26.8 C
Jakarta
Sunday, May 22, 2022

Inilah Tutorial Shalat Bagi Orang yang Sakit | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com–  Shalat merupakan ibadah paling...

Hukum Bersentuhan dengan Bukan Mahram Saat Thawaf | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Termasuk dari syarat thawaf...

Membangun Kosmopolitanisme Islam pada Generasi Milenial – Arrahim.ID

AswajaMembangun Kosmopolitanisme Islam pada Generasi Milenial - Arrahim.ID

M Mujibuddin Follow Alumnus Pascasarjana Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Editor Arrahim.id

4 min read

Views 4

Arus globalisasi dan modernitas yang melanda dunia saat ini berimbas pada perubahan etika manusia. Perubahan ini menyebabkan sebagian umat Islam menolak adanya modernitas. Mereka menganggap bahwa dunia modern tidak mengarahkan umat beragama menjadi lebih religius, akan tetapi justru mengorbankan keimanan hanya untuk kepuasaan duniawinya. Hal ini kemudian melahirkan sebuah counter wacana dari kalangan Islam. Mereka beranggapan bahwa budaya modern bertentangan dengan Islam. Dari sinilah muncul sebuah self identity yang mengarah pada ego sentris.

Jika sudah muncul ego sentris semacam itu, maka semangat untuk bersatu semakin kabur. Organisasi-organisasi keagamaan maupun sosial politik digunakan bukan untuk merangkul semua golongan, akan tetapi hal itu justru menambah dikotomi-dikotomi baru. Masyarakat akan menjadi terkotak-kotak dan akan menjadi susah untuk disatukan kembali.

Dominasi ego sentris ini juga menyebabkan minimnya ruang gerak untuk berdiskusi, berdialog, dan bermusyawarah. hal ini bisa berakibat pada ketidakteraturan tatanan sosial masyarakat. Heterogenitas masyarakat akan terciderai oleh egoisme individu, terlebih lagi jika sikap egoistik ini lahir dari agama.

Sikap semacam ini sangat tidak mencerminkan sikap kosmopolit. Warga negara masih terkungkung dalam dogma identitasnya. Mereka belum mampu keluar dari tempurung untuk sekedar berdialog dengan kebudayaan lain. Mereka masih belum menerima dengan hati yang terbuka terhadap peradaban lain, sehingga mereka cenderung untuk menyalahkan dan menyulut api permusuhan terhadap kelompok lain.

Padahal jika kita mengacu pada agama Islam, ada sebuah ayat yang menjelaskan bahwa umat manusia sesungguhnya bersatu, tapi kemudian mereka berselisih. Jika seandainya tidak ada keputusan (kalimah) yang telah terdahulu dari Tuhanmu, maka tentulah segala perkara yang mereka perselisihkan itu akan diselesaikan. (QS. 10: 19).

Jadi, dalam ayat itu jelas bahwa umat manusia sesungguhnya bersatu. Mereka menjadi berbeda karena sikap egoistiknya yang menjadikan berbeda-beda. Maka untuk menepis keterpisahan dari perbedaan-perbedaan ini, umat Islam harus mampu membuka diri lagi dengan kebudayaan luar. Bersikap toleran dan tidak saling menyalahkan antar peradaban akan mengantarkan kepada sikap yang kosmopolit.

Kosmopolitanisme Islam

Sejarah telah mencatat bahwa umat Islam pernah menjadi okuimane yang berpengaruh di dunia. Ini membuktikan bahwa sebenarnya umat islam mampu menjadi umat yang memiliki jiwa-jiwa kosmopolit di tengah heteroginitas negara-bangsa. Semangat kosmopolitanisme ini bahkan sudah ditunjukkan sejak zaman Nabi Muhammad yang membuka sebuah ruang dialogis bagi peradaban lain. Jika Nabi Muhammad tidak bisa berdialog dengan budaya di Yastrib (Madinah) maka untuk membangun peradaban di kota tersebut tidak akan berjalan. Keterbukaan Nabi dan keberhasilan membangun kota Madinah menjadi contoh yang paling konkrit mengenai kosmopolitanisme Islam.

Hal ini juga terlihat semasa kerajaan-kerajaan Islam 2-7 abad sesudah meninggalnya Nabi. Umat Islam mampu menunjukkan watak kosmopolitannya. Bahkan menurut Arnold J. Toynbee menyebutkan bahwa peradaban Islam menjadi salah satu dari enam belas peradaban yang pernah menguasai dunia.

Romantika sejarah ini tidak hanya kita ingat saja, melainkan harus dibangun ulang kembali. Menciptakan watak kosmopolit, khususnya kepada generasi muda, sangat penting untuk dilakukan mengingat problematika yang lahir dari ego sentris semakin meningkat. Keterbukaan budaya, toleransi terhadap perbedaan pandangan, dan tidak saling menyalahkan satu sama lain, adalah nilai-nilai yang bisa kita ambil untuk merekontruksi kosmopolitanisme di era saat ini.

Akan tetapi, semangat itu seakan-akan hilang bersama peradabannya. Umat Islam semakin menutup diri dari luar. Hal ini bisa dilihat dari penolakan-penolakan sebagian ormas Islam Indonesia yang menolak adanya sistem dari Barat, baik dari segi ekonomi, politik, dan sebagainya. Penutupan diri ini yang kemudian melahirkan perasaan ketidakmauan untuk berdialog dengan budaya di luar dirinya. Akan tetapi justru mengambil jarak dan menjadikan sistem dari luar sebagai musuh yang harus dilawan.

Padahal jika kita rujuk kembali pada ajaran kosmpolitanisme Islam, keterbukaan terhadap dunia luar sangat ditekankan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. 2: 213;

“Umat manusia itu dahulunya adalah umat yang tunggal, kemudian Allah mengutus para nabi untuk membawa kabar gembira dan memberi peringatan, dan bersama para nabi itu diturunkan-Nya kibat suci dengan membaawa Kebenaran, agar kitab suci itu dapat memberi keputusan tentang hal-hal yang mereka perselisihkan”.

Jadi jelas bahwa diutusnya nabi di muka bumi ini untuk mengajarkan kepada umat manusia tentang kebenaran. Perselisihan umat manusia memang bersifat alamiah karena Allah sendiri memberikan akal kepada manusia sebagai pembeda dengan makhluk lainnya. Akal yang diberikan manusia kemudian yang menjadikan mereka menjauhkan diri dari keutuhan umat.

Sikap ego sentris yang cenderung menutup diri menjadi benalu untuk mewujudkan watak kosmopolit. Tidak jarang fenomena kekerasan yang terjadi di Indonesia lahir dari ego sentris ini. Bahkan antar kelompok dalam satu negara pun juga ikut bertikai. Mereka yang mengatasnamakan agama dengan tegas menolak keberadaan kelompok lainnya dan berbeda pandangan politik pun juga saling mengintimidasi satu sama lain. Ini adalah report yang kurang terpuji jika ingin mewujudkan sikap yang kosmopolit.

Maka sudah semestinya umat Islam harus mampu menunjukkan sikap kosmopolitnya. Hal ini bisa ditempuh dengan merekontruksi pemahaman selama ini yang sangat egoistik. Caranya ialah memahami lebih dalam lagi makna-makna yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an yang menuntut untuk menghargai perbedaan, bersikap tebuka, dialog, toleran, dan tidak gampang menyalahkan perbedaan pandangan.

Dengan kemampuan akal yang dimiliki oleh manusia, seharusnya hal itu akan mudah dilakukan. meskipun nantinya pandangan semacam itu akan bertentangan dengan ideologi kelompoknya, maka tidak akan bersalah jika harus keluar dari kelompok tersebut dan mengajak sekelilingnya untuk membuka pikirannya.

Generasi Milineal sebagai Pelaku Perubahan

Pada tahun 2045 Indonesia diperkirakan akan mendapat hadiah bonus demografi. Artinya pada tahun tersebut jumlah orang yang berumur produktif jauh lebih banyak. Di satu sisi hal itu merupakan sebuah keberuntungan bagi Indonesia karena tidak akan kekurangan jumlah ketenagakerjaan, namun di sisi lain tantangannya juga semakin kompleks. Salah satu tantangan terbesarnya adalah bagimana mempertahankan heterogenitas bangsa.

Untuk itu, sudah saatnya untuk membangun lebih lagi terkait penyadaran atas keberagaman Indonesia pada generasi milineal. Dengan memanfaatkan akal yang diberikan oleh Tuhan dan petunjuk yang terkandung Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, maka manusia harus berupaya menggali isi kandungan tentang keberagaman manusia. Tujuannya ialah supaya ke depan generasi milineal memiliki pandangan yang inklusif dan dialogis atas heterogenitas bangsa, dan dengan pandangan itu harapannya supaya Indonesia masih bersatu dengan keberagamannya.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan oleh generasi milineal adalah memperbanyak diskusi dan dialog. Sebagaimana pepatah mengatakan bahwa kalau tidak kenal maka tak sayang. Diskusi dan dialog digunakan untuk mengenal orang lain. Jika sudah mengenal, maka kalau ada niatan untuk menolak perbedaan dan bahkan menjelak-jelekan orang lain itu tidak ada.

Di samping itu, diskusi dan dialog juga untuk menambah ilmu. Keilmuan yang tinggi akan mengantarkan seseorang kepada sikap bijaksana. Sikap ini sangat dibutuhkan untuk menilai baik buruk tindakan yang akan dilakukan. Bertindak yang buruk dan merugikan orang lain tidak akan dilakukan jika seseorang memiliki sikap seperti itu. Maka, membuka ruang diskusi dan dialog kepada generasi milineal akan mengantarkan mereka ke gerbang kosmopolit.

Ketika watak itu sudah terkontruks dalam kesadaran generasi milineal, maka itu akan menjadi modal besar bagi generasi milenial untuk memberikan kontribusi bagi persatuan Indonesia. Pada saat Indonesia sedang dilanda krisis identitas, maka kontribusi tersebut merupakan obat untuk menyadarkan kembali tentang heterogenitas bangsa. Indonesia sedari awal memang sudah beragam, akan tetapi karena ada beberapa pihak yang menginginkan seragam maka hal itu akan menciderai keberagaman.

Maka dari itu, adanya dialog dan diskusi di kalangan generasi milineal merupakan upaya yang bisa dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai toleransi, keterbukaan, dan tidak mementingkan ego sentris. Hal itu merupakan wujud dari tindakan yang mengantarkan generasi milineal ke gerbang kosmopolitanisme Islam.

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles