-sebelum-ambruknya-atap-serambi-masjid-besar-nguter-sukoharjo

Atap serambi Masjid Besar Al Furqon Nguter di Jalan Raya Solo-Wonogiri, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo ambruk, Rabu (20/10/2021).

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Nyawa 100 orang terselamatkan dibalik ambruknya atap serambi masjid.

Karena peristiwa terjadi setelah salat Subuh.

Berikut sejumlah fakta ambruknya atap serambi masjid hingga kisah 100 nyawa terselamatkan:

Diduga Baja Ringan Tak Kuat Menahan

Ketua Takmir Masjid Al Furqon Nguter, Mujiyono mengatakan penyebab ambruknya atap serambi masjid tersebut diduga baja ringan itu tak kuat menahan.

Terlebih beban atap masjid yang berbentuk kubah itu, diketahui berbahan keramik.

“Gentengnya keramik, sedangkan di bawahnya baja ringan, dimungkinkan karena tidak kuat menahan,” ungkap dia kepada TribunSolo.com, Rabu (20/10/2021).

atas masjid ambruk sukoharjo

Polisi bersama warga membersihkan puing-puing atap serambi Masjid Besar Al Furqon Nguter yang ambruk di Jalan Raya Solo-Wonogiri, Kec Nguter, Kab Sukoharjo, Rabu (20/10/2021).

Tidak Ada Korban Jiwa

Dikatakan Mujiyono, peristiwa ambruknya atap masjid tersebut sekitar pukul 06.00 WIB.

Adapun jam tersebut, masjid sudah sepi sehingga tidak ada korban jiwa.

“Jemaah sudah menyelesaikan subuh dan petugas kebersihan sudah selesai nyapu maupun mengepel, sehingga saat kejadian tidak ada orang,” ujar dia.

Ia menuturkan atap serambi masjid yang baru lima tahun dibangun itu, lantas dibersihkan secara kerja bakti bersama masyarakat.

“Kondisi saat ini, puing-puing masjid yang ambrol sudah dibersihkan, dan nanti kami rapatkan untuk masjid ini diperbaiki kembali,” ujarnya.

Polres Sukoharjo Turun Tangan, Diduga Kesalahan Konstruksi

Kapolres Sukoharjo AKBP Wahyu Nugroho Setyawan, menjelaskan, pihaknya akan mendalami runtuhnya atap serambi bangunan Masjid Agung Al Furqon Nguter tersebut.

Wahyu menjelaskan, dugaan sementara ambruknya bangunan itu karena kesalahan konstruksi, di mana baja ringan yang digunakan sebagai kerangka atap tidak mampu menahan beban.

Pihaknya akan melakukan pendalaman lebih lanjut mengenai kasus tersebut.

“Kalau dilihat dari kasat mata, baja ringan yang ada ini tipis dan mudah dibengkokkan. Padahal berat satu genting itu sekitar 2 kilogram,” jelasnya.

“Artinya, dalam 1 meter persegi butuh 15 genting dengan kata lain bebannya bisa 30 kilogram lebih,” papar dia.

Kemudian, dia mengatakan langkah awal saat ini yaitu membantu membersihkan puing-puing reruntuhan tersebut.

“Kami akan menerjunkan petugas melakukan penyelidikan, apakah memang benar ada kesalahan konstruki dalam pembangunan,” aku dia.

Kisah Lain Dibalik Ambruknya Atap Serambi Masjid

Di balik ambruknya atap serambi Masjid Besar Al Furqon Nguter di Jalan Raya Solo-Wonogiri mengisahkan cerita lain.

Ya, setiap hari ada 100 orang yang beribadah dalam salat Subuh berjamaah di masjid di Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo itu.

Tapi pada hari Rabu (20/10/2021) itu, Allah seakan memberikan perlindungan kepada jemaah sehingga atap ambruk sejam lebih setelah salat Subuh berjamaah.

Tepatnya atap yang di bawahnya buat keluar masuk jemaah, ambruk pada pukul 06.00 WIB.

Atap serambi Masjid Besar Al Furqon Nguter di Jalan Raya Solo-Wonogiri, Kec Nguter, Kab Sukoharjo ambruk, Rabu (20/10/2021)

Ketua Takmir Masjid Al Furqon Nguter, Mujiyono merasa bersyukur tak ada yang terluka sedikit pun terkait insiden ambruknya atap tersebut.

Menurutnya setiap hari banyak umat Islam yang mengikuti salat Subuh berjamaah.

“Ada 100 jemaah biasanya,” ungkap dia kepada TribunSolo.com, Rabu (20/10/2021).

Dia pun memastikan tak ada yang terluka, apalagi korban jiwa.

“Tak ada korban jiwa,” akunya.

Atap Masjid Nguter Ambruk, Padahal Baru 5 Tahun

Kapolres Sukoharjo AKBP Wahyu Nugroho Setyawan menjelaskan, dugaan sementara ambruknya bangunan ibadah di Kecamatan Nguter itu karena kesalahan konstruksi.

Terlebih bangunan tersebut terhitung baru saja dibangun yakni 2016 lalu.

Adapun atap dibuat dari baja ringan, berbeda dengan atap biasanya menggunakan kayu.

“Kalau dilihat dari kasat mata, baja ringan yang ada ini tipis dan mudah dibengkokkan,” ungkap dia kepada TribunSolo.com.

Wahyu menuturkan berat satu genteng sekitar 2 kilogram, sementara setiap 1 meter persegi membutuhkan 15 genteng, sehingga total beban yang ditanggung bisa 30 kilogram lebih.

“Kami akan menerjunkan petugas melakukan penyelidikan, apakah memang benar ada kesalahan konstruki dalam pembangunan itu,” terang dia.

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *