Menghumorkan Kekeliruan Kekuasaan – Alif.ID

by -3 views
menghumorkan-kekeliruan-kekuasaan-–-alif.id

Ada salah satu dalil yang barangkali telah diketahui masyarakat umum bahwa setiap kekeliruan mengandung kelucuan. Namun dalam beberapa hal kelucuan tidak selalu meledakkan gelak tawa kegembiraan melainkan juga menyulut kemarahan. Kemarahan atas suatu humor barangkali disebabkan karena sepatutnya kelucuan hanya boleh sampai pada tataran abstraksi – artinya kelucuan tidak selalu musti dihumorkan dalam bentuk lisan, tulisan, gambar atau sikap dan tindakan nyeleneh yang pada beberapa kasus humor tersebut tidak hanya mempreteli logika umum tetapi juga humor itu berpotensi mengancam citra diri yang telah ia bangun dan kekuasaan yang telah ia sakralkan.

Melalui buku Abu Nawas and King Aaron yang diceritakan ulang oleh Sugeng Hariyanto ini pembaca diajak untuk mengamati kepiawaian Abu Nawas menghumorkan wajah jahil kekuasaan! Pada cerpen pembuka yang berjudul A Fair Share humor tidak hanya dijadikan sebagai senjatanya orang-orang lemah tetapi juga digunakan untuk membahasakan kosakata mbalelo yang tidak ada dalam kamus kekuasaan.

Dikisahkan setelah Ayah Abu Nawas yang seorang Kadi wafat, berdasarkan titah Sultan, mau tak mau Abu harus menggantikan Ayahnya. Menariknya, Abu mencoba mencari cara untuk mengelak titah tersebut. Dalam hal ini Abu seakan memandang kekuasaan sebagai amanah yang tidak dapat dianggap main-main karena kekuasaan dapat saja menjadi anugerah atau justru masalah. “He was confused because he did not want to replace his father position” (halaman 7).

Singkat cerita Abu dipanggil untuk menghadap Sultan, namun sebelum memasuki pintu istana seorang penjaga meminta “jatah” setengah dari apapun yang Sultan berikan untuk Abu. Abu menyanggupinya. Namun naas pada pertemuan di istana tersebut Abu mendapat 20 cambukan rotan karena tidak memberi jawaban titah Sultan bahkan dirasa telah mengejeknya dengan menari sepeti orang gila. Sesuai janji Abu, setelah ia diusir meninggalkan istana Abu membagi setengah hadiah atau 10 cambukan rotan kepada penjaga gerbang istana yang bermental korup itu! Cerita ini hendak menegaskan bahwa satu orang yang memiliki kemampuan membagi keadilan lebih dibutuhkan daripada seratus aparat mata duitan sebagai cara menjaga kekuasaan tersebut.

Selain menghumorkan wajah jahil kekuasaan, Abu Nawas juga cerdik menghumorkan wajah acuh kekuasaan. Pada judul The King Became a Slave humor justru digunakan sebagai cara berdiplomasi – memayorkan suara yang minor. Dikisahkan ketika di bawah rindang pohon Abu tengah mengaso setelah usahanya mencari kerja nihil, ia ketiban apes. Ia digelandang oleh orang asing yang kekar dan hendak dijadikan budak untuk menggarap lahan pertanian orang asing itu. Abu berhasil lolos dengan kecerdikan seni negosiasinya. Ia menawarkan akan membawa pengganti yang lebih kuat daripada dirinya. Singkat cerita keesokan harinya dengan seni diplomasinya Sang Sultan lah yang menjadi penggantinya. Walhasil Sultan yang tidak tahu telah diakali Abu dan baru sadar setelah mengalami ketertindasannya menjadi berang. Setelah kembali ke istana dipanggilah Abu hendak dihukum. Namun kecerdasan humor Abu akhirnya justru berhasil mengasah sensitifitas kepemimpinan yang tumpul.

Pembacaan yang jeli terhadap cerpen ini akan melihat bahwa memang sepantasnya kekuasaan perlu untuk disakralkan. Tetapi pemangku kekuasaan tidaklah arif apabila ia menjaga jarak terlalu jauh dengan realitas bahkan masa bodoh dengan permasalahan yang menggetirkan rakyat dan hanya duduk tenang percaya dengan laporan palsu para pembisik-pembisiknya. “Please forgive me, but if I had not let you know by yourself everything that happened there, you woud not believe me. Now that you have seen and experienced everything yourself. At least you now know that not all your people are good people” (halaman 15).

Hal lain yang menarik dalam buku ini adalah melihat bagaimana proses humor itu dibuat, disampaikan hingga diterima bahkan sampai titik menyadarkan. Pada judul Stone Thread pembaca akan memahami bagaimana humor itu digali dari logika yang sederhana dan disampaikan dengan cara sederhana. Berbeda dengan judul tersebut, Eegs In the Pond justru menampakkan kerumitan – baik menemukan logika yang bisa diterima, perhitungan matematis tingkat ketersinggungan hingga cara kreatif menyampaikan humor tersebut.

Dikisahkan Sultan bersama menterinya telah merancang matang kejahilan guna menguji kesetiaan Abu terhadap kekuasaannya. Sultan telah menaruh telur di kolam yang harus ditemukan 10 orang menteri dan Abu Nawas. Satu orang diwajibkan membawa 1 telur sebagai tanda kesetiaan terhadap Sultan. Tanpa sepengetahuan Abu jumlah telur yang diatur berjumlah 10 dan urutan mencari telur telah ditentukan bahwa Abu menjadi orang terakhir yang mencari.

Tentu saja 10 orang menteri satu demi satu telah menemukan telur dan mempersembahkan kepada Sultan sesuai rencana. Tibalah giliran Abu. Ia terus mencari dengan teliti telur itu di kolam namun nihil. Ia mengamati dengan teliti gimik janggal para menteri dan Sultan dan mengendus aroma persekongkolan. Walhasil ia beranikan diri keluar kolam, menimbuk pahanya sendiri dan berkokok. Ia menghadap Sultan dengan tingkah aneh.

Ketika diberondong pertanyaan oleh Sultan tentang telur itu dan bukti kesetiaan terhadapnya justru Abu dengan tenang menjawab, “I am the rooster that help the ten ministers produce the eggs. Without me, they would not be able to present any egg, Your Majesty” dan semua orang tertawa dan mengangguk setuju (halaman 30). Adapun dua hal yang penting digarisbawahi dalam judul ini.

Pertama, Abu Nawas berhasil menyampaikan bahwa rakyat merupakan hal vital bagi pemerintah. Kesetiaan rakyat terhadap pemerintah bukan melulu dimaknai sebagai sumbangsih pajak upetinya, melainkan buah pikir, kritik, bahkan doanya. Kedua, Abu Nawas berhasil menang tanpo ngasorake atas kejahilan pemerintah yang terstruktur, sistematis dan massif.

Membaca buku dengan tebal 35 halaman yang memuat 10 kisah Abu Nawas ini, tidak hanya telah menghibur pembacanya bahkan tidak berlebihan kiranya apabila disebut mampu mengarifkan kekuasaan.

Judul                           : Abunawas and King Aaron

Diceritakan kembali   : Sugeng Hariyanto

Penerbit                      : Kanisius

Cetakan                      : Kesembilan, 2010

Tebal                           : 35 halaman

ISBN                          : 979-672-655-6

Leave a Reply

Your email address will not be published.