Manfaat Mandi Jum’at; Membawa Anugrah Sosial dan Akhirat

by -5 views
manfaat-mandi-jum’at;-membawa-anugrah-sosial-dan-akhirat

BincangSyariah.Com– Berikut ini penjelasan manfaat mandi Jum’at, yang membawa anugrah sosial dan akhirat. Sudah maklum, bahwa mandi Jum’at merupakan sunnah.  

Sudah maklum bahwa seluruh undang-undang yang diberlakukan oleh syariat bermuara kepada kemaslahatan manusia. Oleh sebab itu, salah satu taktik syari’at dalam merealisasikan undang-undang tersebut yaitu memberlakukan suatu perkara yang disenangi oleh manusia secara fitrah

Syekh Ibnu ‘Asyur dalam kitab Maqasid as-Syari’ah misalnya mengatakan bahwa tuntunan syariat demi kemaslahatan (Thalab al-Syari’ah lil Mashalih) ada dua. Pertama, perkara yang sejalan dengan tabiat manusia. Kedua, secara lahir tidak sesuai fitrah manusia, (Ibnu ‘Asyur, Maqhasid al-Syari’ah, 81).

Adapun contoh-contoh yang pertama banyak dijumpai dalam keseharian kita. Sebut saja anjuran mandi sebelum melaksanakan shalat Jum’at. Setiap manusia pasti ingin melakukan kegiatan mandi untuk membersihkan badannya.

Karena secara fitrah manusia suka yang bersih dan enggan hal yang kotor. Terlebih lagi, ketika bersama khalayak ramai seperti saat menggelar sholat jum’at. 

Di sisi lain, anjuran mandi, khususnya sebelum jum’at memiliki manfaat yang tidak hanya dirasakan oleh orang yang bersangkutan. Tapi, juga membawa manfaat sosial, yaitu Para jamaah sholat jum’at disekitarnya tidak akan terganggu dengan bau badan yang mungkin akan mengurangi kefokusan seseorang. 

Oleh karena itu, mandi sangat dianjurkan tatkala berkumpul dengan masyarakat. Imam Nawawi, mengutip beberapa ulama, mengatakan; 

قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الزُّبَيْرِيُّ فِي الْكَافِي يُسْتَحَبُّ فِي كُلِّ أَمْرٍ اجْتَمَعَ النَّاسُ لَهُ أَنْ يَغْتَسِلَ الْمَرْءُ لَهُ وَيَقْطَعَ الرَّائِحَةَ الْمُغَيِّرَةَ مِنْ جَسَدِهِ وَيَمَسَّ مِنْ طِيبِ أَهْلِهِ هَذِهِ هِيَ السُّنَّةُ وَقَالَ الْبَغَوِيّ يُسْتَحَبُّ لِمَنْ أَرَادَ الِاجْتِمَاعَ بِالنَّاسِ أَنْ يَغْتَسِلَ وَيَتَنَظَّفَ وَيَتَطَيَّبَ  قَالَ الْمَحَامِلِيُّ فِي اللُّبَابِ يُسْتَحَبُّ الْغُسْلُ عِنْدَ كُلِّ حَالٍ تَغَيَّرَ فيه البدن قال اصحابنا وآكده هَذِهِ الْأَغْسَالِ غُسْلُ الْجُمُعَةِ وَالْغُسْلُ

 “dalam kitab al-Kafiy, Abdullah al-Zubairi mengatakan, dianjurkan  setiap orang untuk mandi dan menghilangkan bau badan ketika hendak berkumpul. Dan inilah yang sunnah. Imam Baghawi berkata, “disunnahkan bagi orang yang hendak berkumpul untuk mandi dan bersih-bersih serta menggunakan parfum”.

Al-Muhamily juga berkata, disunnahkan mandi setiap kali bau badan tidak enak. Dan, paling disunnahkannya mandi  yaitu sebelum jum’at,” sebagaimana kalangan Syafi’iyah berpendapat” (Nawawi, al-Majmu’, 2/203).

Tidak hanya itu, manfaat mandi jum’at tidak hanya bersifat dunia namun juga akan dirasakan kelak di akhirat. Dalam kitab al-Mawaidh al-‘Usyfuriyah ada keterangan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda;

من اغتسل يوم الجمعة بنية خالصة لم يمر الماء علي شعرة من جسده الا تلألأت نورا فتصير كلها مورا يوم القيمة في المواقف يتلألأ جسده نورا بين الخلائق

“Barang siapa yang mandi pada hari jm’at dengan niat yang tulus, niscaya air tidak akan membasahi rambut dari jasadny, kecuali terpenuhi dengan pancaran cahaya. Maka keseluruhan rambut akan menjadi cahaya dihari kiamat di tempat pemberhentian. Jasadnya pun akan dipenuhi cahaya diantara para makhluk”

Syeh Abu Bakar al-‘Usyfuriy menghikayatkan, ketika seseorang telah mandi maka jum’at datang menyerupai seorang laki-laki yang memakai mahkota surga dan berkata:

“keselamatan atas dirimu (orang yang mandi untuk jum’at)”. Maka balaslah oleh orang yang sudah mandi tersebut, “keselamatan juga atasmu, siapakah engkau?”.

Jum’at itu lalu menjawab, “aku adalah hari jum’at, yang karena itu engkau mandi karenaku. Sholat karena hariku dan dibaguskan sholatnya karena Allah. Aku datang untukmu karena aku akan menjadi saksi di hadapan Tuhan untukmu”.

Sedangkan para al-‘Arif billah memiliki filosofi sendiri dalam menggali hikmah dan manfaat mandi di hari jum’at. Mereka berkata bahwa hikmah dalam anjuran mandi dihari jum’at adalah supaya manusia menjalani putaran hari dalam keadaan suci sebagai sikap hormat.

Karena Allah menciptakan hari sebanyak tujuh kali dan jum’at adalah putaran terakhir. Maka dengan mandi seseorang dalam keadaan suci dalam putaran akhir hari-hari, (al-Bujairami, Hayiatul Bujairamai, 2/206).

Searah dengan perenungan para al-A’rif billah, kisah yang ada dalam kitab Shahih Ibnu Hibban (4/24), tentang sahabat Yahya yang pergi menemui sahabat Abu Qatadah di hari jum’at. Sementara Abu Qatadah sedang mandi. Maka bertanyalah Yahya kepada Qatadah, yang kemudian dijawab dengan Sabda Nabi Muhammad:

من اغتسل يوم الجمعة لم يزل طاهرا إلى الجمعة الأخرى

“barang siapa mandi di hari jum’at maka orang itu senantiasa dalam keadaan suci hingga jum’at berikutnya” [HR. Ibnu Hibban].

Bahkan, saking dianjurkannya mandi sebelum jum’at itu Sayyidina Umar berani “menegur” Sayyidina Utsman karena melaksanakan shalat jum’at hanya mengambil wudhu dan tidak mandi sebagaimana dianjurkan Nabi. 

Padahal, Sayyidina Umar saat itu sedang berkhutbah jum’at di atas mimbar namun rela berhenti sejenak untuk menyindir Sayyidina Utsman. Hikmah “konflik” antara Sayyidina Umar dan Utsman membawa hikmah tersendiri yaitu mandi jum’at tidak sampai diwajibkan dengan dalil (salah satunya) adalah kisah perbuatan sahabat Utsman. 

Karena kalau diwajibkan bisa saja memberatkan sebagian umat ini. (al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, 1/181).

Manfaat lain  yang bersifat ukhrawi, yang dipetik dari aktifitas mandi di hari jum’at antaranya adalah layaknya berkurban. Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda; 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الجُمُعَةِ غُسْلَ الجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الخَامِسَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ الإِمَامُ حَضَرَتِ المَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ»

“barang siapa mandi di hari Jumat sebagaimana mandi janabah lalu berangkat menuju masjid maka dia seolah berkurban seekor unta. Barang siapa yang pada waktu kedua maka seolah berkurban seekor sapi.

Dan barang siapa yang datang pada waktu ketiga maka seolah berkurban dengan seekor kambing yang bertanduk. 

Siapa yang yang datang pada waktu keempat maka dia seolah berkurban dengan seekor ayam dan barang siapa yang datang pada waktu kelima maka seolah berkurban denga sebutir telur.

Dan, apabila sudah imam keluar untuk khutbah maka malaikat hadir mendengarkan zikir itu”[HR. Bukhari] (Sahih Bukhari, 2/3). 

Itu penjelasan terkait manfaat mandi Jum’at. Tentunya, manfaat yang lain selain di atas, pada dasarnya masih banyak. Akan tetapi kita cukupkan sekian. (Baca juga: Alasan Mengapa di Pesantren Libur Hari Jum’at).

More

Leave a Reply

Your email address will not be published.