in ,

Mengapa ‘new normal’ di Indonesia berpotensi gagal dan upaya apa yang dapat dilakukan

Jumlah kasus baru COVID-19 di Indonesia masih terus mengalami peningkatan. Namun, pemerintah Indonesia memutuskan untuk segera menerapkan ‘normal baru’ untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan ‘normal baru’ memungkinkan masyarakat mulai masuk kantor, sekolah dan pusat perbelanjaan mulai dibuka dengan tetap mengindahkan protokol kesehatan.

Pekan lalu sangat berat bagi Indonesia karena kasus baru harian mencapai lebih dari 1000 selama tujuh hari berturut-turut. Pada Rabu, Indonesia telah menggeser posisi Singapura sebagai negara dengan jumlah kasus COVID-19 tertinggi di Asia Tenggara.

Indonesia menghadapi tekanan kuat untuk segera membuka perekonomian demi merangsang pertumbuhan ekonomi, mengurangi tingkat pengangguran dan mencegah peningkatan angka kemiskinan akibat pandemi COVID-19.

Namun, kebijakan ‘normal baru’ di Indonesia memiliki tiga kelemahan mendasar. Kami mengusulkan tiga strategi untuk mengatasinya.

Kurva epidemi tidak menurun

Presiden Joko “Jokowi” Widodo mengumumkan penerapan kebijakan ‘normal baru’ pada 15 Mei lalu.

Sejak pengumuman tersebut, politikus dan pengusaha menggunakan narasi ‘normal baru’ untuk mendorong pemulihan ekonomi guna menciptakan stabilitas ekonomi.

Sayangnya, ‘normal baru’ dapat membangun rasa aman yang semu karena masyarakat beranggapan bahwa pandemi sudah terkendali. Mengingat jumlah kasus yang terus meningkat, arahan pemerintah Indonesia terkait implementasi ‘normal baru’ masih terlalu dini.

Kurva pandemi di Indonesia belum menunjukkan tanda penurunan sejak April 2020. Per 24 Juni, tercatat 49.009 kasus aktif, dengan angka kematian mencapai 5.3%. Dalam 24 jam terakhir tercatat sebanyak 1.113 kasus baru.

Cakupan tes COVID-19 dengan menggunakan apus tenggorokan di Indonesia juga tergolong rendah sedunia. Pada 24 Juni, proporsi tes di Indonesia hanya mencapai 2.444 orang per satu juta penduduk. Ini jauh lebih rendah dibanding Singapura (116.996), Australia (84.459) atau Malaysia (21.436).

Jumlah infeksi COVID-19 juga tergolong yang tertinggi di dunia. Per 24 Juni, 11.8% dari 413.919 tes ditemukan positif – jauh lebih tinggi dibanding Italia (0,4%), Malaysia (0,39%) atau Australia (0,05%).

Dengan cakupan tes yang rendah, ditambah dengan sistem kesehatan dan sistem pemantauan yang kurang memadai, serta kurangnya transparansi data, kebijakan ‘normal baru’ dapat meningkatkan risiko terjadinya wabah yang mengganggu stabilitas ekonomi dan sosial dalam jangka panjang.

Dua hari setelah pemberlakuan ‘normal baru’, Spanyol melaporkan 25 kasus baru di tiga distrik. Pemerintah Spanyol kembali menerapkan sejumlah aturan pembatasan sosial. Hal serupa ditemukan di Jerman yang menerapkan ‘normal baru’ per 20 April ketika kasus harian masih di atas 1.000. Saat ini, Jerman melaporkan kasus aktif yang cukup tinggi yaitu 4.215 kasus dalam satu minggu terakhir.

Kebijakan diskriminatif

Kedua, kebijakan ‘normal baru’ adalah kebijakan top-down yang menggunakan satu pendekatan untuk semua. Pendekatan i

What do you think?

789 points
Upvote Downvote

Written by buzz your story

potret-hitam-perbudakan-rasis-di-perkebunan-medan-era-kolonial-belanda

Potret hitam perbudakan rasis di perkebunan Medan era kolonial Belanda

curious-kids:-bagaimana-mengetahui-apakah-kucing-anda-bahagia-dan-menyukai-anda?

Curious Kids: bagaimana mengetahui apakah kucing Anda bahagia dan menyukai Anda?