Mudik, Integrasi Agama-Budaya, dan Iktikaf Sosial | GEOTIMES

by -11 views
mudik,-integrasi-agama-budaya,-dan-iktikaf-sosial-|-geotimes

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, ruas-ruas jalan di setiap daerah akan dipadati lalu-lalang kendaraan dari kota menuju desa atau dari tanah rantau menuju tanah kelahiran. Momen Hari Raya Idul Fitri identik dengan puncak kemenangan untuk kembali menjadi suci dan merupakan momen yang selalu dirindukan oleh seluruh umat muslim untuk berkumpul dengan sanak-keluarga. Salah satu fenomena yang telah membudaya menjelang Idul Fitri adalah tradisi mudik.

Secara harfiah, kata mudik berasal dari kata “udik” yang berarti kampung dan aktivitas yang mempunyai tujuan untuk pulang ke kampung kelahiran dikategorikan sebagai proses mudik. Selain itu, dalam bahasa Jawa Ngoko menyebutkan bahwa mudik berasal dari kata “Mulih Dilik” yang memiliki arti “pulang sebentar”, sehingga dapat dikatakan bahwa mudik merupakan tradisi migrasi sirkuler manusia kembali ke kampung halaman atau tanah kelahiran dan menetap dalam kurun waktu yang singkat.

Dalam kaitannya dengan Hari Raya Idul Fitri, mudik merupakan tradisi dan fenomena sosio-kultural manusia. Sementara itu, Idul Fitri atau Lebaran merupakan momen spiritual sekaligus sosial manusia. Akhmad Baidun dalam artikelnya “Tradisi Mudik Lebaran: Membentuk Karakter “Pemaaf”” menjelaskan bahwa tradisi mudik lebaran merupakan fenomena sosial, kultural, dan psikologi.

Secara sosiologis, mudik lebaran merupakan tradisi masyarakat dari rantau ke kampung halaman. Secara kultural, mudik merupakan tradisi dan tercipta dari habitus manusia. Sedangkan secara psikologis, mudik lebaran merupakan bentuk energi yang menggerakkan (drive), memotivasi, dan mendorong (urge) individu untuk mudik pada hari lebaran. Motivasi dan dorongan psikologis tersebut dapat berupa keinginan melepas kerinduan kepada orang tua dan sanak-saudara sekaligus sebagai salah satu instrumen dalam mengekspresikan kegembiraan melalui interaksi komunal dan medium saling memaafkan antara sesama.

Meskipun dalam ajaran Islam, tradisi mudik menjelang Idul Fitri tidak menjadi sebuah kewajiban dan bukan merupakan sebuah syariat dalam Islam. Akan tetapi, hasil penelitian dari Arribathi dan Aini tentang “Mudik dalam Perspektif Budaya dan Agama (Kajian Realistis Perilaku Sumber Daya Manusia)” menyebutkan bahwa walaupun tradisi mudik Idul Fitri bukan merupakan keharusan dalam ajaran Islam dan tidak dikenal dalam tradisi Islam, secara bahasa Idul Fitri dapat dimaknai sebagai proses “kembali suci” yang berimplikasi pada asal muasal manusia.

Mudik sebagai tradisi tahunan kembali ke kampung halaman menjelang Idul Fitri dapat dimaknai sebagai proses kembali ke dalam diri yang paling dalam, yakni orang tua. Tradisi saling maaf-memaafkan merupakan titik balik kesucian manusia untuk senantiasa merefleksikan segala peristiwa yang dialami dan menjadi pembelajaran ke depannya. Idul Fitri selain sebagai puncak kemenangan umat muslim setelah satu bulan puasa juga sebagai medium iktikaf sosial.

Iktikaf sendiri secara umum merupakan berdiam diri di dalam masjid sebagai suatu ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Secara khusus pada tulisan ini, Idul Fitri yang dimaknai sebagai medium iktikaf sosial merupakan ruang dan proses perenungan manusia atas segala peristiwa dalam kehidupan sosial yang dialami dan mendekatkan segalanya kepada Allah SWT. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dan Peri Kemanusiaan sebagai sintesis hubungan vertikal manusia dengan pemilik-Nya dan manusia dengan manusia lainnya dalam hubungan horizontal merupakan iktikaf yang dijalani manusia di Hari Raya Idul Fitri.

Lebih lanjut, Prof. Abd. Majid, seorang guru besar Universitas Pendidikan Indonesia, dalam tulisannya “Teologi Mudik Lebaran” mendemonstrasikan bahwa Idul Fitri sebagai bahasa agama dan mudik sebagai tradisi kebudayaan manusia mencerminkan otentiknya hubungan antara bahasa dan budaya. Hal tersebut juga telah dibuktikan melalui pandangan beberapa ahli, khususnya dalam disiplin antropologi, Clifford Geertz melalui bukunya “The Interpretation of Culture”: Man is an animal suspended in the webs of significance he himself has spun, I take culture to be those webs. Bahwa kehidupan sosial manusia selalu memiliki jaringan nilai dan makna yang terajut ke dalam suatu bentuk kebudayaan.

Mudik dalam konsep agama dan budaya dikategorikan sebagai suatu peristiwa gerakan moral yang mengintegrasikan ajaran agama dan budaya. Dalam tradisi kebudayaan bugis khususnya di Kabupaten Bone, fenomena mudik memiliki keterkaitan erat dengan konsep falsafah bugis “Lao Sappa Deceng, Lisu Mappadeceng” yang memiliki arti “pergi mencari kebaikan, pulang membawa kebaikan”.

Kendati falsafah tersebut oleh para leluhur suku Bugis diperuntukkan kepada para perantau dari suku Bugis sebagai sebuah Pappaseng (pesan) agar tidak melupakan kampung halaman namun juga berimplikasi pada tradisi mudik. Sebagai contoh, seorang dari suku Bugis merantau ke daerah lain dengan tujuan mencari nafkah, namun dalam kepergiannya terdapat kesalahan yang ditinggalkan seperti tanpa restu orang tua atau terdapat peristiwa yang memaksa mereka untuk meninggalkan kampung halaman kala itu, sehingga salah satu cara mereka untuk menebus segalanya adalah kembali ke kampung halaman untuk memperbaiki semuanya dan Hari Raya Idul Fitri biasanya dijadikan sebagai hari yang tepat untuk mappadeceng (memperbaiki kesalahan) dan saling maaf-memaafkan.

Tradisi mudik selain sebagai fenomena sosial, juga mengandung nilai integrasi keagamaan dan kebudayaan. Dalam konteks ini dipahami bahwa fenomena mudik menjelang Hari Raya Idul Fitri merupakan tradisi kebudayaan di Indonesia dan mengandung nilai bahwa jika sanggup pergi jauh dari kampung halaman menempuh perjalanan, maka perlu pula kembali lebih jauh hingga ke dalam diri masing-masing (Orang Tua).

Selamat ber-Mudik dan keselamatan bagi kita semua di bawah lindungan-Nya!

More

Leave a Reply

Your email address will not be published.