Mimpi Buruk Ganda AS: Duet Maut China Rusia

by -1 views
mimpi-buruk-ganda-as:-duet-maut-china-rusia

Kebijakan luar negeri Rusia telah digerakkan oleh ketidakamanan, sementara kebijakan luar negeri China telah digerakkan oleh momok penghinaan. Kedua negara itu sekarang telah menjalin kerja sama.

Deklarasi baru-baru ini oleh Presiden Amerika Serikat Joe Biden bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin adalah “pembunuh”, serta dampak dari pertemuan AS-China di Anchorage, Alaska, tidak diragukan lagi merupakan pernyataan santun sekaligus keluhan publik Amerika terhadap China dan Rusia.

Namun, menurut analisis Robert G. Rabil di The National Passion, sikap itu terabaikan dalam dunia geopolitik yang amoral dan tidak memajukan kepentingan nasional Amerika.

Faktanya, sikap itu, yang sebagian besar mencerminkan ortodoksi kelembagaan, berisiko meremehkan kemitraan strategis komprehensif China-Rusia, yang kekuatan pendorong utamanya adalah menantang hegemoni global Amerika. Agar dapat mencegah tantangan kemitraan itu, Robert G. Rabil menegaskan dalam analisisnya di The National Passion, AS harus mengejar pendekatan kebijakan luar negeri multilateral yang layak, yang diprakarsai oleh aliansi yang direvitalisasi, dan didasarkan pada kebijakan biner keterlibatan sekaligus pencegahan.

Artikel Robert Kaplan sebelumnya di The National Passion yang bertajuk “Russia Is The United States’s Danger from Hell” menyerukan untuk menerapkan pencegahan tetapi juga menjalin keterlibatan dengan Rusia. Kaplan dalam analisisnya dengan tepat melihat ketidakmampuan Barat membentuk Rusia sesuai citranya.

Kaplan juga secara implisit mengakui, dengan pemahaman yang sedikit berbeda dari pemahaman diplomat Amerika George F. Kennan dan pakar Rusia dari AS Stephen F. Cohen, perambahan Barat di perbatasan Baltik dekat Rusia adalah kesalahan strategis yang memperdalam ketidakamanan Rusia. Meski kebijakan luar negeri Rusia telah digerakkan oleh ketidakamanan, kebijakan luar negeri China telah digerakkan oleh momok penghinaan.

China adalah salah satu peradaban tertua di dunia. Namun, peradaban China dirusak oleh perpecahan internal dan intervensi asing. Masyarakat China mengembangkan filosofi Konfusianisme, Taoisme, dan Legalisme untuk memulihkan ketertiban.

Dalam perjalanannya, Buddhisme menemukan jalannya ke jajaran filosofi China untuk memberikan bantuan dan kenyamanan kepada rakyat dan para pemimpin China dalam membangun Tembok Besar sebagai penghalang melawan penjajah.

Namun, filosofi China maupun Tembok Besar tidak memberikan ketenangan dan kedamaian jangka panjang. Bangsa Mongol menghancurkan Tembok Besar pada abad ketiga belas. Kemudian selama abad ke-19 dan awal abad ke-20, kekuatan asing mengguncang masyarakat China hingga ke intinya. Perang Candu, Perang China-Jepang, serta pemberontakan Taiping dan Boxer membuat bangsa yang bangga itu pun bertekuk lutut. Generation yang sebagian besar didominasi Barat itu dikenal sebagai Abad Penghinaan.

Putin dan Xi Perkuat Aliansi untuk Abad ke-21

Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri presentasi Haval F7 SUV di Kremlin di Moskow, Rusia, 5 Juni 2019. (Foto: Maxim Shipenkov/Pool thru Reuters)

Sebagai ahli strategi politik yang cerdik dan licik, Presiden China Xi Jinping percaya jika negaranya di bawah Mao Zedong menjadi merdeka dan di bawah Deng Xiaoping menjadi makmur, di bawah “era baru” China akan mengalami peremajaan besar menjadi kekuatan besar. Slogan “era baru” mendominasi Kongres Partai Komunis China pada Oktober 2017.

Visinya sejak awal tercermin dalam penampilan publik pertama Xi di Museum Nasional China di Beijing pada November 2012. Xi kala itu berdiri di hadapan pameran seni terkemuka bertajuk “Jalan Menuju Peremajaan”, berbatasan dengan tampilan terkenal lainnya “Abad Penghinaan” dan menggarisbawahi peremajaan besar China yang kontras dengan masa lalunya yang memalukan.

Kebijakan luar negeri China perlu dipahami dengan latar belakang itu. China tidak lagi menjadi sandera terhadap ancaman intervensi asing. Presiden Xi mulai membangun ekonomi dan militer yang kuat, bersama dengan menumbuhkan teknologi canggih dan aliansi yang kuat sambil mempromosikan budaya China. Xi telah berusaha untuk menemukan China di persimpangan benua Asia, Eropa, dan Afrika.

Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) mencerminkan visinya, berkembang pesat untuk mengikat ekonomi China dengan lebih dari 75 negara dari Asia, Eropa, dan Afrika, yang secara whole menjadi rumah bagi lebih dari setengah populasi dunia. China telah mengkalibrasi organ resmi dan non-resmi negara untuk bekerja secara serempak menuju tujuan “peremajaan hebat”.

Menurut laporan tahunan Kantor Menteri Pertahanan AS yang berjudul “Perkembangan Militer dan Keamanan terkait Republik Rakyat China 2020” kepada Kongres AS:

“Republik Rakyat China mengejar Strategi Pembangunan Fusi Militer-Sipil (MCF) untuk “memadukan” strategi pembangunan ekonomi dan sosial dengan strategi keamanannya untuk membangun sistem dan kemampuan strategis nasional yang terintegrasi dalam mendukung tujuan peremajaan nasional China.”

Sementara itu, Rusia telah menjadi bagian integral dari tujuan peremajaan besar China sekaligus internet page kekuatan besar. Kunjungan luar negeri pertama yang dilakukan Presiden Xi setelah menjabat adalah ke Moskow, menandakan peran unik Rusia dalam strategi luar negeri China.

Pada 2001, kedua negara menandatangani perjanjian penting Treaty of Heavenly Neighborliness and Fantastic Cooperation, yang menyetujui filosofi perdamaian dan hidup berdampingan antara kedua negara dan masyarakat. Pada ulang tahun kesepuluh perjanjian, kedua negara meningkatkan hubungan mereka pada kemitraan strategis yang komprehensif.

Kemudian pada Mei 2014, Xi menyambut mitranya Presiden Rusia Vladimir Putin di Shanghai, di mana mereka menandatangani Pernyataan Bersama China-Rusia tentang Tahap Baru Koordinasi Kemitraan Strategis Komprehensif.

Lewatlah sudah hari-hari ketegangan antara China dan Rusia. Sejak kehancuran Uni Soviet, hubungan China-Rusia secara bertahap berkembang dan meningkat secara drastis, menyusul sanksi Barat terhadap Rusia setelah krisis aneksasi Rusia atas Krimea di Ukraina.

Rusia melihat China sebagai mitra yang dapat diandalkan untuk membantu melewati sanksi, sementara China melihat krisis sebagai peluang untuk memperdalam kerja sama energinya dengan Rusia dalam persyaratan yang menguntungkan.

China telah berinvestasi dalam beberapa proyek energi di Rusia, termasuk proyek gas alam cair Yamal di Kutub Utara, yang kapasitas produksinya sekitar 16,5 juta metrik ton per tahun. China telah mendukung eksploitasi Rusia atas sumber daya alam Kutub Utara yang murni yang disediakan oleh pencairan es laut di Kutub Utara. Saat es surut, Kutub Utara telah menawarkan China perbatasan pengiriman baru melalui Rute Laut Utara, yang telah dimiliterisasi oleh Rusia.

China juga memandang Rusia sebagai penyedia teknologi militer canggih. Secara signifikan, China dan Rusia telah menjalin hubungan pertahanan yang luas yang mencakup postur senjata nuklir “jangan menyerang terlebih dahulu” timbal balik, latihan militer bersama, serta kerja sama melawan separatisme, terorisme, dan ekstremisme agama (Kaukasia, Chechnya, Xinjiang). Pada 2018, China dan Rusia mengikuti Latihan Militer Vostok, latihan militer terbesar dalam 40 tahun.

Saat ini Rusia maupun China memandang Amerika Serikat sebagai ancaman utama bagi kepentingan keamanan nasional mereka. Ancaman itu, yang ditekankan oleh ketakutan kedua negara terhadap kekuatan global hegemoni AS, menurut analisis Robert G. Rabil di The National Passion, telah menjadi faktor penentu dalam menstabilkan kemitraan strategis mereka. Semakin AS memperlakukan mereka sebagai musuh, semakin kemitraan mereka terbantu dalam realitas geopolitik yang menyelaraskan kepentingan ekonomi, diplomatik, dan keamanan mereka.

Sementara itu, China merebut peran AS sebagai eksportir dunia yang dominan. Berdasarkan paritas daya beli, PDB China telah melampaui Amerika, sehingga menjadikan ekonomi China yang terbesar di dunia. Tidak diragukan lagi, pertumbuhan perdagangan global China telah memberi negara itu pengaruh atas hubungan AS dengan para sekutu dekat seperti Uni Eropa dan Dewan Kerja Sama Teluk Arab (GCC), yang meliputi Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, dan Bahrain.

Terlepas dari kenyataan bahwa Uni Eropa telah melampaui Amerika sebagai mitra dagang terbesar China, UE dan China pada prinsipnya menyimpulkan negosiasi Perjanjian Komprehensif tentang Investasi, yang memberi para investor UE akses yang lebih besar ke pasar China. China tidak hanya menjadi mitra dagang terbesar dengan GCC, tetapi bahasa China juga telah menjadi persyaratan kurikulum di sebagian besar negara GCC.

Dengan mempertimbangkan semua ini, Amerika Serikat harus memahami perubahan struktural dan relasi yang sedang dialami sistem internasional. Kekuatan lunak global China yang berkembang dan sumber daya Rusia yang melimpah, ditopang oleh kecakapan militer mereka, telah merusak pengaruh internasional Amerika.

Akibatnya, AS harus merevitalisasi aliansinya, terutama Aliansi Transatlantik, memberdayakan kekuatan lunaknya, merebut kembali kepemimpinan globalnya, dan mengejar pendekatan kebijakan luar negeri multilateral yang didasarkan pada realisme.

Dalam hal itu, didukung oleh aliansi global yang dipimpin Amerika Serikat, AS sebaiknya segera bersiap menghadapi tantangan individu atau biner Rusia dan China, sementara pada saat yang sama menjalin keterlibatan dan menghalangi mereka tanpa menjadikan mereka musuh.

Mantan Asisten Menteri Pertahanan AS untuk Urusan Keamanan Internasional Joseph Nye Jr. dengan cerdik pernah berkata: “Jika Anda memperlakukan China sebagai musuh, China akan menjadi musuh.” Sebaliknya, jika Rusia adalah musuh bebuyutan Amerika, Robert G. Rabil menyimpulkan di The National Passion, China musuh Amerika yang menimbulkan lebih banyak ancaman.

Penerjemah: Fadhila Eka Ratnasari

Editor: Aziza Larasati

Keterangan foto utama: Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin di West Lake Articulate Visitor Residence pada 4 September 2016 di Hangzhou, China. (Foto: Getty Pictures/Wang Zhou, Pool)

Mimpi Buruk Ganda AS: Duet Maut China Rusia

Amerika Serikat, China, Hubungan China Rusia, Kebijakan Luar Negeri AS, Rusia

Leave your vote

263 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *