Memahami Tindakan Melanggar Aturan dari Kacamata Psikolog

by -8 views
memahami-tindakan-melanggar-aturan-dari-kacamata-psikolog

Beberapa hari lalu, publik dibuat geram oleh wisatawan Amerika Serikat (AS) yang mengajak warga asing lainnya pindah ke Bali saat pandemi. Hal ini bermula dari cuitan akun Twitter Kristen Gray (@kristentootie) yang menceritakan tentang pengalamannya setelah tinggal di Bali selama setahun.

Dengan visa wisatanya, Gray mengaku datang ke Bali untuk hijrah karena tak mendapatkan kehidupan yang baik di AS. Di Bali, ia merasa nyaman karena biaya hidup di sana yang lebih murah dibanding di Amerika. Gray pun mengajak orang lain untuk pindah ke Bali.

Gray diketahui juga menjual jasa konsultasi dan e-book berisi trik agar bisa tinggal di Bali saat pandemi. Warganet pun mengkritik Gray yang dianggap tidak bijak lantaran justru mengajak orang berkunjung ke Bali di tengah pandemi.

Lantas, mengapa ada orang yang bangga telah melanggar aturan?

Melanggar Peraturan, Kok, Bangga?

Gracia Ivonika, M. Psi., Psikolog, menjelaskan, untuk menilai perilaku seseorang, perlu diketahui dulu apakah yang bersangkutan benar-benar sengaja melanggar peraturan. Bisa saja, seseorang melanggar aturan karena tidak memahaminya.

Dalam kasus Gray, psikolog Gracia menilai, ajakan untuk melanggar aturan bertujuan mendapat keuntungan pribadi.

“Artinya, ia cenderung egosentris memfokuskan kepada diri dan pengalamannya tanpa mempertimbangkan orang lain atau lingkungannya. Hal ini karena adanya personal gain (keuntungan pribadi) yang ia rasakan,” kata psikolog Gracia.

Artikel Lainnya: Efek Hobi Pamer di Media Sosial ala Social Climber bagi Kesehatan

Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog mengatakan hal senada. Menurutnya, dalam melanggar aturan perlu dilihat dulu apakah orang tersebut sudah memahami aturan dan norma yang berlaku di sekitarnya.

“Karena bisa jadi dia berpikir bahwa tindakan yang dilakukannya ini bukanlah sesuatu yang salah dan berpikir tindakan yang dia lakukan bisa berguna untuk orang lain. Makanya ia jadi bangga” kata psikolog Ikhsan.

“Bagaimanapun, yang namanya aturan sebaiknya tidak dilanggar kecuali memang situasi bencana. Ini pun perlu diperhatikan, apakah tindakan melanggar aturan itu bisa merugikan diri sendiri, orang di sekitar, atau tidak,” lanjut psikolog Ikhsan.

Lalu, seperti apa aturan yang boleh dilanggar? Ada beberapa perumpamaan yang memberi pengecualian pada seseorang untuk melanggar aturan.

Contohnya, apabila tim Anda merasa stuck karena aturan kerja yang mengekang dan membatasi kreativitas. Anda boleh memberikan ide untuk melanggar aturan.

Misalnya, diperbolehkan untuk datang kerja telat asalkan tim Anda bisa memberikan ide atau menyelesaikan proyek tepat waktu. Hal ini menandakan bahwa sedikit melanggar aturan dapat bermanfaat untuk banyak orang.

Yang penting untuk diingat, pada dasarnya ada konsekuensi untuk setiap pelanggaran. Hal itu juga berlaku meski pelanggaran tersebut bermanfaat untuk kebaikan. Jadi, sebaiknya pertimbangkan plus minus melanggar aturan, bukan hanya untuk kepentingan pribadi tapi untuk masyarakat luas.

Artikel Lainnya: Mau Lebaran, Ini Saatnya Siap-siap Akui Kesalahan!

Efek Sosialnya yang Mungkin Muncul Jika Melanggar Aturan Dipertontonkan

Berkaca dari kasus Gray, melanggar aturan dan mempertontonkan kepada masyarakat luas bisa menimbulkan dampak negatif, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Misalnya, orang lain jadi terinspirasi dan melakukan hal yang sama secara sembunyi-sembunyi. Bahkan, hal yang dipertontonkan itu memicu orang lain untuk lebih “licin” lagi melakukan pelanggaran.

Namun, menurut psikolog Ikhsan, semua itu kembali lagi kepada masing-masing orang dalam memaknai pelanggaran yang dilakukan. Jika seseorang melihat itu sebuah tindakan yang tidak terpuji, pastinya dia tidak akan melakukan hal yang sama.

“Namun, jika ada yang tertarik dan memiliki pemikiran yang sama, maka bisa membuat yang melihatnya termotivasi untuk melakukannya,” ucap Ikhsan.

Untuk tahu informasi atau artikel mengenai kesehatan mental lainnya, Anda bisa baca artikel di aplikasi Klikdokter dan juga memanfaatkan layanan Live Chat untuk berkonsultasi dengan psikolog.

(OVI/JKT)

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *