Mari Mengenal Macam-Macam Prosedur Pembesaran Penis, Dan Efek Sampingnya

by -3 views

Bagi sebagian laki-laki, penis besar adalah segalanya. Banyak yang percaya ukuran cowok memengaruhi kenikmatan saat bercinta, dan lelaki akan terlihat lebih gagah jika kemaluannya gede. Oleh karena itulah tidak mengherankan jika ada yang terobsesi memiliki ukuran besar.

Di zaman modern seperti sekarang, banyak cara yang bisa dilakukan untuk memperbesar penis. Salah satunya dengan operasi plastik. Walaupun masih jarang dibicarakan, prosedur ini sesungguhnya sudah cukup lama eksis.

“[Operasi pembesaran penis] bukan hal yang banyak dibicarakan laki-laki, tapi ada informasi tentangnya,” ujar ahli bedah kosmetik Niro Sivathasan.

Dokter yang berbasis di Sydney, Australia berpengalaman dalam bedah rekonstruktif, tapi sekarang dia fokus menyediakan bedah estetika. Sivathasan mengatakan telah berulang kali melakukan operasi pembesaran penis dan prosedur terkait, seperti pengangkatan skrotum. Dia membandingkan bedah plastik ini dengan operasi yang lebih populer: implan payudara.

“Dulu perempuan malu ngobrolin tentang operasi payudara. Itu bukan topik yang bisa dibicarakan dengan santai. Tapi sekarang mereka bebas membicarakannya. Ini sudah diterima budaya mainstream,” Sivathasan memberi tahu VICE.

Ahli urologi James Elist di Beverly Hills, California sependapat. Dia sudah 40 tahun berkarier di bidang kesehatan kelamin. Elist awalnya menangani pasien yang mengalami disfungsi seksual dan infertilitas. Lalu pada awal 2000-an, dia menciptakan implan yang dapat meningkatkan ketebalan penis.

Dia memperkirakan sepertiga pasien yang memperbesar penis memiliki pasangan yang menjalani operasi payudara. Menurutnya, cerita perempuan yang puas dengan hasil operasinya menginspirasi laki-laki untuk melakukan hal serupa.

Pasien Sivathasan datang dari berbagai latar belakang, dari anak muda sampai orang tua dan pekerja serta pekerja kasar dan CEO. Ada juga lelaki gay yang memperbesar ukuran penisnya.

Alasan mereka pun berbeda-beda. Beberapa pasien Elist ingin penis mereka terlihat lebih rata atau memuaskan pasangan. Sementara itu, Sivathasan mengungkapkan sejumlah pasiennya ingin mengatasi perasaan minder. Sivathasan yakin dengan menghilangkan stigma seputar prosedur ini, “kita bisa membantu laki-laki mengatasi perasaan minder terkait ukuran penis mereka.”

Operasi pembesaran penis hanya bisa dilakukan dokter spesialis. Sama seperti operasi plastik lain, prosedur ini juga berisiko menimbulkan komplikasi. Penelitian menyebutkan kelainan bentuk penis, luka yang tak kunjung sembuh dan disfungsi seksual sebagai beberapa efek sampingnya. 

Sivathasan menjelaskan, beberapa laki-laki mungkin akan mengalami mati rasa pada penisnya untuk sementara waktu, tapi bisa kembali normal setelah pulih. Kemungkinan efek samping lainnya termasuk infeksi, memar dan saraf yang rusak. Meski ada risiko, operasi pembesaran penis biasanya tidak berdampak buruk pada fungsi penis, kesuburan atau sensasi.

Sebelum melakukan operasi, dokter bedah seperti Sivathasan dan Elist akan memastikan pasien benar-benar siap mengubah bentuk penis. Pasien bisa konsultasi atau konseling terlebih dulu. Selain untuk menentukan teknik yang tepat bagi pasien, dokter ingin memastikan mereka memiliki ekspektasi yang wajar dan mau berkomitmen menjalani proses pemulihan pasca-operasi.

Sivathasan memperingatkan agar dokter bedah berhati-hati saat melakukan prosedur. Jangan sampai mereka merusak saraf, dan membuat pasien berakhir dengan “wooden woody” — sebutan yang dia berikan untuk penis yang mati rasa atau tidak dapat berfungsi.

Elist berujar, pasiennya semakin sering berhubungan intim setelah ukuran penisnya membesar. Sementara itu, menurut Sivathasan, operasi pembesaran penis dapat meningkatkan rasa percaya diri, baik dalam urusan percintaan maupun saat pergi ke pantai. Seorang lelaki memberi tahu majalah GQ, mereka mengalami “stamina yang luar biasa” dan bisa “bertahan dua jam” setelah memperbesar penis.

“Sama halnya dengan apa pun di dunia kosmetik—entah orang memandangnya benar atau salah—ketika individu merasa penampilan mereka bagus, perasaan itu secara positif memperkuat pola pikir mereka [dan] membuat mereka berhubungan lebih baik dengan orang lain. Hal itu kemudian secara positif memperkuat [perilaku] mereka dan meningkatkan kualitas hidup,” terang Sivathasan.

Operasi merupakan cara paling efektif memperbesar penis, berikut beberapa metodenya:

Pemanjangan

Ukuran penis yang lebih kecil atau pendek menjadi momok bagi kaum Adam. Mereka rela melakukan segala cara agar kemaluannya terlihat lebih panjang.

“25 hingga 30 persen penis tertutup kulit,” kata Sivathasan. Dia menjelaskan, teknik ini melibatkan pengangkatan ligamen yang menahan penis supaya lebih keluar. Penis yang telah dioperasi akan menggantung lebih rendah, sehingga terlihat lebih panjang.

Menurut Sivathasan, ligamen membuat penis berdiri tegak ketika ereksi. Konsekuensi dari pengangkatan ligamen yaitu penis yang ereksi akan miring 15 derajat.

Laki-laki wajib melakukan peregangan dan olahraga pascaoperasi kalau tidak mau penisnya mengkeret lagi, atau lebih parah bertambah pendek.

“Pasien biasanya akan memiliki penis yang 25-30 persen lebih panjang, mengingat ini jumlah yang terkubur,” ujar Sivathasan. “Peregangan pascaoperasi mungkin membuatnya lebih panjang hingga 50 persen dari garis dasar pra-operasi, tapi yang pasti tidak akan dua kali lipat seperti yang diiklankan.”

Dia menekankan metode ini bukan menambah panjang, melainkan “membuat penis lebih keluar.”

Transfer lemak

Sejumlah orang meyakini ketebalan penis lebih penting dalam memberikan kenikmatan seksual ketimbang panjang. 

Laki-laki bisa menjalani proses pemindahan lemak untuk menghasilkan penis yang lebih tebal. Sivathasan mengutarakan lemak yang digunakan biasanya diambil dari perut bagian bawah atau daerah kemaluan tepat di atas penis. Dia mengungkapkan alat genital laki-laki akan terlihat lebih besar setelah lemak diambil dari daerah kemaluan karena massa di sekitarnya lebih sedikit.

Lemak yang disuntikkan ke batang penis akan meningkatkan ketebalan sekitar 1,5 inci segera setelah operasi. Peningkatan ini menjadi stabil sekitar satu inci setelah enam minggu, lalu menurun secara bertahap seiring berjalannya waktu — sekitar 30 persen lemak bertahan setelah 12 bulan, dan akhirnya kembali ke lingkar semula dalam kurun waktu 18-24 bulan.

“Jumlahnya tentu bervariasi tergantung gaya hidup seseorang, seperti merokok dan penggunaan penis,” imbuh Sivathasan.

Metode ini relatif aman karena lemak yang dibutuhkan tidak banyak, meski operasinya dapat menimbulkan semacam gumpalan atau penampakan mirip batu pada penis.

Implan

Elist mengembangkan implan penis bernama Penuma pada awal 2000-an. Alat berupa silikon itu tersedia dalam tiga ukuran yakni L, XL, dan XXL. Penuma sifatnya permanen dan menutupi seluruh bagian penis. Elist menjulukinya “jaket penis” yang memberikan ketebalan tambahan sekitar 1-2 inci.

Operasinya memakan waktu 45 hingga 60 menit, dan proses pemulihannya cukup cepat. Pasien bisa kembali beraktivitas seperti biasa, kecuali seks dan olahraga, dalam 2-4 hari. Elist menerangkan tubuh akan membentuk kapsul jaringan di sekitar implan dari waktu ke waktu. Silikon itu pun terasa alami, sehingga pasangan yang baru berhubungan badan setelah pasien menjalani operasi takkan menyadari penisnya implan.

Meski permanen, implan Penuma bisa dicopot. Sengaja dibuat seperti ini buat jaga-jaga pasien tidak telaten melakukan perawatan pascaoperasi. Kelalaian dapat menyebabkan infeksi pada implan.

Cangkok lemak

Dermal fat graft atau cangkok lemak kulit adalah metode pembesaran penis paling invasif. Sivathasan mengatakan teknik ini sudah lama dilakukan di bagian tubuh mana pun.

Dalam hal memperbesar penis, Sivathasan menganggapnya sebagai prosedur yang terspesialisasi karena melibatkan pengangkatan penis. Dokter bedah akan membelek penis hingga mencapai lapisan yang dalam, lalu menanam cangkok lemak (biasanya dari bokong atau perut) dengan dijahit. Setelah selesai, dokter mengembalikan penis yang sekarang lebih tebal ke kulit. Nantinya pembuluh darah terbentuk di sekitar cangkok lemak tersebut, membiarkannya mengendap.

Struktur dalam penis bisa mengalami kerusakan apabila pembedahannya tidak dilakukan dengan benar. Alhasil, alat kelamin bengkak dan nyeri. Meskipun kemungkinannya kecil, Sivathasan menyebut risikonya tetap ada.

Hasil operasinya permanen dan memberi ketebalan tambahan sekitar 1-2 inci. “Sebagian besar akan bertahan,” tutur Sivathasan ketika membandingkan hasil cangkok lemak dengan transfer lemak yang bisa menurunkan ketebalan.

“Tapi ini tergantung pada ketersediaan lemak, [yang] lebih sedikit pada pencinta fitness, dan kemampuan kulit mengakomodasi struktur yang lebih kencang ketika penis yang telah diperbesar dipasang lagi,” imbuhnya.

Follow Romano Santos di Instagram.

Leave your vote

653 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia. Kami bukan penulis, kami adalah baris-baris kode yang menghimpun tulisan bermutu yang berserakan di jagat maya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *