Merawat Semangat Keindonesiaan dan Keislaman: Dakwah Nusantara Tuan Guru Bajang

by -5 views
merawat-semangat-keindonesiaan-dan-keislaman:-dakwah-nusantara-tuan-guru-bajang


Suprapto


Suprapto Follow

Direktur Mataram Mediation Center (MMC) Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram



3 min read

Resensi buku ini sengaja saya tulis ketika saya diminta untuk menjadi salah pembicara pada kegiatan Seminar dan Bedah Buku Dakwah Nusantara Tuan Guru Bajang di aula Kantor Walikota Mataram beberapa hari lalu.  Buku  setebal 268 halaman ini berisi tentang reportase perjalanan Dakwah Tuan Guru Haji Muhammad Zainul Majdi, atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang, disingkat TGB. TGB merupakan hafiz,  dari Lombok, doktor ilmu tafsir alumni Al Azhar Kairo Mesir  yang sukses menjadi Gubernur NTB selama dua periode, 2008-2018.

Di sela-sela kesibukannya mengemban amanah sebagai Gubernur, cucu pendiri Nahdliatul Wathon (NW) ini tetap aktif berdakwah tidak hanya di wilayah NTB tetapi juga di banyak tempat di Indonesia. Respons publik beragam. Banyak yang memberi apresiasi terhadap safari Dakwah Nusantara ini.  Namun tak sedikit yang mencibir dan nyinyir. Menyebut bahwa apa yang dilakukan TGB tak lebih hanya mencari sensasi, mengampanyekan Jokowi. Dokumentasi aktivitas dakwah inilah yang kemudian diabadikan dalam bentuk buku.

Buku ini ditulis oleh Febrian Putra, seorang jurnalis yang santri alumni pondok pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar dan Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang.  Lazimnya karya jurnalistik, buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang mengalir, renyah dan enak dibaca.  Secara etnografi, Febrian berhasil mengajak pembaca seolah ikut terlibat dalam rombongan safari dakwah TGB. Mengunjungi tempat-tempat penuh berkah seperti pondok pesantren di Jombang, Pamekasan, makam ulama hingga ruang seminar di kampus-kampus ternama di seantero negeri. Boleh dibilang ini semacam spiritual and academical journey.

Membaca buku ini, saya jadi ingat kata Mas Hernowo yang menulis andai buku itu sepotong pizza, ia bisa dinikmati dari sisi mana pun. Buku ini dapat dibaca di bagian depan atau di bab-bab akhir tanpa harus runtut membaca dari awal.  Titik lemahnya, banyak kalimat yang di ulang di beberapa tempat termasuk pengulangan  paragraf (hal 25-26).

Satu hal yang membedakan buku ini dengan karya jurnalistik lainnya adalah soal konten. Pembaca tidak hanya disuguhkan keseruan perjalanan dakwah TGB, tetapi yang terpenting adalah materi dakwah yang disampaikan sang tokoh. Tebaran mutiara hikmah dalam bentuk TGB Quote dapat dijumpai di hampir tiap lembar buku terbitan Inti Grafika Sukses Mulia.

Dari sisi konten, sesuai judulnya, materi dakwah TGB berpusat pada ikhtiarnya membangun spirit kebangsaan dan keislaman dalam satu tarikan nafas. Merawat keindonesiaan adalah bagian tak terpisahkan dengan upaya merawat keislaman. Menjaga keutuhan NKRI merupakan sarana atau wasilah strategis agar semua umat dapat melaksanakan keislaman secara nyaman, aman dan damai. Semangat inilah yang dominan menghiasi materi dakwah TGB. Inilah misi utama TGB dalam mendakwahkan Islam Wasatiyah. Semangat keberagamaan yang moderat, meneguhkan visi Islam rahmatan li al-alamin. Wajar bila TGB pernah mendapat anugerah Moderasi Beragama dari Grand Syaikh Al-Azhar.

Pilihan moderasi beragama melalui Islam Wasathiyah merupakan hal urgen dan mendesak untuk terus menerus dikembangkan setidaknya beberapa alasan. Pertama, adanya gempuran ideologi Islam trans-nasional yang terus menerus menyasar generasi muda muslim termasuk di Indonesia. Kuatnya utopia kalangan hard liner Islam yang ingin membangun kembali romantisme masa lalu dengan mengusung konsep khilafah. Sebuah konsep yang tercerabut dari akar kultural tempat Islam berkembang.

Kedua, polarisasi masyarakat Indonesia yang terbelah akibat proses politik seperti pemilihan presiden. Seperti kita maklum, perbedaan politik telah menimbulkan friksi tajam di masyarakat. Tensi politik sejak naiknya Presiden Jokowi dan semakin memanas pada pemilihan periode kedua telah membelah masyarakat menjadi dua kubu; pendukung Prabowo vs pendukung Jokowi.

Ketegangan menjelang Pilpres terus terasa hingga kini, meskipun kedua pasangan capres saat ini telah ber-satu dalam barisan kabinet Jokowi. Para pendukung  fanatik  seolah lupa pemeo klasik bahwa dalam politik tak ada lawan atau kawan yang abadi. Yang abadi adalah kepentingan.

Dalam soal politik, TGB mengingatkan “tidak usah dibawa dalam hati, kalau sakit sembuhnya lama. Cukup dibawa ke kepala saja, kalau  sakit cukup sakit kepala’ (hal. 169). Ketiga, praktik Islam Wasathiyah di Nusantara dapat dijadikan salah satu tawaran membangun relasi mutualistik antara agama dan negara. Mengingat masih banyak umat Muslim yang gagal menempatkan hubungan yang pas antara agama dan negara.

Keempat, para elit agama perlu memberi teladan dan bersikap dewasa dalam beragama atau meminjam istilah R Scot Appleby sebagai “religious literasi”. Kedewasaan beragama merupakan kunci dalam mengembangkan toleransi genuine dan modal berharga merajut kerjasama lintas iman.

Merawat Indonesia, mengembangkan rekonsiliasi, merajut persaudaraan  adalah tugas utama setelah pesta demokrasi usai. Indonesia merupakan anugerah Tuhan yang diberikan kepada  bangsa ini. Kedamaian dan keharmonisan mutlak dijaga dan dirawat. Jangan sampai rumah besar bernama Indonesia ini terkoyak akibat konflik politik disertai kekerasan (violence conflict) seperti di negara lain termasuk yang kini melanda sejumlah negara Islam di Timur Tengah.

Semangat cinta tanah air, membangun saling pengertian, mengembangkan silaturahmi kebangsaan merupakan tema sentral yang diulas dalam buku yang diberi label vol.1 ini. Di luar tema ini, konten dakwah TGB disesuaikan dengan audiens (mad’u) di setiap tempat yang ia kunjungi.

Seperti nasehat  TGB kepada para santri untuk semangat dalam menuntut ilmu di pesantren, menghormati ulama dengan al-akhlaq al-karimah, mendorong mereka untuk terus bermimpi meraih cita-cita tertinggi sembari mengingatkan pentingnya peran pemuda untuk berkiprah memberi kontribusi nyata bagi bangsa dan negara. Berislam secara ramah sesuai visi Islam yang rahmatan lil alamin. Santun di dunia maya dan nasehat-nasehat berharga lainnya. Kritik terhadap kelompok yang memiliki pemahaman keagamaan yang literalis dan tekstualis juga menjadi materi dakwah cucu pendiri Nahdlatul Wathon (NW) ini,

Hanya saja, bagi pembaca yang mengharapkan pemikiran utuh TGB di bidang keagamaan dan pemerintahan, siap-siap untuk sedikit kecewa. Di buku ini, pikiran dan pandangan TGB disampaikan secara sepotong-potong. Tidak utuh. Pemikiran TGB yang dilengkapi dengan data valid dan rujukan referensi semisal dari kitab-kitab klasik (al-turats)-yang sejatinya merupakan otoritas TGB- tidak bisa ditemui.

Saya kira banyak pembaca menunggu bagaimana strategi TGB -sesuai dengan nilai-nilai Islam Wasatiyah- merajut persaudaraan antar maupun intra umat bearagama. Termasuk bagaimana langkah konkret TGB dalam mengembangkan rekonsiliasi (islah) di tingkat nasional, regional dan terutama konflik di tingkat lokal. Sebagaimana tertulis dalam salah satu quote TGB, “Silaturahmi kebangsaan, keislaman dan keilmuan merupakan salah satu tradisi baik dalam mengokohkan anak bangsa”.

Judul Buku       : Dakwah Nusantara Tuan Guru Bajang Islam Wasathiyah

Penulis             : Febrian Putra

Tebal               : 268 halaman

Penerbit          : CV. Inti Grafika Sukses Mulia

Tahun Terbit   : 2020

Leave your vote

674 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia #RumahBlogInspirasi #KabarWarga #MenabarInformasiAntiBasi Official Kabarwarga

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *