Malak Hifni Nasif, Feminis dan Penyair dari Mesir

by -0 views
malak-hifni-nasif,-feminis-dan-penyair-dari-mesir

Pengalaman hidup yang getir akan sangat membekas dan mempengaruhi hidup seseorang. Ia akan menjadi sebuah pelajaran berharga yang akan selalu mengajarkan bagaimana hidup di masa depan.

Begitu pula kisah Malak Hifni Nasif yang terkenal dengan nama pena “Bahisah Badiyah”. Perempuan terpelajar dari gurun pasir Mesir yang mengalami pengalaman pahit dan harus menerima kenyataan buruk di hidupnya.

Menjadi Feminis

Menjadi seseorang yang dilahirkan sebagai seorang perempuan sudah tentu bukanlah pilihan hidupnya sendiri. Itu merupakan ketentuan yang sudah tak bisa ditawar lagi.

Sayangnya kehidupan pada waktu itu sangatlah tidak menguntungkan bagi seseorang yang dilahirkan sebagai perempuan. Banyak sekali perlakuan yang diterima oleh para perempuan yang jauh dari kebahagiaan dan keadilan.

Kebahagiaannya dirampas tanpa bisa membela diri. Dari keadaan seperti itu maka lahirlah banyak sekali pejuang yang membela dan memperjuangkan hak-hak perempuan. Muncullah banyak feminis yang berusaha mereformasi hak dan nasib perempuan di dunia.

Salah satu tokoh feminis itu adalah Malak Hifni Nasif yang lahir di Kairo pada 1886 dari keluarga kelas menengah dan berpendidikan. Dari kecil Malak Hifni Nasif dididik untuk belajar. Di masa tumbuh kembangnya Malak senang membaca puisi Arab dan mulai menulis di setiap waktunya.

Malak kemudian belajar di Sekolah Dasar Abbas Bagian Putri dan lulus menjadi lulusan pertama pada tahun 1901. Dia kemudian melanjutkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Keguruan Saniyyah, lulus pada tahun 1903 dengan nilai tertinggi di kelasnya. Kemudian Malak mengabdi sebagai seorang pengajar di sekolah tinggi almamaternya tersebut.

Ada dua pengalaman pahit yang dialami Malak dalam hidupnya sebagai seorang perempuan. Pengalaman itulah yang kemudian membuatnya menjadi seorang pejuang hak-hak perempuan di Mesir, sekaligus menjadi seorang penulis dan penyair.

Dipaksa Berhenti Mengajar

Pengalaman pahit pertama Malak dipaksa berhenti mengajar ketika ia menikah dengan suaminya, Abd al-Satar al-Basil pada 1907. Aturan di Mesir pada waktu itu melarang perempuan mengajar ketika sudah menikah.

Malak kemudian pindah ke al-Fayyum di padang pasir dan ia mulai menulis dengan memakai nama pena “Bahisah Badiyah”.

Suaminya Ternyata Sudah Memiliki Anak dan Istri

Kedua, Suaminya ternyata sudah memiliki anak dan istri.  Setelah pindahnya Malak dan suaminya al-Basil ke padang pasir al-Fayyum, Bahisah Badiyah menerima kenyatan pahit bahwa suaminya ternyata sudah memiliki anak dan istri sebelumnya.

Hal ini membuat Malak menjadi korban Poligami dari seorang lelaki tanpa tahu kalau suaminya tersebut telah memiliki anak dan istri.

Pengalaman pahit dan pengamatan terhadap perempuan lain di Mesir menggerakkan hati dan pikirannya untuk mulai menulis dengan serius tentang kehidupan, hak dan status perempuan-perempuan di Mesir.

Bahisah Badiyah mulai menerbitkan karya tulisnya di surat kabar Al-Jarida yaitu surat kabar utama partai Umma. Dia juga sering berbicara di Universitas dan markas partai Umma.

Malak kemudian menerbitkan kumpulan ceramah dan esainya Al-Nisa’iyyat. Cara itulah yang diupayakan Malak untuk mengangkat kemajuan perempuan di Mesir.

Menentang Arus Pemikiran Banyak Tokoh Feminis

Yang menarik dari pemikiran feminis Malak yaitu dia menentang arus pemikiran banyak tokoh feminis Mesir pada zamannya. Ia menentang gerakan Westernisasi yang banyak dielu-elukan para feminis pada waktu itu.

Gerakan Westernisasi ini berpendapat bahwa kemajuan perempuan dapat diupayakan dengan cara meniru Barat atau bergaya kehidupan ala Eropa yang begitu bebas bagi perempuan. Gerakan ini banyak didukung oleh feminis seperti Huda Sya’rawi, yang mendukung tindakan membuka cadar dan hijab bagi perempuan.

Malak menentang hal tersebut. Menurutnya kemajuan perempuan bukan hanya terletak dari gaya penampilan saja, seperti cara berpakaian. Akan tetapi kemajuan perempuan haruslah meniru bagaimana pemikiran dan wawasan yang dimiliki oleh perempuan-perempuan di Eropa.

Artinya perempuan bisa menjadi maju walaupun dengan tetap kokoh memegang tradisi Islam yang telah dimiliki tanpa harus meniru seratus persen perempuan ala Eropa. Apalagi hanya menirunya sekadar dari model berpakaian saja.

Kisah hidup Malak Hifni Nasif atau Bahisah Badiyah harus berakhir dikarenakan terserang penyakit Influenza. Malak menutup mata pada usia 31 tahun pada tanggal 17 Oktober 1918. Kepergiannya banyak dihantarkan oleh para tokoh feminis dan pejabat pemerintah Mesir pada waktu itu.

Wallahu A’lam Bishawab.

Alumni UIN Walisongo Semarang dan Pascasarjana UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten. Pengajar di Pondok Pesantren Assa’adah Serang-Banten.

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia. Kami bukan penulis, kami adalah baris-baris kode yang menghimpun tulisan bermutu yang berserakan di jagat maya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *