Menumbuhkan Benih Sains: Mengumpamakan Informasi Sebagai Kebun Dalam Mengatasi Misinformasi

by -0 views

Lebih dari 47% penduduk dunia – dan lebih dari 45% penduduk Indonesia – telah menerima dosis pertama vaksin COVID-19; perlahan kita menuju herd immunity.

Sayangnya, laju yang baik ini dapat terganggu akibat misinformasi terkait vaksin yang membuat sebagian orang enggan divaksin.

Saat kita berusaha mengatasi masalah misinformasi vaksin dan seringkali tidak berhasil. Ini karena keengganan menerima vaksin, seperti halnya semua masalah misinformasi, adalah masalah kompleks. Untuk mengatasinya, kita perlu memikirkan bermacam pengaruh faktor berbeda yang bersifat sistemik dan saling terkait. Kita bisa mengatakan masalah ini bersifat ekologis.

Kita hidup di lingkungan informasi yang semakin kompleks dan terpengaruh oleh sistem-sistem dan proses-proses dinamis yang beririsan. Berkebun bisa jadi sebuah perumpamaan yang baik untuk memahami bagaimana misinformasi bisa dilihat sebagai bagian dari ekosistem informasi.

Read more: 27% penduduk Indonesia masih ragu terhadap vaksin COVID-19, mengapa penting meyakinkan mereka

Menabur benih sains vaksin Dalam metafora berkebun ini, benih pengetahuan adalah sains soal vaksin. Dan benih ini bisa dipengaruhi berbagai faktor.

Keyakinan dan pengetahuan individu adalah tanah di kebun yang harus subur agar benih bisa mengakar. Di dalam ekologi informasi, tingkat kesuburan tanah untuk menumbuhkan gagasan tentang keamanan dan keefektifan vaksin bergantung pada sejarah dan pengalaman individu, pendidikan, nilai-nilai yang dianut and perspektif hidup

Sebagian besar upaya menangkal misinformasi cenderung menyasar individu pengguna informasi atau platform media sosial. (Shutterstock) Kelompok masyarakat dan hubungan dalam masyarakat adalah pengunjung kebun yang baik atau berbahaya (misalnya serangga yang membantu penyerbukan atau justru hama). Pengunjung ini menentukan apakah tanaman bisa tumbuh dan berkembang. Influencer bisa menjadi serangga baik atau jahat yang bisa membantu atau menghalangi informasi vaksin.

Peraturan dan kebijakan pemerintah adalah tukang kebun yang membantu menyingkirkan tanaman pengganggu sebelum mengakar di tanah. Kebijakan yang memandu bagaimana media sosial seharusnya merespon misinformasi atau yang mempengaruhi konsolidasi media penting dalam menyingkirkan gulma misinformasi dalam ekologi informasi.

Kebijakan yang memperkuat atau melemahkan pendidikan publik juga berperan. Warga negara perlu memiliki pemahaman yang baik tentang sains dan memiliki akses pada media yang menyediakan informasi terbaik tentang vaksin.

Terakhir, budaya adalah matahari dan hujan yang melingkupi kita semua dan dapat membantu informasi tumbuh subur, atau membuat informasi kering dan rentan terhadap misinformasi. Ide-ide budaya seperti “pasar gagasan” – asumsi bahwa kompetisi informasi selalu membuat gagasan yang paling baik saja yang mampu bertahan – justru dapat menyediakan lahan subur bagi pertumbuhan misinformasi.

Dalam perumpamaan ini, misinformasi adalah spesies perusak. Misinformasi dapat mengakar jika menemukan kondisi yang cocok, dan lalu sulit sekali dihilangkan.

Mempertimbangkan keseluruhan lingkungan informasi Upaya menangkal misinformasi cenderung menyasar individu pengguna informasi atau platform media sosial. Upaya ini berharap orang-orang akan menolak misinformasi ketika mereka menjumpainya, menekankan pada literasi informasi dan digital individu, dan fokus pada perbaikan teknis yang bisa dilakukan oleh platform untuk menghentikan penyebaran misinformasi.

Upaya semacam ini jelas penting, namun tanpa upaya yang berbasis pemerintah dan budaya, maka solusi individual dan platform jadi kurang efektif – kita perlu semua bagian dari ekosistem informasi untuk bergerak bersama.

Kembali pada metafora berkebun tadi, jika kita punya tanah yang baik dan serangga yang berguna, tapi tanpa tukang kebun untuk mencabut gulma, tanpa matahari atau air, benih kita tidak akan tumbuh.

Shutterstock Menumbuhkan benih kita Apa artinya ini bagi mereka yang mempelajari informasi? Ini artinya riset dan inisiatif yang menyasar psikologi dan keyakinan individu yang menggerakkan informasi harus berlanjut, seiring dengan pendekatan berbasis platform teknologi dan komunitas – misalnya #ScienceUpFirst, sebuah inisiatif yang mendorong ilmuwan untuk berpartisipasi dalam komunikasi publik tentang karya mereka.

Tapi selain taktik ini, ilmuwan dan komunikator sains yang ingin mengatasi misinformasi vaksin juga perlu melihat intervensi kebijakan dan budaya.

Seperti apa? Di sisi kebijakan, pendekatan seluruh masyarakat yang ditawarkan ilmuwan sosial Joan Donovan menunjukkan bahwa kelompok masyarakat sipil dapat melawan misinformasi dengan bekerja sama dengan warga, tenaga kesehatan, dan platform teknologi.

Serupa dengan itu, sudah waktunya ilmuwan bekerja lebih banyak dalam memahami hubungan antara, misalnya, pendanaan sekolah dan misinformasi, atau deregulasi media dan misinformasi. Para jurnalis mengatakan mereka melihat adanya hubungan-hubungan ini, tapi yang paling penting adalah mencari cara untuk mempelajarinya.

Di sisi budaya, kita perlu memikirkan bagaimana kita melakukan pendekatan terhadap kerangka budaya semacam pasar gagasan. Ilmuwan perlu memperjelas peran-peran kerangka semacam ini dalam melindungi misinfomasi yang merusak.

Pembuat kebijakan dan jurnalis perlu membahas kebebasan berpendapat lewat cara-cara yang membuat kita mampu melawan pendapat berbahaya seperti misinformasi dan yang melecehkan.

Upaya ini memerlukan pemahaman dan menemukan cara yang yang lebih baik dalam mengkomunikasikan bagaimana gagasan-gagasan beririsan dengan kekuasaan dan uang – yang sudah berada di luar dikotomi “lebih banyak pendapat itu baik vs kurang pendapat itu buruk”.

Jika perhatian yang diberikan pada elemen individual dan platform diberikan juga pada elemen kebijakan dan kebudayaan terkait ekosistem misinformsi, maka kita akan mampu memastikan bahwa benih komunikasi sains kita akan mendapat cahaya, air, dan perawatan agar bisa subur, dan misinformasi bisa dicabut sebelum sempat berakar.

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia. Kami bukan penulis, kami adalah baris-baris kode yang menghimpun tulisan bermutu yang berserakan di jagat maya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *