28.8 C
Jakarta
Tuesday, May 24, 2022

Panduan Lengkap Tata Cara Wudhu

BincangSyariah.Com– Sahabat Bincang Syariah, kali...

Tata Cara Tahallul: Lengkap dengan Zikir dan Artinya

BincangSyariah.Com– Tahallul secara bahasa artinya adalah...

Berikut Tata Cara Shalat Tasbih

BincangSyariah.Com–  Sahabat Bincang Syariah yang...

Mengapa Banyak Negara Afrika Mencetak Uang di Eropa? | DW | 26.03.2022

WorldMengapa Banyak Negara Afrika Mencetak Uang di Eropa? | DW | 26.03.2022

Setidaknya 40 negara Afrika mencetak uang mereka di Inggris, Prancis, dan Jerman beberapa dekade setelah kemerdekaan. Berikut laporan DW mengenai mengapa mereka mengalihdayakan produksi mata uang.

Pada Juli lalu, delegasi dari Gambia mengunjungi Bank Sentral Nigeria untuk menanyakan apakah mata uang dalasi Gambia dapat dipesan dari negara tetangganya di Afrika Barat.

Gubernur Bank Sentral Gambia, Buah Saidy, mengatakan negaranya kehabisan mata uang nasional. Negara kecil di Afrika Barat itu harus mendesain ulang mata uangnya setelah kekalahan mantan Presiden Yahya Jammeh, yang memerintah Gambia dari tahun 1994 hingga dia dipaksa ke pengasingan setelah menolak menerima kekalahan dalam pemilu 2016.

Jammeh, yang dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia dan pembunuhan lawan politik selama 22 tahun masa pemerintahannya, memiliki gambar dirinya di uang kertas negara. Setelah penggulingannya, Bank Sentral Gambia mulai menghancurkan gambar-gambar itu.

Sekarang, dalasi memiliki gambar seorang nelayan yang mendorong sampannya ke laut, seorang petani yang merawat sawahnya, dan cipratan burung-burung asli yang berwarna-warni.

Bundel uang kertas dalasi

Setelah penggulingan Yahya Jammeh, Bank Sentral Gambia menghancurkan uang kertas dalasi yang memuat foto dirinya

Mengalihdayakan pencetakan uang tunai

Namun, satu masalah tetap ada: Gambia tidak mencetak mata uangnya sendiri. Mereka memesannya dari perusahaan-perusahaan Inggris, yang mengakibatkan kekurangan uang tunai.

Gambia tidak sendirian dalam mencetak uangnya di negara lain. Lebih dari dua pertiga 54 negara Afrika mencetak uang mereka di luar negeri, kebanyakan di Eropa dan Amerika Utara. Hal itu terjadi saat Uni Afrika sedang mencoba untuk mengantarkan era emas buatannya yang seharusnya membuat Afrika meningkatkan produksi dan menikmati keuntungan yang lebih besar.

Perusahaan teratas yang bermitra dengan bank sentral Afrika diantaranya adalah raksasa percetakan uang kertas Inggris De La Rue, Crane, yang berbasis di Swedia, dan Giesecke+Devrient, Jerman.

Apakah itu benar-benar masalah?

Mungkin mengejutkan bahwa hampir semua negara Afrika mengimpor mata uang mereka. Praktik tersebut bahkan dapat menimbulkan pertanyaan tentang kebanggaan nasional dan keamanan nasional.

Sebagian besar negara bungkam tentang proses pencetakan mata uang mereka, kemungkinan karena alasan keamanan. Perusahaan percetakan bahkan kurang transparan. Tak satupun dari perusahaan yang dihubungi DW menanggapi permintaan daftar negara-negara Afrika yang mencetak uangnya pada mereka.

Menghitung biaya

Etiopia, Libya dan Angola — bersama dengan 14 negara lainnya — memesan dari De La Rue, tulis Ilyes Zouari, yang mempelajari negara-negara Afrika.

Enam atau tujuh negara lain termasuk Sudan Selatan, Tanzania, dan Mauritania diketahui mencetak uang mereka di Jerman, sementara sebagian besar negara Afrika yang berbahasa Prancis dilaporkan mencetak uang mereka di Bank Sentral Prancis dan dengan perusahaan percetakan Prancis, Oberthur Fiduciaire.

Tidak jelas berapa biaya untuk mencetak mata uang Afrika seperti dalasi, meskipun dolar AS berharga antara 6 dan 14 sen. Namun, kemungkinan biaya pencetakan untuk lebih dari 40 mata uang Afrika cukup signifikan.

Pada tahun 2018, seorang pejabat bank sentral di Ghana mengeluh kepada wartawan lokal bahwa negara tersebut menghabiskan banyak uang untuk pesanan cedi Ghana di Inggris. Dan karena negara biasanya memesan jutaan uang kertas untuk diangkut dalam kontainer, mereka harus membayar biaya pengiriman yang besar. Dalam kasus Gambia, para pejabat mengatakan biaya pengiriman mencapai tagihan sebesar £70.000 (Rp1,3 miliar).

  • 100 Billionen Simbabwe-Dollar von 2008 (Gemeinfrei)

    Fakta Ajaib Beberapa Mata Uang

    Paling Banyak Nolnya

    Uang kertas Zimbabwe dari 2009 ini nominalnya 100 trilyun Dollar, artinya ada 14 nol di belakang angka satu. Nominal absurd ini menunjukkan inflasi yang luar biasa tingginya di negara Afrika itu. Nilai uang merosot drastis. Sebagai ilustrasi, harga sepotong roti di Zimbabwe pada saat itu sekitar 300 milyar Dollar.

  • Sinapur 10.000 Dollar Schein wurde abgeschaft (Bank of Sinapore)

    Fakta Ajaib Beberapa Mata Uang

    Berharga Paling Tinggi

    Beda dengan uang kertas dengan nominal 10.000 Dollar Singapura yang dikeluarkan tahun 1973. Bertahun-tahun warga terbiasa berbelanja dengan uang nominal besar ini. Singapura menariknya dari peredaran tahun 2004 untuk meredam kasus pencucian uang.

  • Rumänien - die Landeswährung Leu (picture-alliance/dpa/J. Kalaene)

    Fakta Ajaib Beberapa Mata Uang

    Uang Kertas Paling Kecil

    Uang Kertas Rumania dengan nominal 10 Bani menjadi alat pembayaran sah dengan ukuran paling kecil sedunia. Besarnya hanya 27,5 X 38 milimeter atau hanya seukuran perangko. Uang yang diedarkan tahun 1917 saat perang dunia pertama ini, dibuat sedemikian kecil karena bahan mentahnya sulit diperoleh akibat perang. (foto: simbol mata uang Rumania)

  • China 100 Yuan Scheine (Getty Images/AFP/F. Dufour)

    Fakta Ajaib Beberapa Mata Uang

    Dibatasi Hanya Sampai 100

    Cina membatasi nominal mata uang terbesarnya hanya pada angka 100 Yuan. Keuntungannya, pencucian uang jadi sulit. Kerugiannya, untuk membeli produk berharga mahal, orang harus membawa uang berkoper-koper. Karena warga Cina terbiasa membeli barang secara kontan, orang yang membawa uang sekoper penuh juga sudah jadi pemandangan biasa.

  • Deutschland Neuer 50-Euro-Schein (picture alliance/augenklick/M. Hartmann)

    Fakta Ajaib Beberapa Mata Uang

    Berteknologi paling Tinggi

    Mata uang Euro terbaru dengan nominal 50 dipromosikan menjadi yang berteknologi paling tinggi. Sulit dipalsukan, tidak mengandung lemak hewan, tahan suhu mesin cuci hingga 90 derajat dan tidak luntur oleh bahan kimia agresif. Mata uang Euro bernominal 50 ke bawah paling banyak dipakai konsumen. Sementara nominal besar 200 hingga 500 Euro lebih banyak disimpan di bank.

  • Bitcoin

    Fakta Ajaib Beberapa Mata Uang

    Mata Uang Virtual Bitcoin

    Bitcoins adalah uang virtual yang digunakan dalam transaksi internet. Pertama diluncurkan 2008 oleh Satoshi Nakamoto, citra Bitcoin cukup lama terpuruk, karena banyak digunakan di Darknet untuk membeli barang haram. Sekarang citranya membaik, dan digunakan dengan mengacu pada kurs mata uang resmi. Transaksi mata uang ini menggunakan teknik kriptografi.


Permintaan yang tinggi

Meski terdengar aneh, para analis mengatakan bahwa negara-negara Afrika yang mencetak banyak mata uang mereka di luar negeri bukanlah hal yang aneh.

Banyak negara di dunia melakukannya. Misalnya, Finlandia dan Denmark melakukan alih daya untuk menghasilkan uang, seperti yang dilakukan ratusan bank sentral di seluruh dunia. Hanya segelintir negara, seperti AS dan India, yang memproduksi mata uang mereka sendiri.

Mma Amara Ekeruche dari Pusat Penelitian Ekonomi Afrika mengatakan kepada DW bahwa ketika mata uang suatu negara tidak dalam permintaan tinggi — dan tidak digunakan secara global seperti dolar AS atau pound Inggris — tidak masuk akal secara finansial untuk mencetaknya di dalam negeri karena tingginya biaya yang terlibat.

Mesin cetak uang biasanya menghasilkan jutaan uang kertas sekaligus. Negara-negara dengan populasi yang lebih kecil, seperti Gambia akan memiliki lebih banyak uang daripada yang mereka butuhkan jika mereka mencetak sendiri.

“Jika sebuah negara mencetak satu uang kertas seharga €10 (Rp157 ribu) di dalam negeri dan melihat bahwa negara itu dapat mencetaknya dengan harga sekitar €8 (Rp126 ribu) di luar negeri, lalu mengapa mereka harus mengeluarkan biaya lebih untuk melakukan itu? Tidak masuk akal,” jelas Ekeruche.

Beberapa negara — seperti Liberia — tidak berusaha mencetak uang mereka sendiri karena mereka bahkan tidak memiliki mesin cetak — biayanya mahal dan memerlukan kemampuan teknis khusus.

Hanya segelintir negara Afrika, seperti Nigeria, Maroko, dan Kenya yang memiliki sumber daya yang cukup untuk mencetak mata uang atau koin mereka sendiri, dan bahkan terkadang mereka melengkapi produksi dengan impor.

Mengapa tidak mencetak uang kertas di Afrika?

Negara-negara Afrika telah merumuskan rencana untuk meningkatkan perdagangan intra-Afrika. Saat ini ada lebih banyak perdagangan dengan negara-negara Barat dan Timur daripada di dalam benua.

Mencetak uang kertas di Afrika akan meningkatkan keuntungan di benua itu dan setidaknya secara teoritis, negara-negara Afrika dapat memilih mereka yang memiliki kemampuan mencetak karena kemungkinan ada beberapa kapasitas yang menganggur. Namun, dalam praktiknya hal itu tidak terjadi, mungkin disebabkan oleh masalah kepercayaan karena negara telah mencetak dengan perusahaan luar negeri selama bertahun-tahun.

Tetap saja, ada harapan bahwa perubahan bisa terjadi. Dengan Bank Sentral Gambia, para pejabat mengusulkan kemungkinan kemitraan dengan Nigeria, negara-negara dapat mulai mencari ke dalam untuk pesanan mata uang mereka. Jika itu terjadi dalam skala besar, diharapkan bisa memotong biaya pengiriman secara drastis.

(yas/ha)

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles