30.3 C
Jakarta
Saturday, May 28, 2022

Kutemukan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dalam Satu Atap (3) – Arrahim.ID

AswajaKutemukan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dalam Satu Atap (3) - Arrahim.ID

1 min read

Views 4

Sebelumnya: Kutemukan Nahdlatul Ulama… (2)

Meneladani Kembali KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan

Seorang santri datang melaporkan, dari Yogyakarta ada gerakan yang ingin memurnikan agama dan aktif beramal usaha, “Oh itu Mas Dahlan! Ayo kita dukung sepenuhnya,” ujar Hadratus Syaikh Hasyim Asyari mendengar kabar baik tersebut.

Dalam beberapa riwayat, kedua ulama besar ini merupakan satu murid seperguruan di bawah asuhan ulama-ulama besar nusantara seperti Syaikh Kholil Bangkalan, Kiai Soleh Darat Semarang, dan Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.

Genealogi hubungan baik antara Nahdlatul Ulama dan Muhammadiiyah yang tersimbolkan pada hubungan persahabatan antara KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan, selaku pendiri kedua ormas Islam terbesar di Indonesia. Sudah sepantasnya menjadi teladan bagi generasi muslim di Indonesia saat ini.

Kisah ini penting untuk kembali diteladani, mengingat tak jarang belakangan ini pengikut di antara kedua ormas Islam ini terjadi gesekan dan terus tereproduksi. Banyak perdebatan yang kerap muncul seperti perbedaan pandangan khilafiyah. Secara spesifik yang sering terjadi berulang adalah perbedaan jumlah rakaat dalam salat tarawih dan witir, NU sebanyak 23 rakaat dan Muhmmadiyah sebanyak 11 rakaat. Termasuk perbedaan lainnya seperti penggunaan doa Qunut dan tidak dalam salat Subuh.

Sekali pun praktik keagamaan di antara keduanya terdapat perbedaan, namun bukan berarti menjadikannya sebagai perbedaan yang prinsipil. Lantas kemudian menjadikannya sebagai legitimasi untuk menghukumi perbedaan di luar mainstreaming kita sebagai suatu hal yang salah. Padahal sesungguhnya secara substansi memiliki kesamaan nilai: Tauhid.

Keteladan dan hubungan baik dari dua ulama besar di atas berlanjut kepada penerusnya, baik kepada anak-anaknya secara biologis maupun para ulama penerus secara ideologis —bahkan yang memiliki hubungan langsung atau tidak. Ada banyak tokoh ulama Muhammadiyah yang saya kagumi, baik dari tindakan maupun pemikirannya —di antaranya seperti Prof. Syafii Maarif, Prof. Amin Abdullah, Prof, Abdul Munir Mulkan, Prof. Kuntowijoyo, Dr. Moeslim Abdurrahman. Begitu pun istri saya, Faiza, yang juga mengagumi KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH Mustofa Bisri (Gus Mus).

Orang tua saya sudah memulainya dengan meneladani kisah persahabatan bahkan persaudaraan KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan. Kini saya bersama istri melanjutkan teladan baik itu. Kelak kisah baik ini akan menjadi cerita untuk anak-anak kami —bahwa memperdebatkan perbedaan yang berakhir pada keburukan NU dan Muhammadiyah adalah suatu hal yang tidak produktif.

Keduanya seperti saudara kembar walau terdapat sedikit perbedaan karakter, bukan lantas menjadikannya sebagai penyebab permusuhan sebagai sesama saudara muslim. Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof. Abdul Mu’ti dengan jenaka menyebut Muhammadiyah sebagai saudara tua karena terlebih dahulu lahir dan NU sebagai adik bongsor (gemuk) karena banyaknya jumlah pengikut.

Dari ulama-ulama besar yang lahir dari rahim kedua ormas Islam tersebut —turut membidani kelahiran Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dari imperialisme dan kolonialisme. Kisah hubungan baik ini harus terus dilanjutkan. Tidak boleh terputus seperti halnya yang dilakukan orang atau kelompok yang ingin mengadu domba.

Keduanya seperti tiang penyangga NKRI dengan corak Islam yang bercirikan tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), tawassut (moderat). Bila keduanya saling bertikai dan berakibat tiang penyangga tak mampu menopang, maka robohlah bangunan besar bernama NKRI. Tentu kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Setidaknya ikhtiar yang bisa dilakukan bermula dari keluarga kecil kami. Menjaga Nahdlatul Ulama. Menjaga Muhammadiyah. (mmsm)

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles