Menyelami Percikan Dakwah Mbah Muntaha Kalibeber Wonosobo

by -0 views
menyelami-percikan-dakwah-mbah-muntaha-kalibeber-wonosobo

Secara geografis, Kalibeber merupakan sebuah kelurahan yang dibatasai oleh dua buah sungai, yaitu Sungai Serayu (Barat) dan Sungai Prupuk atau kali Prupuk (Timur). Ada juga Kaliireng dan Desa Wonokromo (Utara) serta Desa Sukorejo (Selatan).

Secara administratif, Kalibeber merupakan Ibukota Kecamatan Mojotengah Kabupaten Wonosobo. Kalibeber saat ini sungguh jauh berbeda dengan kondisi di akhir tahun 1980-an. Sebelum tahun 1990-an Kalibeber lebih identik dengan masyarakat tradisionalis dalam pola kehidupannya, tidak jauh dengan kondisi pedesaan umumnya di Indonesia.

Secara kasat mata dapat terlihat bentuk bangunan rumah penduduknya, bahkan pemahaman ajaran agamanya, menunjukkan masyarakat yang mengalami pembaharuan dalam cara kehidupannya. Bahkan, polesan kehidupan itu menjalar ke daerah sekelilingnya dengan malampaui batas sekat wilayah dan budaya.

Namun Kalibeber saat ini, sungguh kontras dengan dekade 90-an awal. Saat ini Lebih terkesan masyarakat Kalibeber sebagai daerah yang maju bahkan bisa dikatakan mengungguli daerah yang lainnya. Mulai dari cara berfikir, pola kehidupan, relasi sosial, dan kondisi ekonomi masyarakatnya.

Singkatnya, berubah wajah menjadi yang sedemikian maju. Kondisi tersebut tidak bisa lepas dari peran serta Al-Maghfurlah KH. Muntaha Al-Hafidz. Orang Wonosobo sering menyebutnya Mbah Mun. KH Muntaha Al-Hafidz lahir sekitar tahun 1910M di Kalibeber, Mojotengah, Wonosobo, dan wafat pada hari Rabu, 29 Desember 2004. Beliau adalah ulama multidimensi yang mempunyai segudang ide dan pemikiran cemerlang yang bisa dijadikan sebagai pelajaran bagi ulama lainnya. KH Muntaha adalah putra dari KH Asy‘ari bin KH Abdurrahim bin K. Muntaha bin K. Nida Muhammad dan Ibunya bernama Hj. Syafinah.

KH Muntaha menuntaskan hafalan Al-Qur’an saat berumur 16 tahun di Pondok Pesantren Kauman, Kaliwungu, Kendal, di bawah asuhan KH Usman. Setelah selesai menghafal Al-Qur’an beliau memperdalam ilmu-ilmu Al-Qur’an di Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak asuhan KH Munawwir ar-Rasyad. Selanjutnya KH Muntaha berguru kepada KH Dimyati Termas di Pacitan, Jawa Timur, dan pada tahun 1950 kembali ke Kalibeber untuk melanjutkan estafet kepemimpinan ayahnya dalam mengasuh Pondok Pesantren al-Asy‘ariyyah.

Mbah Mun yang Dicintai Masyarakat

Di antara deretan ulama di tanah air, nama Mbah Muntaha tentu bukan nama yang asing. Ulama yang asli dari Kalibeber ini hobi bermain bola sewaktu muda. Cukup kontras dengan kehidupan di hari tuannya, dia adalah sosok yang penuh dengan keterusterangan sikap dan ucapan. Beliau merupakan salah satu ulama yang kharismatik. Di samping lugas dalam berbicara, tegas dengan sesuatu yang tidak sesuai, juga mempunyai rasa yang sangat tresna dan ngemong terhadap umat. Dengan keteguhan jiwa orang yang menemukan dirinya sendiri, Mbah Mun menjadi sangat dihormati semua orang, dicintai santri-santrinya, disegani kawan-kawannya.

Sekalipun demikian kehidupan Mbah Mun adalah sosok yang sangat sederhana. Kesedarhanaan hidupnya menjadi contoh bagi setiap orang yang kekurangan akibat terpaan dalam cobaan hidup. Dan bagi orang yang berada, Mbah Mun menjadi sosok yang harus ditiru dalam ke-zuhud-an sikapnya. Barangkali dari karakter beliau yang istimewa ini, orang-orang yang mengenalnya menjadi lebih betah berlama-lama ingin bersama.

Hal itu dapat dilihat dari megahnya bangunanan Pondok Pesantren, pendidikan formal SMP dan SMA Takhassus Al-Qur`an serta Univeritas Sains dan al-Qur’an (UNSIQ) yang sebelumnya Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ), sewaktu beliau masih menjabat sebagai Rektor. Namun kesederhanaan beliau tampak dalam kehidupan yang menempati sedikit ruangan untuk sekedar beristirahat dan menerima tamu. Walaupun secara materi, Mbah Mun tergolong berkecukupan, bahkan tergolong kaya, namun lebih memilih hidup sederhana.

Kesederhanaan: Dakwah Santun Kiai Muntaha al-Hafiz

Pakaian kesehariannya lebih menyukai pakaian yang berwarna putih, mulai dari sarung, peci, dan serban yang sering dipakai merupakan bukti lain dari kebersahajaan beliau dalam kehidupan. Agaknya semua manifestasi lahiriah tersebut merupakan penyingkapan dari proses penyerbukan panjang benih-benih ruhaniah religius Mbah Muntaha. Bahkan oleh sebagian kalangan beliau dinobatkan sebagi orang yang telah menempati maqam (tingkatan) tertentu dalam kehidupan tasawuf.

Bagi masyarakat sekitar, Mbah Mun adalah magnet sekaligus semen perekat yang membuat kohesivitas sosial, dan benar-benar menjadi strum dalam kehidupan sosial. Dalam realitasnya, memang secara gemilang telah malahirkan sebuah religius al-Qur`an sebagai motornya. Mbah Muntaha memberikan cahaya ilmu Allah melalui pesan-pesan mulia al-Qur’an. Sekalipun otoritatif dalam keilmuannya di bidang al-Qur’an, kesederhanaan beliau menjadi nilai dakwah yang mengesankan masyarakat.

Dalam etape pengabdiannya beliau terlihat ikhlas, tulus, dan tanpa pamrih. Oleh Sebab itu, pantas jika banyak kalangan yang berebut mendatangi ndalemnya, mulai dari rakyat biasa hingga para pejabat, bahkan Presiden sowan kepada beliau untuk mencium jemari tangan lembutnya sekadar meminta dawuh-dawuh, pitutur, pituduh, serta nasihat atas pemecahan berbagai belitan masalah yang melanda.

Tatapan matanya, raut wajahnya, teduh dan mendamaikan setiap orang yang memandang atau di dekatnya. Serta tutur katanya yang menyejukkan seakan membasuh pekarangan batin umat yang kering kerontang. Akhlak yang ditampilkan olehnya, terpancar untuk menyantuni segenap lapisan masyarakat yang tidak pernah lekang dalam ruas-ruas perjuangan beliau. Inilah sosok Simbah Kiai Muntaha al-Hafiz, ulama dari Kalibeber, Wonosobo yang dirindukan keteladanannya.

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia. Kami bukan penulis, kami adalah baris-baris kode yang menghimpun tulisan bermutu yang berserakan di jagat maya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *