31.1 C
Jakarta
Wednesday, May 25, 2022

Makna Lailatul Qadar Menurut Fakhruddin Al-Razi | Bincang Syariah

IslamiMakna Lailatul Qadar Menurut Fakhruddin Al-Razi | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Berikut ini penjelasan tiga makna lailatul qadar menurut Fakhruddin Al-Razi. Makna lailatur qadar versi Menurut Fakruddin Al-Razi ini bisa dirujuk dalam kitab Mafatih al Ghaib.

Setiap umat Islam pasti mendambakan untuk menjadi hamba terbaik di sisi Allah swt. Berbagai amal kebaikan senantiasa diupayakan untuk bisa mewujudkan keinginan tersebut.

Salah satu yang biasa dilakukan untuk menjadi umat terbaik adalah mendapati malam istimewa di bulan Ramadhan ini, yaitu lailatul qadar. Setiap umat Islam berbondong-bondong untuk bisa mendapatkan keberkahan malam ini. Lalu apa sebenarnya makna lailatul qadar? Mengapa malam ini disebut lailatul qadar?

Al-qadar memiliki arti takaran atau ukuran, maksudnya adalah Allah swt telah menetapkan segala perkara dengan ukuran atau kadar tertentu pada malam tersebut. Hal ini senada dengan firman Allah swt

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْناهُ بِقَدَرٍ

“Sungguh, Kami telah menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” (QS. al-Qamar: 49)

Dalam Mafatih al-Ghaib, al-Imam al-Razy menyebutkan setidaknya ada tiga alasan mengapa malam itu disebut lailatul qadar.

Pertamaal-qadar memilki arti takaran atau ukuran. Disebut lailatul qadar karena pada malam tersebut Allah swt menetapkan segala perkara dengan segala ukuran atau takaranNya termasuk di dalamnya adalah segala perkara yang berkaitan dengan hukum.

Hal ini sabagaimana apa yang disampaikan oleh sahabat Ibnu Abbas bahwa pada malam tersebut di setiap tahun Allah swt menetapkan hujan, rizki, hidup, dan mati, serta segala perkara lainnya untuk satu tahun ke depan.

Namun Imam al-Razi menambahkan bahwa Allah swt telah menetapkan segala takdirNya sejak zaman azali, sebelum Ia menciptakan bumi, langit, dan isinya.

Kedua, al-qadar memiliki arti al-azhamah (keagungan) dan al-syaraf (kemuliaan). Disebut demikian karena keagungan dan kemuliaan malam ini. Hal ini sebagaimana firman Allah swt :

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“’Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”. (QS. al-Qadr : 3)

Kemuliaan yang dimaksud pada malam tersebut mencakup dua hal, yaitu dari sisi seorang hamba ataupun kegiatan yang dilakukan. Dari sisi seorang hamba, maksudnya adalah siapapun umat Nabi saw yang melakukan kebaikan pada malam tersebut maka ia akan memiliki nilai lebih dan menjadi mulia.

Sedangkan kemuliaan dari sisi kegiatan maksudnya adalah segala kebaikan yang dilakukan pada malam tersebut akan memiliki kadar kemuliaan yang lebih dari malam-malam lainnya.

Ketiga, al-qadar dimaknai sebagai al-dhayyiq atau sempit. Disebut demikian karena pada malam ini, bumi dipenuhi oleh para malaikat, sehingga tampak sempit. (Baca juga: Malam Lailatul Qadar Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jilani )

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ، سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr; 4-5)

Demikian penjelasan makna lailatul qadar menurut Fakhruddin Al-Razi . Dari pelbagai makna lailatul qadar tersebut seyogyanya kita jadikan motivasi untuk meningkatkan kualitas ibadah-ibadah kita di bulan Ramadhan. Wallahu a’lam.

Tulisan ini juga telah dimuat dalam BincangMuslimah.Com.

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles