Menerobos Perbatasan Ramallah

by -0 views

Tidak ada yang tahu pasti, mengapa Bahrudin begitu berambisi ingin berangkat ke Palestina. Pemuda kelahiran Banten itu merasa dirinya  keturunan wali, seakan masih ada garis keturunan dari Sultan Hasanudin, meski ia sendiri tak pernah menelusuri secara ilmiah mengenai hakikat keberadaan leluhurnya tersebut.


Ketika rombongan travel umrah melaksanakan touring dan wisata ke Masjidil Alqsa, lalu melaksanakan salat sunah di masjid tersebut, Bahrudin justru memisahkan diri dari rombongan, kemudian menghilang entah ke mana. Selama berjam-jam pemimpin travel mencarinya, meski pada akhirnya ia harus mempercayai teman satu hotelnya, Ansori yang mengatakan bahwa Bahrudin berencana untuk berangkat menuju Ramallah.


“Mau apa dia pergi ke Ramallah?” tanya si pemimpin travel.


“Dia nggak menjelaskan apa tujuannya, tapi hanya mengatakan bersimpati pada warga Palestina dan jengkel pada orang-orang Israel, itu saja.”


“Dia merasa jengkel pada bangsa Israel atau pada tentara-tentara Israel?”


“Ah, saya kurang tahu,” jawab Ansori, “saya kira dia tak bisa membedakan mana rakyat Israel, mana tentara Israel, dan mana kaum Zionis.”


Ansori membaca kekecewaan sang pemimpin travel atas keteledoran Bahrudin seorang diri, yang terpaksa harus mengorbankan ratusan anggota travel umrah untuk menunda keberangkatan mereka menuju tanah air. Pemuda itu – seperti yang diceritakannya kemudian – berhasil menerobos pemeriksaan pos-pos penjagaan militer. Ia melakukan perjalanan yang sangat meletihkan, melintasi perbukitan dan mengatasi tembok-tembok berlumpur.


Menurut Bahrudin, ada suatu persoalan yang harus dipecahkannya di Ramallah nanti. Kadang ia berpikir logis dan taktis. Katanya, “Saya harus berani menghadapi segala rintangan yang ada. Bagaimanapun, saya harus sanggup berkorban dalam perjalanan jihad, menelusuri perjuangan fi sabilillah ini, biarpun terasa letih dan melelahkan sekalipun.”


Bahrudin bergabung bersama rombongan pengungsi Palestina, sekitar 20 orang dalam satu truk terbuka. Beberapa mobil yang mengangkut para pengungsi melintasi perbukitan, melintasi beberapa puluh kilometer jalan beraspal, dan tiga kilometer berikutnya jalan berlumpur. Bahrudin mengalihkan tatapannya ke arah perbukitan. Orang-orang selalu menemukan jalan untuk mengitari pos-pos pemeriksaan.


Para pengungsi itu bagaikan koloni semut-semut rangrang yang selalu mendapatkan jalan keluar, solusi, saat rumah dan jalanan mereka dihancurkan. Mereka cerdik dalam menghindar, menyesuaikan diri, dan terus dapat bertahan. Selama berhari-hari, semut-semut ini menggali dengan mulut dan kaki mereka yang mungil, mengangkut butiran tanah ke tempat-tempat yang jauh sekali. Mereka membuat lubang yang sangat kecil tapi sederhana dan mencukupi segalanya. Keesokannya, mereka akan lanjut meneruskan perjalanan seakan tidak terjadi apa-apa.


Di jalanan berlumpur, orang-orang terlihat seperti gundukan-gundukan hitam kecil, bergerak berurutan. Sekumpulan manusia ini berjalan terpincang-pincang, berhenti, berjalan maju, lalu berputar haluan untuk mencari jalan baru lagi. Mereka akan menempuh apapun untuk mencapai tujuan mereka. Beberapa orang memanjat dan melompati tembok-tembok berlumpur. Beberapa saat kemudian, muncul buldozer-buldozer yang menghancurkan jalan-jalan mereka dengan bebatuan, tanah, dan balok-balok semen.


Rombongan pengungsi itu berhenti selama beberapa waktu. Mereka saling memandang, menatap, meratapi penderitaan mereka, pada keringat dan air mata mereka. Namun lagi-lagi, tak lama kemudian mereka berhasil menemukan jalan baru lagi, membikin pematang, mengangkuti balok-balok untuk membuat jembatan, lalu melanjutkan perjalanan mereka dengan sifat keras kepala yang abadi.


***


Bahrudin sama juga sifat keras kepalanya. Ia dicekam oleh rasa mengkal dan penuh amarah. Ia turut menempuh jalan semut, kakinya merasa nyeri. Sesekali ia terjatuh dan tersungkur, tapi sebodo amat. Tak peduli. Ia bangkit lagi, berpegangan pada tangan seorang ibu-ibu Palestina yang bertubuh gendut namun tenaganya perkasa sekuat baja. Kini, mereka melanjutkan pendakian yang sulit. Ketika ibu-ibu itu bertanya, apa tujuannya seorang Muslim Indonesia kelahiran Banten, ikut berangkat ke Ramallah. Bahrudin sendiri merasa kesulitan menjelaskannya. Pokoknya, ia harus ikut-serta menuju Ramallah. Sebab bagaimanapun, kesanggupannya untuk mencapai kota tersebut adalah capaian dan prestasi tersendiri yang jarang ditempuh oleh para pemuda Indonesia, apalagi Banten. Jadi, nanti ketika ia sudah mencapai kota Ramallah, baginya itu adalah kemenaangan yang tiada tara.


Waktu berjalan dengan lamban. Panas menyengat dan berdebu. Tembok-tembok yang dijaga para tentara bersenjata, pemeriksaan kartu identitas, antrean panjang, juga sumpah-serapah dan caci-maki. Segalanya bercampur-aduk menjadi satu. Bagi Bahrudin, maju atau mundur deritanya sama saja. Di belakang sama juga, ada tembok dan beragam caci-maki, maka ia pun harus memutuskan untuk terus maju.


Kini, konsep pemikirannya tentang jihad telah bergeser dengan upaya penegakan keadilan. Bukankah kedatangannya, kesanggupannya mengatasi derita merupakan perlawanan terhadap kesewenangan dan ketidakadilan, yang dalam hal ini dilakukan oleh tentara-tentara Israel yang bersenjata? Bahrudin mendaki pengharapannya dengan kakinya yang menjejak jemu. Setiap bukit menjadi rintangan yang harus diatasinya, memupuk ketabahannya. Setiap tawa menjadi cara untuk bertahan, seakan dialah orang yang paling bahagia di muka bumi ini.


Bahrudin terus bergerak semakin dekat ke pos pemeriksaan terakhir di depan kemah pengungsi Qalandia. Tinggal satu langkah lagi sebelum ia memenangkan perang dan pertempuran. Ia berhenti sejenak, menatap antrian panjang yang terdiri dari para wanita, anak-anak, laki-laki, tua dan muda, pedagang, pelajar, keledai, semuanya bergerak maju dan mundur. Suara seruan, bisikan, permohonan, keluhan dan caci-maki bertebaran di sana sini. Bahrudin melangkah maju, bergabung dengan iring-iringan pelan di depannya. Sebuah mobil hitam yang bersih lewat, menimbulkan pusaran debu, meninggalkan serapah pada jejaknya.


Matahari memanggang puncak kepala orang-orang. Aliran keringat menuruni leher dan menaungi mata mereka. Meski begitu, tidak ada pilihan selain berjalan terus. Bahrudin melangkah dengan mantap, sementara telinganya menangkap sedikit-sedikit pembicaraan: “Mereka tidak akan mengizinkan siapapun untuk melewati perbatasan. Hanya mereka yang mendapat surat izin dari pemerintah.”


“Tidak bisa! Pokoknya saya harus sampai ke Ramallah!” teriak yang lainnya, “ada surat izin atau tak ada surat izin, sebodo amat!”


Bahrudin mendekati pos pemeriksaan dan berdiri di depan balok-balok semen. Beberapa tentara Israel sedang berkumpul. Sebagian dari mereka mungkin belum sampai 18 tahun usianya. Kumis mereka saja belum tumbuh. Di depan mereka ratusan pria dan wanita, menanti, mengharap, berusaha membujuk para tentara dengan apapun semampu mereka supaya mengizinkan mereka lewat. Tapi tak ada gunanya permohonan, air mata, usia, penyakit, pendidikan, universitas. Ya, semuanya itu tak dianggap oleh mereka.


Tiba-tiba salah seorang tentara melempar bom gas, yang mengeluarkan bunyi teredam sewaktu meledak dalam kerumunan. Orang-orang berlari, terbatuk-batuk, pingsan, tapi tak ada gunanya, juga tak dianggap oleh mereka.


***


Orang Banten itu bangkit lagi, dan merayap lagi bersama para pengungsi Palestina. Ia maju beberapa puluh langkah, berdiri di sekitar balok-balok semen.


“Hey, orang asing! Mau ke mana kau? Berhenti di tempat!” teriak seorang tentara Israel.


Bahrudin terpaku diam. Ia berusaha bersikap tenang, lalu jawabnya, “Saya mau lewat, Pak.”


“Mana surat izin?” tanya tentara di sebelahnya.


“Untuk apa? Saya tak perlu surat izin.”


“Apa? Tak perlu surat izin?” kata beberapa tentara saling menatap.


Seorang tentara maju ke depan, memoncongkan mukanya pada Bahrudin, “Kalau tak ada surat izin, percuma saja kau datang ke sini.”


“Tapi saya ada keperluan, dan harus melewati perbatasan ini. Apa urusannya dengan surat izin,” katanya menantang.


“Hoho, hebat sekali jawabanmu itu,” seorang tentara berbadan tinggi dan tegap menodongkan senjatanya, “Sekarang saya mau ajukan pertanyaan, apakah mau kembali atau saya tembak?”


“Untuk apa kalian menembak? Bukankah saya tidak bersenjata?”


Bahrudin tertegun. Ia berpaling dan memandang kerumunan melalui bulu matanya yang tersaput oleh debu, lalu mencoba lagi. “Ayolah, saya mau lewat dan harus menyelesaikan urusan di Kota Ramallah dengan segera.”


“Pokoknya di perbatasan ini tak boleh siapapun lewat tanpa surat izin. Ini kata-kata saya yang terakhir, mengerti?”


“Jadi, apa yang harus saya lakukan untuk kalian, supaya saya bisa lewat menuju Kota Ramallah?”


Seorang kapten bangkit dari tempat duduknya, menatap wajah Bahrudin seraya mendekatinya. Baginya, tawaran Bahrudin itu sangat menarik untuk mempertunjukkan hiburan pada tentara-tentara bawahannya. “Begini, Bung, saya akan memperbolehkanmu lewat kalau kamu membuka sepatumu.”


Bahrudin mengernyitkan dahinya. Tapi supaya urusan cepat selesai, ia merasa tak perlu bertanya-tanya lagi, apa yang hendak dilakukan si kapten terhadap sepatu yang dia beli seharga seratus ribu perak dari Pasar Rawu, Serang itu.


Setelah melepas kedua sepatunya, ia pun bertanya lagi, “Sekarang, boleh saya lewat?”


“Eit, nanti dulu,” sanggah sang kapten. Para tentara lainnya tertawa terkekeh-kekeh melihat adegan sang kapten dengan orang Banten itu.


Matanya menyorot tajam sebagaimana tentara Orde Baru dalam novel Pikiran Orang Indonesia. Sambil menahan tawanya, tentara Israel itu berujar lagi, “Sekarang, ada syarat lainnya supaya kamu bisa lewat.”


“Hmm,” Bahrudin menghela nafas, seraya menebak adanya kelicikan pada ulah sang kapten tersebut, meskipun ia sudah berhasil meruntuhkan rintangan yang pertama. “Oke, sekarang syarat apa lagi yang harus saya lakukan?”


Si kapten mengerutkan kening, mengatur siasat berikutnya, lalu katanya lagi, “Sekarang sepatumu tinggalkan di sini, kemudian kamu berjalan menuju tenda itu, lalu buatkan kami teh hangat untuk enam orang,” ia menunjuk sebuah tenda yang dibangun sekitar lima puluh meter dari perbatasan itu.


Bahrudin menatap para tentara itu dengan penuh keraguan. Hatinya diliputi perasaan kesal. Baginya, para tentara Israel itu memang suka bikin ulah yang menjengkelkan banyak orang.


“Ayo laksanakan… kalau tidak, lebih baik kamu kembali saja, dan pakai lagi sepatumu ini,” kata si kapten.


Bahrudin menunduk dan berpaling sedikit. Ia menatap kerumunan di tengah terik matahari dan debu, lalu katanya mendesah, “Baiklah, saya mau buatkan teh buat kalian.”


Bahrudin melangkah menuju tenda. Di dalam tenda, ia melihat gelas-gelas plastik, nampan, dan beberapa galon air di atas dispenser. Ia membuatkan enam gelas teh celup di atas nampan besar, mengisinya dengan air panas dari mesin dispenser, seraya mendengar tawa terkekeh-kekeh dari para tentara di luar sana.


“Hey! Lama sekali kau membuat teh?” teriak sang kapten, “cepat bawa ke sini!”


Orang Banten itu keluar dari tenda dengan membawa nampan besar berisi enam gelas teh. Ia menyuguhkan teh-teh itu untuk para tentara Israel yang berjaga di perbatasan menuju Kota Ramallah. Seketika mereka mengambil gelas satu persatu, kemudian menyesap teh mereka masing-masing.


“Sepertinya, kita punya pelayan baru hari ini,” canda si kapten yang diiringi gelak tawa para tentara bawahannya. Tak berapa lama, Bahrudin dipersilakan masuk dan melewati pos pemeriksaan dengan perasaan lega dan lapang. Urusan yang penting baginya adalah, ia berhasil lewat dan punya pengalaman menarik menerobos perbatasan yang dijaga ketat oleh tentara-tentara Israel yang terkenal garang itu.


“Oke, sekarang saya sudah lewat, jadi mana sepatu saya?” pinta Bahrudin.


Seorang tentara menyodorkan sepatu Bahrudin dari balik tumpukan semen sambil tertawa terpingkal-pingkal. Bahrudin segera memakai sepatunya satu persatu. Namun, telapak kakinya merasakan cairan hangat di dalam kedua sepatu itu. Seketika ia terkejut, dan mengeluarkan lagi kedua kakinya. Ia menatap curiga pada enam tentara yang serempak tertawa terpingkal-pingkal. Bahrudin membalikkan kedua sepatunya. Cairan kuning keruh bercucuran dari dalam sepatu itu. Ia mengguncangkan kedua sepatu itu beberapa kali. Ia mencoba membersihkannya dengan pasir kering, lalu mengibas-kibaskannya hingga pasir-pasir itu pun bertebaran.


Setelah memakai sepatu itu, Bahrudin melangkah meninggalkan para tentara Israel, sambil berkata dalam hati nuraninya: “Selama bangsa Israel mengencingi sepatu orang Banten, sementara orang Banten juga mengencingi teh-teh yang akan disuguhkan buat mereka, maka perdamaian dunia, tak mungkin akan tercapai dengan baik.”


Muhamad Muckhlisin, pemenang pertama lomba cerpen nasional (2017) yang diselenggarakan oleh Harian Rakyat Sumbar. Menulis cerpen dan esai sastra di berbagai media massa daring dan luring

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia. Kami bukan penulis, kami adalah baris-baris kode yang menghimpun tulisan bermutu yang berserakan di jagat maya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *