30.3 C
Jakarta
Saturday, May 28, 2022

Mengenal Lebih Dalam Tentang Organisasi Papua Merdeka | GEOTIMES

OpiniMengenal Lebih Dalam Tentang Organisasi Papua Merdeka | GEOTIMES

Kelompok bersenjata yang mengaku membunuh sejumlah pekerja proyek jembatan di Nduga, Papua, awal bulan ini, telah menolak suruhan pemerintah untuk menyerah. Bahkan, kelompok itu justru menuntut referendum atau kegiatan untuk meminta pendapat rakyat secara langsung mengenai setuju atau tidak setuju terhadap kehendak MPR untuk mengubah Undang-Undang Dasar 1945 untuk memutuskan masa depan Papua.

Kelompok tersebut adalah Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM). Organisasi Papua Merdeka adalah sebuah organisasi terlarang yang didirikan pada tahun 1965 oleh Teranius Aronggear dan Aser Demotekay.

Gerakan ini dilarang di Indonesia, dan memicu untuk terjadinya kemerdekaan bagi provinsi tersebut yang berakibat tuduhan pengkhianatan. Sejak awal OPM telah melewati jalur dialog diplomatik, melakukan upacara pengibaran bendera Bintang Kejora, dan dilakukan aksi militer sebagai bagian dari konflik Papua.

Tujuan berdirinya organisasi ini adalah untuk mengakhiri pemerintahan Provinsi Papua dan Papua Barat yang saat ini berada di dalam pemerintahan Indonesia. Sekelompok orang yang berada di kedua provinsi ingin memisahkan diri dari Indonesia sejak berpuluh-puluh tahun belakangan.

Organisasi Papua Merdeka beranggapan bahwa penyatuan wilayah papua kedalam NKRI hanya merupakan hasil perjanjian yang dilakukan antara bangsa Indonesia dengan bangsa Belanda, dimana bangsa Belanda menyerahkan wilayah jajahannya kepada bangsa Indonesia.

Organisasi papua merdeka memulai aksi/tindakannya dari 1 Juli 1971(1), yaitu berencana mendeklarasikan kemerdekaannya dan segera membuat rancangan konstitusinya yang dipimpin oleh Roemkorem dan Prai.

Konflik strategi antara Roemkorem dan Prai berujung pada perpecahan. Perpecahan ini sangat memengaruhi kemampuan OPM sebagai suatu pasukan tempur yang terpusat. Dan pada 1976(2) OPM mulai sering mengirim surat ke PT. Freeport untuk meminta bantuan dalam rencana pemberontakannya saat itu, tetapi ditolak oleh PT. Freeport.

Mulai 23 Juli sampai 7 September 1977(3) OPM memulai ancaman mereka yakni mulai memotong kabel telepon, membakar Gedung penyimpanan dan meledakkan bom di beberapa fasilitas perusahaan yang mengakibatkan kerugian sebesar $123.871,2.

Tahun 1982(4), Dewan Revolusi OPM berusaha meraih kemerdekaan melalui kampanye diplomasi internasional untuk mendapatkan pengakuan internasional untuk kemerdekaan atas Papua Barat melalui forum-forum internasional seperti PBB. Dan mulai Tahun 1984(5), OPM mulai melancarkan serangan yang bersifat militer di Jayapura, ibu kota provinsi tetapi langsung diredam, dan serangan itu gagal. Selang 2 tahun, pada 1986 OPM melancarkan aksi lagi ke PT.Freeport dengan merusak fasilitas dan membunuh teknisi yang datang.

Dan pada bulan Januari dan Agustus 1996(6), OPM menawan sejumlah orang Eropa dari grup peneliti dan orang Indonesia dari kamp hutan. Dua sandera dari grup pertama dibunuh dan sisanya dibebaskan. Bulan Juli 1998(7), OPM mengibarkan bendera mereka di menara air kota Biak di pulau Biak. Mereka menetap di sana selama beberapa hari sebelum militer Indonesia membubarkan mereka.

Selama 13 tahun tidak terpantau ada aksi/Tindakan dari OPM, dan pada 24 Oktober 2011(8), Kepala Polisi Mulia ditembak oleh orang tidak dikenal di Bandara Mulia, diduga orang itu adalah anggota OPM. Pada tanggal 21 Januari 2012(9), orang-orang bersenjata yang diduga anggota OPM menembak mati seorang warga sipil yang sedang menjaga warung,ditembak karena dia adalah warga transmigrasi dari pulau Sumatera.

Tanggal 8 Januari 2012(10), OPM melancarkan serangan ke bus umum yang mengakibatkan kematian 3 warga sipil dan 1 anggota TNI. 4 lainnya juga cedera. Dan masih ada rentetan kejadian yang masih berlanjut sampai sekarang.

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles