Mendaki Gunung Panderman Di Hari Sumpah Pemuda

by -112 views
mendaki-gunung-panderman-di-hari-sumpah-pemuda

Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda 2019, kami ber-14 berjalan menyusuri Jalan Hasanudin yang letaknya di Desa Pesanggrahan, Kota Batu, ke arah gerbang bertuliskan “Wisata Gunung Panderman”. Kami semua berencana mendaki atap Kota Batu itu.

Pukul 05.00 WIB, kami berdoa bersama untuk menyiapkan hati dan pikiran agar perjalanan mendapat berkat dari Tuhan. Perjalanan dimulai dengan menelusuri kaki Gunung Panderman di Dusun Toyomerto, Desa Pesanggrahan, sebab kami hendak mendaki lewat Dukuh Toyomerto.

Sekadar catatan, kami tinggal di sebuah asrama yang letaknya dekat sekali dengan Gunung Panderman, namun sama sekali belum pernah mendakinya. Beberapa bulan sebelumnya, hutan Gunung Panderman kebakaran. Ketika keinginan mendaki muncul, kami pun mesti menunggu hingga Panderman pulih dan kembali bisa dibisa didaki.

Sempat hampir batal mendaki Kembali ke hari pendakian.

Matahari 91 tahun pasca-Sumpah Pemuda mulai menampakkan sinarnya ketika kami berjalan. Aktivitas warga juga mulai berjalan. Para peternak sapi keluar dari rumah untuk mengantarkan botol susu atau sekadar memberi makan sapi-sapi mereka. Semangatku dan teman-teman masih penuh di awal pendakian itu. Setelah melewati dusun, kami masuk ke perkebunan penduduk melalui jalan makadam yang tak terlalu panjang.

Tidak terasa tiga puluh menit berlalu. Akhirnya kami sampai di Base Camp Gunung Panderman. Ternyata kamp itu tak hanya untuk registrasi pendakian Gunung Panderman tetapi juga Gunung Butak. Hanya saja, di sana kami tak melihat tanda-tanda kehidupan. Tak ada orang.

Kami pun memutuskan untuk menunggu. Tapi, setelah lebih dari dua puluh menit menanti tak ada yang muncul. Kami pun memilih lanjut berjalan ke arah jalur pendakian Panderman, mengikuti jalan setapak yang berada di sisi base camp.

Baru beberapa langkah berjalan, sebuah sepeda motor menghampiri kami. Rupanya itu adalah penjaga base camp. Ia mengingatkan kami bahwa pendakian belum sepenuhnya dibuka lantaran Panderman baru kebakaran beberapa bulan lalu. Api di hutan sudah sepenuhnya mati, namun pengelola masih khawatir kebakaran akan terjadi lagi. Kami dianjurkan untuk kembali turun dan tidak melanjutkan pendakian.

Kami sempat ragu untuk melanjutkan. Namun kemudian Pak Misnan muncul. Ia sudah lama tinggal di Batu dan sudah sering naik-turun Gunung Panderman. Ia bersedia menamani kami dan menjadi semacam tour guide. Berkat kedatangannya, kami diperbolehkan melanjutkan perjalanan asal bersedia memenuhi beberapa syarat, antara lain jika ada indikasi kebakaran hutan kami harus segera turun dan melapor.

Dengan senang hati dan tanpa ragu kami pun menyusuri setapak menuju Panderman ditemani Pak Misnan.

Pendakian yang sepi Aliran air dan perkebunan penduduk adalah pemandangan yang kami saksikan di awal pendakian. Medan masih terbilang landai dan tanah cukup padat.

Setelah itu barulah petualangan dimulai. Jalur yang kami lalui mulai menyempit dan sedikit menanjak. Lalu kami memasuki hutan pinus dan jalur pendakian yang kami lewati mulai diapit tumbuhan konifer. Aktivitas warga mulai berkurang di ruas jalur pendakian itu. Hanya tampak beberapa warga yang mengendarai motor sembari membawa rerumputan yang mungkin akan diberikan kepada sapi-sapi mereka. Aku mulai menyadari bahwa tidak ada pendaki lain selain kami—sekarang kami berhadapan dengan hutan Gunung Panderman yang sepi.

Istirahat di pos pendakian Gunung Panderman/Alrefo Arnoldus Wewengkang Empat puluh lima menit yang berlalu cukup menguras tenaga dan keringat. Kami berjalan dengan perlahan dan santai. Aku baru menyadari bahwa kami semua sama sekali belum sarapan. Tanpa sadar sampailah kami di Pos 1 yang diberi nama Latar Ombo di ketinggian 1.600 mdpl. Kami lega sudah sampai titik acuan pertama Gunung Panderman. Di Pos 1 kami berencana untuk istirahat dan mengisi perut dengan sarapan roti sobek yang kami beli di warung di kaki gunung.

Dari ketinggian 1.600 mdpl, pada pukul 7.30 WIB, Kota Batu tampak benar-benar elok dikelilingi oleh pegunungan. Sembari istirahat dan menikmati makanan kecil, kami bersenda gurau sambil memandangi Kota Batu. Kami sempatkan untuk mencari letak asrama tempat tinggal kami. Yang bisa kami lakukan cuma memperkirakan—tampaknya gedung besar di sebelah sana. Tapi, sepertinya gedung asrama kami bersembunyi di suatu tempat di antara jejeran bangunan di Kota Batu.

Setengah jam pun berlalu. Kami bangkit dari istirahat untuk melanjutkan perjalanan. Perut yang sudah terisi, tenaga yang pulih, dan semangat yang kembali menyala menggerakkan kaki kami untuk berdiri dan berjalan. Ternyata jalur pendakian selanjutnya tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Hanya saja, variasi tantangan mulai ditambah dengan trek bebatuan.

Tak sampai setengah jam kami sudah tiba di Pos 2. Rasanya cepat sekali, mungkin karena betis kami jadi kuat karena istirahat tadi. Kedatangan kami di Pos 2 disambut oleh sebongkah batu yang ukurannya cukup besar. Barangkali batu itulah yang membuat pos tersebut dinamai Watu Gede. Berada pada ketinggian 1.730 mdpl, areanya Watu Gede teduh karena dilindungi pepohonan yang cukup tinggi.

Di Pos 2 kami istirahat sejenak, bersandar pada batu-batu besar sambil menikmati sejuknya udara. Lima belas menit istirahat membuat kaki kami jadi gatal untuk melanjutkan perjalanan. Apalagi tampaknya puncak sudah tak jauh lagi. Jalur setapak masih menemani kami menembus hutan Gunung Panderman. Trek yang menanjak membuat betis lama-kelamaan menjadi lelah. Akan tetapi semangat kami justru semakin membara saat menyadari bahwa vegetasi selepas Pos Watu Gede menjadi tidak terlalu lebat. Sebentar lagi sepertinya puncak akan menanti.

Menuju puncak ditemani kawanan kera abu-abu Perlahan tapi pasti kami mulai menapaki kaki di tanah yang pasti. Empat puluh lima menit berlalu, kami sudah mulai melihat kera abu-abu yang bergelantungan di pohon. Mereka memerhatikan kami dan tidak segan-segan untuk mendekat dan meminta makanan. Kami harus tetap berhati-hati dan berusaha untuk tidak mengganggu mereka.

Kami pikir puncak sudah di depan mata. Ternyata, area terbuka yang kami temui adalah puncak bayangan—bayangan dari puncak sesungguhnya. Kami rehat sejenak di puncak bayangan sambil menikmati Kota Batu dari ketinggian. Area puncak bayangan terbuka, tapi permukaan tanah lumayan miring. Mestilah tak enak mendirikan tenda di sini.

Lepas istirahat, kami kembali meneruskan pendakian, disaksikan oleh kera-kera yang bergelantungan. Kami menyusuri rumpun-rumpun perdu yang membentuk terowongan, tepi jurang, serta trek tanah dengan akar-akar pohon. (Kera-kera yang mengawasi kami menunjukkan gelagat sudah tak sabar untuk makan.) Tidak lama kemudian, bersama dengan kera-kera yang menemani dari puncak bayangan, kami sampai di puncak sejati Panderman yang menjadi rumah bagi kawanan kera abu-abu itu.

Bersaudara di Basundara Tugu berbendera Indonesia dan patok penanda Puncak Basundara menanti kami di ketinggian 2.045 mdpl. Lega rasanya sudah sampai di puncak Gunung Panderman. Area puncak ternyata cukup luas dan datar, tidak seperti puncak bayangan. Kami ber-14 bersama Pak Misnan mencari tempat istirahat dan menggelar terpal. Kami tidak membawa tenda sebab memang tidak berencana untuk berkemah.

Befoto bersama di Puncak Basundara, Gunung Panderman/Alrefo Arnoldus Wewengkang Sembari mengeluarkan makanan, kami bersantai-santai sambil main kartu dan catur. Kami ingin menghabiskan siang Hari Sumpah Pemuda ini dengan bercengkerama bersama alam dan sesama. Area Puncak Basundara yang cukup luas membuat kami leluasa untuk berkeliling dan melihat Kota Batu yang dilindungi Gunung Arjuno-Welirang—apalagi di puncak hanya ada rombongan kami.

Puncak Basundara menjadi tempat bagi kami untuk menjalin persaudaraan baik dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia. Setelah berdoa, dilanjutkan makan siang dan bersantai-santai, kami pun kembali turun untuk menyelesaikan pendakian ini: pulang dalam keadaan selamat. Terima kasih, Basundara, karena telah menerima kami sebagai saudara.

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia. Kami bukan penulis, kami adalah baris-baris kode yang menghimpun tulisan bermutu yang berserakan di jagat maya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *