31.1 C
Jakarta
Wednesday, May 25, 2022

Musik Lawas di Dunia tanpa Batas

RagamMusik Lawas di Dunia tanpa Batas
Tangkapan layar koleksi Arsip Bali 1928 di Spotify

Ingin menikmati musik-musik zaman baheula?

Di zaman digital ini, pilihan platform untuk menikmatinya tersebar luas di dunia maya. Kita tinggal buka platformnya, cari, dan mainkan. Salah satu yang bisa jadi pilihan adalah iramanusantara.org.

Platform daring ini menyediakan lebih dari 4.000 lagu sejak tahun 1920an hingga 2013. Pilihan jenis musiknya juga sangat beragam. Hari-hari ini, pada minggu pertama puasa Ramadan 2022, musik pilihan editor bertema Islami. Dari enam album pilihan, empat di antaranya adalah qasidah dan lagu religius. Cocok dengan suasana Ramadan.

Sambil menulis artikel ini, saya coba memutar salah satu pilihan editor. Judulnya Bulan Ampunan dari grup qasidah rebana Al-Qausar. Begitu tombol “play” dipencet, suara rebana ditabuh membuka lagi sepanjang 7:56 menit ini. Dung tak dung dung tak dung. Kentang. Kentung. Kentang. Kentung.

Lalu, lirik pun mengalir.. “Wahai Muslimin Muslimat. Kita sambutlah. Bulan yang suci. Bulan puasaa… Bulan Romadhon..

Alamaaaak. Ingatan langsung kembali mengembara ke tahun 1980-an. Zaman masih ingusan dan akrab dengan lagu-lagu berirama serupa. Zaman di mana musik lebih banyak dinikmati lewat kaset atau radio. Tidak seperti saat ini, tinggal cari di beragam platform digital, seperti Spotify, YouTube, atau Apple Music.

Menurut sampul kasetnya, lagu yang diproduksi Lina Record ini memang diluncurkan pada tahun 1986. Bulan Ampunan hanya salah satu judul lagu sekaligus menjadi nama album ini. Ada tujuh lagu lain bertema sama.

Delapan lagu dalam album Bulan Ampunan ini hanya sebagian dari koleksi yang ada dan bisa dinikmati di situs iramanusantara.org. Semua lagu itu merupakan digitalisasi dari musik-musik zaman baheula dalam bentuk fisik, seperti piringan hitam dan kaset, menjadi berkas musik berformat mp3 atau wav.

“Digitalisasi musik ini bertujuan untuk edukasi dan literasi maupun nostalgia,” kata Windi Rahadya Utama dari Irama Nusantara pada Rabu (6/4) pekan lalu di Denpasar.

Koben, panggilan akrabnya, dan staf Irama Nusantara lainnya hadir di Denpasar untuk melakukan sosialisasi digitalisasi musik. Selain berkunjung ke beberapa pelaku bisnis dan kajian musik, tim Irama Nusantara juga berdiskusi dengan mereka. Dalam diskusi itu, tim Irama Nusantara bercerita bagaimana dan kenapa digitalisasi musik Indonesia itu penting.

Gerilya

Menurut Koben, Irama Nusantara bermula dari kurangnya budaya pengarsipan tentang seni budaya Indonesia. Akibatnya, kita kekurangan referensi dan informasi, termasuk tentang musik populer di negeri ini.

“Masyarakat, terutama anak-anak muda, jadi tidak peduli dengan budaya bangsanya,” kata Koben.

Sejumlah musisi dan penikmati musik Indonesia kemudian berinisiatif mengumpulkan arsip-arsip musik jadul itu. Di antaranya ada David Tarigan, Alvin Yunata, Dian Onno, dan Toma Yovanda. Pada awalnya mereka memulai dengan proyek Radio Kentang sebagai sentra rilisan musik Nusantara. Ada audio, visual, dan tekstual. Proyek itu berkembang dengan lahirnya Indonesia Jumawa, sebelum kemudian menjadi Irama Nusantara seperti saat ini.

Untuk mendigitalkan musik-musik jadul itu, tim Irama Nusantara bergerilya ke berbagai tempat yang memiliki koleksi musik dalam format tak kalah jadulnya. Format jadul itu, berupa piringan hitam, dan kaset. Mereka mencarinya ke toko, kolektor, musisi, ataupun studio musik.

Dari format analog itu, tim Irama Nusantara kemudian mengubah formatnya menjadi dalam bentuk digital. Tak hanya lagu-lagunya, tetapi juga sampul kaset. “Tantangan kami, iklim Indonesia kurang bersahabat untuk arsip fisik sehingga cepat rusak,” tambah Koben.

Tantangan itu, misalnya, piringannya sudah baret baik halus ataupun dalam. Pada kaset, kadang ada yang sudah terkena jamur, pitanya kusut, atau isinya sudah diisi rekaman lain.

Toh, dengan segala tantangannya, sejak 2013 hingga Desember 2021, mereka telah mendigitalkan 5.473 album berisi 52.174 lagu. Sebanyak 4.403 di antaranya telah diunggah di situsweb Irama Nusantara dan bisa diakses publik dengan bebas. Komposisinya 70 persen dalam bahasa Indonesia dan 30 persen bahasa daerah.

Untuk itulah, Irama Nusantara bersama Kementerian Pendidikan, Riset, dan Teknologi kini sedang memperluas cakupan wilayah pengarsipan musik. Setelah sebelumnya dilakukan di Jawa Barat, Jakarta, dan Jambi, kini pengarsipan diperluas ke Medan, Bali, dan Makassar.

Lebih Tua

Di Bali, upaya sama telah dilakukan oleh Arsip Bali 1928. Inisiatif ini merupakan kolaborasi antara Dr Edward Herbst, ITB STIKOM Bali, dan Arbiter of Cultural Tradition dengan pusat arsip dunia. Koleksi ini dikumpulkan dalam bentuk lima volume CD dan DVD yang juga memuat naskah riset Edward sebagai peneliti utama dalam proyek

Marlowe Bandem, Manajer Arsip Bali 1928, menjelaskan, Arsip Bali 1928 melaksanakan tiga fokus utama, yaitu repatriasi, restorasi, dan diseminasi. Reptriasi bertujuan untuk mengembalikan arsip ke negara asal. Restorasi untuk memperbaiki kualitas arsip, termasuk digitalisasi ke berbagai medium, seperti CD, DVD, dan aplikasi multimedia. Adapun diseminasi untuk mengenalkan arsip-arsip itu kepada publik.

Untuk menjangkau lebih banyak arsip, Arsip Bali 1928 juga melibatkan komunitas dalam proses repatriasi. “Kami mendorong warga agar terlibat sehingga terjadi pertukaran arsip sesama warga, termasuk dengan penyimpan arsip di luar negeri,” kata Marlowe.

“Selain musik, kami juga merepatriasi film juga,” tambahnya.

Menurut Marlowe, melalui Arsip Bali 1928, generasi saat ini jadi bisa menikmati karya-karya di masa lalu sekaligus belajar perjalanan karya tersebut, termasuk sejarahnya. Dia mencontohkan beberapa karya klasik tentang Bali yang berhasil direpatriasi justru telah mendorong lahirnya karya-karya baru.

Hingga saat ini, Arsip Bali 1928 yang memulai upayanya sejak 2015, telah mengumpulkan karya-karya zaman baheula baik dalam bentuk musik, film, foto, ataupun media lainnya. Karya zaman baheula itu termasuk piringan hitam 78 rpm dari rekaman bersejarah Odeon dan Beka 1928-29 dengan label beraksara Bali.

Rilisan fisik ini memuat Pupuh Adri yang dilantunkan oleh Ida Boda (Kaliungu, Denpasar), dan merupakan satu-satunya cakram yang tersisa di seluruh dunia. Piringan hitam ini adalah koleksi Arsip Jaap Kunst Archives, University of Amsterdam.

Arsip Bali 1928 juga telah mendigitalkan beragam film 8/16 mm karya Colin McPhee, Miguel Covarrubias, dan Rolf de Maré. Ada pula lebih dari 100 foto terkait masa kesejarahan Bali tahun 1930-an oleh Colin McPhee, Walter Spies, Arthur Fleischmann, Jack Mershon dan lain-lain.

Dan, tentu saja ada musik juga. Arsip Bali 1928 telah mendigitalkan musik-musik Bali sejak tahun 1920-an, lalu menyajikannya di aneka platform musik termasuk Spotify.

Untuk menutup tulisan ini, saya pun mencari koleksi Arsip Bali 1928 itu di Spotify. Hasilnya, ada lima volume musik Bali zaman jadul berupa tembang maupun gamelan. Koleksi ini adalah hasil pemugaran dari kualitas audio piringan hitam koleksi rekaman Odeo & Beka pada tahun 1928-1929 oleh Allan Evans.

Hasilnya, saya seperti menikmati perjalanan waktu, kembali ke Bali hampir seabad lalu. Begitulah memang kekuatan musik dan lagu, bisa dengan mudah menyeret kita melintasi ruang dan waktu. [b]

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles