32.8 C
Jakarta
Thursday, May 19, 2022

Muslim Progresif Menolak Patriarkisme [Bag-1]: Tiga Pilar Penopang Budaya Patriarki dan Masalahnya

BeritaMuslim Progresif Menolak Patriarkisme : Tiga Pilar Penopang Budaya Patriarki dan Masalahnya

Saya telah mengikuti perdebatan akademis tentang gender dan agama selama hampir dua dekade, dan menerbitkan tulisan terkait selama lebih dari satu dekade, terutama yang berkaitan dengan tradisi Islam. Saya juga seorang suami, ayah, dan warga dunia yang peduli dan prihatin tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Dari latar belakang tersebut, saya sampai pada kesimpulan bahwa ada tiga pilar utama di mana budaya patriarki dan pandangannya berakar. Yaitu, maskulinitas tradisional, ‘oposisi gender’, dan kehormatan patriarki.

Dalam pandangan saya, ketiga konsep ini serta berbagai asumsi yang mendasarinya bertanggung jawab atas konstruksi keyakinan, nilai, dan praktik yang telah menghasilkan berbagai bentuk hubungan kekuasaan yang eksploitatif dan sangat asimetris secara umum, dan marjinalisasi sistematis terhadap hak, pengalaman, dan suara perempuan dalam konstruksi pengetahuan (religius) dan pembentukan etika (religius) secara khusus. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan pandangan dunia (worldview) dan ‘logika’ di balik konsep-konsep tersebut.

Di awal tulisan ini, sangat penting untuk menyatakan bahwa teori dan konsep yang menopang pandangan dunia patriarki muncul dari pendekatan tradisionalis terhadap banyak tradisi agama besar. Namun, diskusi yang berkaitan dengan teori oposisi gender dan kehormatan patriarki yang dibahas di bawah ini bersumber dari penelitian dan bacaan saya tentang tradisi interpretatif Islam pramodern, khususnya penjelasan kontemporernya. Di bagian akhir tulisan ini, saya memberikan gagasan singkat tentang bagaimana melampaui tiga pilar patriarki untuk mengatasi cita-cita patriarki dan pandangan dunia yang terkait dengannya secara rumit.

Patriarki dan Maskulinitas Tradisional

Pada bagian ini saya ingin mengkaji konsep patriarki melalui lensa tertentu, yaitu maskulinitas tradisional seperti yang digagas oleh Kilmartin. Maskulinitas tradisional adalah sumber utama nilai dan norma patriarki. Nilai dan norma tersebut di antaranya meliputi kekuasaan, persaingan, agresi/dominasi, dan penaklukan seksual. Patriarki adalah sistem dominasi ganda dari sebagian kecil laki-laki yang berkuasa atas kelompok laki-laki lainnya, dan dominasi laki-laki secara umum atas perempuan dan anak-anak. Patriarki, sebagai sistem dominasi, didasarkan pada pandangan tertentu yang muncul dalam semua aspek keberadaan manusia, baik pada tingkat masyarakat maupun pada tingkat individu. Pandangan ini mempengaruhi cara orang berpikir, berperilaku, dan merasakan sesuatu.

Patriarki berasal dari maskulinitas tradisional yang dijunjung tinggi sebagai cita-cita dan norma bagi banyak pria dan wanita. Ini didasarkan pada persaingan dan penciptaan hierarki yang dapat memiliki konsekuensi yang merusak. Kapitalisme didasarkan pada karakteristik dominasi dan kekuasaan yang sama. Kombinasi ini mematikan baik pada tingkat individu maupun kelompok. Patriarki, dalam literasi terbaru, diperburuk oleh etos kapitalis dan tatanan sosial. Patriarki memberikan landasan untuk berkembangnya kapitalisme dan kapitalisme ditopang oleh struktur nilai hierarki dalam patriarki.

Keduanya berkolaborasi menghasilkan sistem ekonomi yang menuhankan keserakahan dan berusaha memperoleh margin keuntungan yang lebih besar dengan cara apapun. Kesuksesan diukur dengan kebutuhan tak terbatas terhadap margin keuntungan yang lebih besar, pangsa pasar yang lebih besar, kinerja pasar saham yang lebih baik, peningkatan kemampuan militer, pemilihan politisi yang “terpilih secara demokratis” yang lebih efektif, atau jumlah wanita berpenampilan menarik yang dapat dinilai oleh seorang pria. Sebagian besar sistem perbankan di dunia, dalam satu atau lain cara, secara struktural terlibat dalam pelestarian sistem dan pandangan ekonomi patriarki. Di dunia yang saling terkait ini, peristiwa-peristiwa seputar krisis keuangan Amerika dari dekade sebelumnya yang ramai diperbincangkan di hampir setiap tempat di planet ini adalah bukti yang jelas akan kebenaran ini.

Kedua kepentingan dan pandangan tersebut (Patriarki dan Kapitalisme) telah memasuki banyak sistem politik bahkan di negara demokrasi liberal Barat. Uang yang diciptakan melalui sifat eksploitatif dari hierarki patriarki dan kapitalis digunakan dalam mendanai kampanye politik dan merupakan sumber utama praktik korupsi dan tidak demokratis di dunia. Oleh karena itu, sistem politik yang kelangsungan hidupnya bergantung pada kepentingan patriarki dan kapitalis merupakan hambatan utama untuk mencapai perdamaian dunia.

Hans Küng, seorang teolog terkenal, pernah menyatakan bahwa tanpa perdamaian antar agama tidak akan ada perdamaian dunia. Sayangnya, penafsiran agama telah didominasi oleh pandangan  patriarki bahkan sejak patriarki itu ada. Patriarki mampu meredam semangat asli dari pesan kenabian yang menekankan dan berbicara tentang perlunya keadilan sosial dan perlindungan kaum lemah dan terpinggirkan (dan membuka jalan menuju emansipasi mereka).

Terlebih lagi, patriarki sering mengooptasi dan menyelewengkan pandangan keagamaan untuk melayani kepentingannya sendiri. Yang penting untuk diingat adalah bahwa penafsiran patriarki terhadap teks-teks agama tidak dapat dihindari dan juga tidak sejalan dengan semangat kenabian yang saya sebutkan sebelumnya. Nilai, norma, dan etika patriarki yang disamarkan dalam idiom dan slogan agama tidak hanya mengkhianati semangat dan pesan kenabian yang asli, tetapi juga sering hidup berdampingan dengan sangat nyaman dengan kepentingan ekonomi dan politik di mana pandangan patriarki dan kapitalis dipertahankan dan bergantung.

Hal ini sangat disayangkan dan menyebabkan banyak penderitaan yang tidak perlu di dunia, dan merupakan ancaman besar bagi perdamaian dunia. Sebagai gantinya, yang kita butuhkan adalah teologi perdamaian dan kasih sayang yang menghormati semangat kenabian sesungguhnya tentang keadilan sosial dan kepedulian terhadap semua.

Degradasi dan eksploitasi lingkungan juga merupakan warisan budaya patriarki yang diselimuti etos maskulinitas tradisional. Hal ini diperparah oleh kekeliruan kapitalis yang menganggap bahwa bumi dapat terus-menerus menghasilkan sumber daya untuk memenuhi keinginan kita yang tidak ada batasnya. Pola pikir persaingan dan penciptaan homo economicus, spesies manusia unik yang nilainya semata-mata ditentukan oleh keuntungan materi, terlepas dari batasan etis apa pun, dan yang memandang dunia melalui lensa konseptual tunggal untuk menghasilkan keuntungan, yang bertanggung jawab secara langsung atas perusakan habitat alami yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tak tergantikan, yang dapat menyebabkan bencana bagi kelangsungan hidup semua kehidupan di bumi termasuk manusia. Perusakan lingkungan ini hanya dapat memperburuk prospek perdamaian dunia dengan semakin meningkatkan persaingan yang sudah ketat dalam memperebutkan sumber daya bumi yang terbatas.

Patriarki, yang bersumber dari maskulinitas tradisional, tidak hanya memunculkan pandangan tertentu tentang ekonomi, politik, agama, dan sikap terhadap ibu pertiwi kita. Patriarki juga memiliki ciri-ciri kepribadian tertentu. Karena berfokus pada persaingan dan dominasi, kepribadian patriarki menimbulkan arogansi dan keserakahan, sulit bekerja sama, abai dan tidak menghormati dialog yang bermakna, dan umumnya kurang empati dan kurang mempertimbangkan kebutuhan dan aspirasi orang lain.

Patriarki dan Tesis Oposisi Gender

Sekarang mari kita beralih membahas pilar kedua pandangan patriarki, yaitu konsep oposisi gender. Dengan ungkapan ini saya ingin menyampaikan gagasan bahwa dalam wacana keagamaan (neo)-tradisional (Islam), konstruksi maskulinitas normatif hampir secara eksklusif dibangun dalam kerangka anti-feminitas dan sebaliknya. Teori “oposisi gender” ini telah memunculkan sejumlah kepercayaan dan praktik androsentris—jika tidak sepenuhnya misoginis—yang dikodekan dalam sifat peran dan norma gender yang didukungnya.

Secara khusus, di satu sisi, teori oposisi gender secara konseptual menghubungkan maskulinitas dengan gagasan pengetahuan agama dan otoritas interpretatif, spiritualitas, otoritas baik di ranah publik (contoh: otoritas politik) maupun di ranah domestik (contoh: otoritas keluarga), tingkat kecemburuan seksual yang tidak masuk akal, dan bahkan superioritas ontologis dan biologis. Di sisi lain, menurut teori oposisi gender ini, feminitas secara konseptual dikaitkan dengan berbagai macam kekurangan dan ketidaksempurnaan/cacat, baik dalam ranah otoritas dan spiritualitas keagamaan, rasionalitas, atau segala bentuk kekuasaan dan otoritas.

Selain itu, feminitas sangat terkait dengan seksualitas yang agresif, sangat kuat, dan penuh nafsu yang harus terus-menerus diawasi dan dikontrol secara ketat melalui praktik-praktik seperti jilbab/pengasingan perempuan dan pemisahan gender yang ketat. Feminitas, dan seksualitas perempuan secara khusus, juga dipandang sebagai simbol kehormatan laki-laki.

Oleh karena itu, ini juga terkait secara khusus (dan dengan segala cara dalam pandangan penulis) dengan konseptualisasi kesopanan dan rasa malu perempuan yang membebani dan tercela secara etis, yang mereduksi perempuan dan tubuh mereka menjadi objek kesenangan seksual laki-laki belaka (walaupun para pendukung praktik ini mengklaim sebaliknya).

Terkadang, feminitas dikaitkan secara konseptual dengan inferioritas ontologis dan biologis yang, tentu saja, sangat merendahkan perempuan. Kosmologi gender ini kemudian digunakan sebagai dasar untuk melahirkan hukum, praktik, etika, dan bahkan sistem moral (agama) yang spesifik-gender dengan kesenjangan yang cukup besar antar gender dalam hal hak dan tanggung jawab mereka, di mana otonomi dan agensi perempuan sangat dibatasi. Faktanya, berpedoman pada kosmologi gender seperti itu membuat banyak agensi/otonomi perempuan berada di bawah kendali kerabat laki-laki mereka.

Kehormatan Patriarki

Pilar patriarki lainnya adalah konsep kehormatan patriarki yang telah kita singgung di bagian sebelumnya. Premis dasar dari konsep kehormatan ini adalah bahwa kehormatan patriarki keluarga terletak pada perilaku ‘kaum perempuannya’, terutama perilaku yang dapat ditafsirkan sebagai sifat seksual. Setelah secara konseptual dilekatkan dalam gagasan ‘kategori perempuan’, terutama sisi seksualitas perempuan yang dianggap agresif dan kuat, masyarakat yang menganut kode kehormatan patriarki secara ketat mengatur seksualitas perempuan ini melalui beberapa mekanisme sosio-spasial seperti kerudung/pengasingan perempuan dan pemisahan gender yang ketat.

Pengaturan seksualitas perempuan juga dapat terjadi melalui praktik-praktik seperti pemotongan alat kelamin perempuan (Female Genital Mutilation/FGM) yang alasan utamanya adalah ‘pengurangan’ kenikmatan seksual perempuan sebagai sarana untuk melestarikan ‘kesopanan’ mereka dan mengendalikan nafsu seksual mereka yang menggebu, semua dilakukan demi menjaga kehormatan patriarki.

Praktik pembunuhan demi kehormatan (honour killings) juga didasarkan pada logika kehormatan patriarki yang sama. Sebuah contoh paradigmatik dari pembunuhan demi kehormatan adalah pembunuhan seorang wanita muda, oleh saudara laki-laki atau sepupu laki-lakinya, yang dianggap telah melanggar kode moral masyarakat dengan terlibat dalam perilaku yang biasanya ditafsirkan sebagai perilaku seksual, yang membahayakan kehormatan patriarki keluarga. Ini adalah bentuk kekerasan berbasis kehormatan yang paling ekstrem dan paling kejam melalui ‘pengaturan’ perilaku/seksualitas perempuan sebagai satu-satunya cara untuk memulihkan/menebus kehormatan patriarki yang hilang.

Bersambung….

*Artikel ini diterjemahkan oleh Asep Rofiuddin dari artikel berjudul  Using Progressive Muslim Thought to Take Down Patriarchy. Artikel ini diterjemahkan atas kerjasama Adis Duderija dengan el-Bukhari Institute.

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles