Menimbang Metode Kritik Hadis Syaikh Al-Albani (1914-1999); Catatan Singkat Bedah Disertasi

by -3 views
menimbang-metode-kritik-hadis-syaikh-al-albani-(1914-1999);-catatan-singkat-bedah-disertasi

Harakah.idMetode kritik hadis Syaikh Al-Albani memang mengundang banyak kontroversi. Banyak ulama dan kritikus hadis yang mengkritik penilaian dan cara Al-Albani dalam mengkaji hadis.

Nama Syaikh Muhammad Nashir al-Din al-Albani tidak bisa dilepaskan dari diskursus kajian hadis kontemporer. Puluhan karya tulis, baik yang mengkritik maupun yang mengaguminya terus bermunculan. Satu di antaranya adalah disertasi Kamaruddin Amin yang berjudul “The Reliability of Hadith Transmission; A Reexamination of Hadith Critical Methods” (2005). Disertasi ini ditulis untuk menyelesaikan studi di Bonn University Jerman. Satu sub bab di dalamnya, fokus membahas dan menguji keakuratan metode kritik hadis Syaikh Al-Albani. Kamaruddin menunjukkan kelebihan sekaligus keterbatasannya.

Bagi Kamaruddin, metode kritik hadis yang digunakan oleh Syaikh Al-Albani tidaklah baru. Metodenya sama dengan metode kritik hadis tradisional yang telah ada. Bahkan Syaikh Al-Albani menerapkannya relatif konsisten. Tidak sebagaimana yang diklaim oleh para pengkritiknya. Namun demikian, di titik ini pula, terdapat keterbatasannya. Penerapan kritik hadis Syaikh Al-Albani terlalu umum. Implikasinya, akan ada 125 hadis di dalam Shahih Muslim yang akan dinilai lemah (dhaif). Padahal, metode kritik hadis yang digunakan oleh Imam Muslim (204-261 H) tidaklah sesederhana yang dipahami Syaikh Al-Albani.

Terlepas dari itu, sebagai pembanding, kita akan menelaah tulisan Stephane Lacroix yang berjudul “Al-Albanis’s Revolutionary Approach to Hadith” (2008). Secara lugas, Lacroix memaparkan cukup detail mengenai biografi, posisi intelektual, dan tema-tema kontroversi kunci yang dimunculkan oleh Syaikh Al-Albani. Bagi sebagian pengikutnya, khususnya di kalangan Wahabi, Syaikh Al-Albani menyisakan posisi paradoksal yang problematis.

Di satu sisi, Syaikh Al-Albani diakui sebagai satu di antara tiga nama rujukan utama (thrid main contemporary reference), yakni setelah Syaikh Abd al-Aziz bin Baz (1909-1999) dan Syaikh Muhammad bin ‘Ustaimin (1928-2001). Namun di sisi lain, Syaikh al-Albani sangat kritis dan vokal mengkritisi dominasi Wahabi di Arab Saudi. Bahkan, tokoh ini akhirnya dipulangkan ke negara asalnya (Syiria). Setelah hanya sekitar 2 tahun (1961-1963) diterima di Arab Saudi.

Lantas seperti apa sepak terjang perjalanan intelektual Syaikh Al-Albani, yang pada akhirnya, mengantarkannya mendapatkan sorotan dari banyak kalangan? Metode kritik hadis seperti apa yang beliau usung, sehingga berani menghukumi dhaif (lemah) hadis yang terdapat dalam kitab Shahih Muslim?

Sambil menikmati seduan kopi hangat di malam minggu ini, mari kita berbincang sejenak.

Leave your vote

631 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia theplieh

saya adalah admin di https://t.co/m6Yub2LJMv

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *