Mengenang KH Dimyati Rois Kaliwungu Kendal

by -10 views
mengenang-kh-dimyati-rois-kaliwungu-kendal
Mengenang KH Dimyati Rois Kaliwungu Kendal
Mengenang KH Dimyati Rois Kaliwungu Kendal

BincangSyariah.Com Indonesia kembali kehilangan ulama besar yang alim dan wara’. Hari ini, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ( PBNU ) KH Dimyati Rois meninggal dunia.  KH Dimyati Rois meninggal dunia di Rumah Sakit Tlogorejo, Semarang, pada Jumat (10/6) dini hari. Inilah artikel mengenai biografi KH Dimyati Rois untuk kita kenang kearifan, kealiman, dan keluhuran budinya. 

Biografi KH Dimyati Rois

Nama lengkap Abah Dim adalah Dimyathi Rais, beliau merupakan putra kelima dari sepuluh bersaudara yaitu Ny. Khanifah, KH.Tohari Rais, KH. Masduki Rais, H. Murai Rais, KH. Saidi Rais, Ny. Khotijah, KH. Syatori Rais, Ny. Mukoyah dan Ny. Daroroh.

Dimyati Rais dilahirkan pada tanggal 5 juni 1945, dari pasangan suami istri bapak Rais dan ibu Djusminah mereka tinggal di Tegal Glagah Bulakamba Brebes Jawa Tenggah.

Adapun latar belakang KH. Dimyati Rais adalah murni dari golongan petani-santri baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu, yang sebelumnya juga mewarisi garis profesi orang tuanya sebagai petani. 

Kedua orang tuanya selalu mengajarkan dan melatih kepada putra-putrinya untuk senantiasa taat dalam beribadah. KH. Dimyati Rais Sejak kecil memang sudah terlihat berbeda jika dibandingkan dengan para saudaranya yang lain, beliau begitu pendiam, tetapi rajin, disiplin dan ulet.

Dimyati Rais menikah dengan salah seorang gadis yang berasal dari Kaliwungu Kendal pada tanggal 1 Januari 1978, beliau adalah Hj. To’ah putri tunggal dari suami istri KH. Ibadullah dan Hj. Fatimah.

Beliau telah dianugerahi sepuluh putra-putri, yaitu, H. Gus Fadlullah, H. Gus Alamudin BA., Hj. Ning Lailatul Arofah, H. Gus Qomaruzzaman, Hj. Ning Lama’atus Sobah, H.Gus Hilmi, H.Gus Thoha Mubarok, H.Gus Husni Mubarok, H.Gus M. Iqbal dan Gus Abu Khafsin Almuktafa. 

Perjalanan Spiritual dan Intelektual KH Dimyati Rois

Dimyati Rais memulai pengembaraan intelektualnya bersama saudaranya, beliau meninggalkan tempat kelahiran guna menuntut ilmu agama pada sekitar tahun 1956.

Beliau mondok di pondok KH. Imron (APIK) Kauman Kaliwungu Kendal yaitu yang pertama kali yang lamanya kurang lebih 14-15 tahun, kemudian beliau berguru pada mbah Mahrus (PP Lirboyo, Pengasuh generasi kedua) Jawa Timur, akan tetapi itu hanya sebentar dan setelah itu kemudian beliau melanjutkan berguru pada mbah Imam (Sarang) Jawa Timur yang lamanya kurang lebih sekitar lima tahun. 

Namun pada akhirnya beliau kembali lagi ke Kauman Kaliwungu. Ilmu-ilmu yang beliau pelajari selama beliau di pondok antara lain ilmu nahwu, sorof, ushul fiqh, kitabnya imam Al-Ghozali dan masih banyak lagi kitab-kitab yang lainnya. 

Kecerdasan dan keagungan KH. Dimyati Rais telah nampak diwaktu masih belajar di pondok yang beliau singgahi, selama beliau dipondok tidak ada waktu yang terlewati dengan sia-sia. Melainkan digunakan untuk belajar, maka tidak aneh jika KH. Dimyati Rais memiliki wawasan yang luas tentang keislaman. 

Dilansir dari laman NU Online, dikatakan oleh Ahmad Ginanjar Sya’ban, bahwa Abah Dim juga belajar di Jampes Kediri, dan ketika mondok di Lirboyo, Kiai Dimyati Rois juga belajar kepada KH Marzuqi Dahlan. 

Setelah nyantri di beberapa pondok, kini beliau pulang. Atas prestasi yang dimilikinya, ia diambil menantu oleh KH. Ibadullah Irfan, sesepuh dan tokoh masyarakat Kaliwungu. Kiai Dimyati sendiri dilahirkan di daerah Brebes Jawa Tengah. 

Akhirnya beliau menetap di daerah tersebut. Berkat pengetahuan dan pengalaman, beliau dapat menjadi penyambung juga penjunjung ummat, serta melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.

 Tidak sedikit para murid yang mengikuti beliau, di antaranya adalah gus Abdullah Kafa Bih dan gus An’im Falahuddin (putra-putra guru beliau, KH. Mahrus Ali Lirboyo), Lukman Hakim Jabar dan kemudian menyusul pendatang atau santri baru dari banyak arah mata angin. 

Mengingat jumlah begitu banyak santri yang datang kepada beliau maka pada tanggal 10 muharram 1405 H/ 15 juli 1985 M. Dengan kemampuan, keikhlasan dan atas izin Allah SWT, beliau berhasil mendirikan Ponpes Al-Fadlu yang berlokasi di kampung Djagalan desa Kutoharjo Kec. Kaliwungu Kab. Kendal.

Selain menjadi pengasuh pondok, beliau aktif juga di Nahdlatul Ulama’. Khidmah beliau di NU, hingga khatam. Terakhir beliau menjabat sebagai penasehat atau mustasyar PBNU, yang mana ini merupakan posisi tertinggi dalam PBNU.

Karomah KH Dimyati Rois

Selain karomah berupa istiqamah mengajar, Abah Dim (KH Dimyati Rois) juga memiliki kelebihan/karomah lain. Sebenarnya cukuplah keistiqomahan beliau mengajar hingga akhir hayat, menjadi bukti khasnya beliau. Namun berikut adalah salah sekian kisah perihal karamahnya beliau, disebutkan dalam buku yang berjudul Meniti Dakwah di Jalan Sunnah. Dituliskan:

Suatu ketika, di tengah usaha Kiai Ali Mustafa membangun asrama santri, seorang kiai dari Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, KH. Dimyati Rais, berkunjung ke rumah beliau. Kiai Dimyati merupakan pendiri dan pengasuh Pesantren al-Fadlu wal Fadilah. 

Kiai Dimyati mengatakan kepada Kiai Ali Mustafa bahwa tanah yang ada di sebelah rumah beliau ini, kelak akan menjadi pesantren sekaligus asrama putra. Sementara asrama yang sedang dibangun di belakang rumah adalah khusus untuk santri putri. 

Tentu saja ucapan Kiai Dimyati yang merupakan doa tersebut, diamini oleh beliau meskipun sebenarnya tanah yang ada di sebelah rumah beliau bukan miliknya.

 Demikian adalah salah sekian dari karamah beliau, namun ketekunan beliau dalam mengajar sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kelebihannya. Bagaimana tidak, hingga menjelang tutup usia pun, beliau masih tetap istiqomah mengajar para santrinya.

Pesan Abah Dimyati Rois

KH Dimyati Rois pernah berkata: “Fathul Qorib bisa menyelesaikan sepertiga persoalan di dunia, Fathul Mu’in bisa menyelesaikan setengahnya, dan Fathul Wahab bisa menyelesaikan seluruhnya.” Pesan ini sangat membekas di hati para santri, hingga banyak dari mereka yang mewirid trilogi kitab ini. 

Bagaimana tidak? Rata-rata pondok pesantren pasti mengkaji 3 kitab ini. Dan sering disampaikan bahwa, sudah cukup ilmu fikih Syafi’i terwakili oleh trilogi ini. 

Ketiga kitab tersebut sudah cukup menjadi bekal seorang santri, adapun permasalahan lainnya yang tidak ada di trilogi tersebut, bisa dicari dengan aktif di forum musyawarah atau bahtsul masail. Sehingga, tidaklah berlebihan jika pesan Abah Dim yang ini, difrasakan:

من تبحر في الفتوح فهو المفتوح

“Barang siapa yang memahami trilogi kitab futuh, yakni Fath al-qarib, fath al-Muin dan fath al-Wahhab, maka ia akan diberi futuh oleh Allah”.

Selain memberikan trik untuk menjadi alim fikih, Abah dim juga memberikan wejangan kepada para santri yang sudah mengajar. Beliau mengatakan;

 “Jika anda menjadi guru hanya sekadar transfer pengetahuan, akan ada masanya di mana anda tidak lagi dibutuhkan. Karena Google lebih cerdas dan lebih tahu banyak hal daripada anda. Namun, jika anda menjadi guru juga mentransfer adab, ketakwaan dan keikhlasan, maka anda akan selalu dibutuhkan. Karena Google tak punya itu semua.” 

Tampaklah perbedaan antara guru dengan google, maka dari itu seorang pengajar seyogyanya menghayati pesan ini. Agar supaya muridnya bisa alim dan ilmunya menjadi barokah.

Kemudian pesan Abah Dim ketiga yang masyhur adalah “Kian kemari para ulama khos yang mendekati kriteria kewalian kian berkurang. Saya berharap kepada generasi muda NU untuk mengikuti jejak lampah para ulama yang ikhlas itu, termasuk melanjutkan lakon dan tradisi riyadhah yang kerap dilakukan oleh para kiai”. Pesan yang sangat mendalam, semoga kita semua, Nahdliyyin khususnya, warga Islam umumnya, bisa mengamalkannya. 

Demikianlah sekilas mengenai  Abah Dim, semoga kita diakui santri oleh beliau, serta kita diberi taufiq oleh Allah untuk meneladaninya. Khususon ila Allah Yarham Abah Dim, Al-Fatihah. 

Keterangan Biografi KH Dimyati Rois ini disarikan dari Skripsi Mahasiswi UIN Walisongo Semarang, yang bernama Ida Musbichah, dengan judul Nilai-Nilai Dakwah Dalam Penyelenggaraan Kegiatan Istighasah Rutin Malam Jum’at Kliwon Di Pondok Pesantren Al-Fadlu Kaliwungu Kabupaten Kendal

Leave a Reply

Your email address will not be published.