31.1 C
Jakarta
Wednesday, May 25, 2022

Kutemukan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dalam Satu Atap (2) – Arrahim.ID

AswajaKutemukan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dalam Satu Atap (2) - Arrahim.ID

Views 4

Sebelumnya: Kutemukan Nahdlatul Ulama… (1)

Kultural NU dan Struktural Muhammadiyah

Sekali pun orangtua saya berbeda dalam mengekspresikan keagamaannya sebagai seorang muslim, sejak kecil saya lebih tertarik mengikuti ayah. Bahkan ketika SD, saya didaftarkan mengaji kepada Ustadz Nailul di Masjid Baiturrahman Genteng, guru mengaji saya, kedua kakak perempuan, sampai keponakan saya mengaji kepadanya. Belakangan beliau menjadi pengurus masjid yang bertanggung jawab penuh dalam seluruh kegiatan pendidikan agama Islam di masjid.

Memasuki sekolah menengah ke atas, saya disekolahkan di SMK Muhammadiyah 2 Genteng karena terdapat prodi otomotif. Ayah yang seorang pekerja bengkel tidak menunjukan protes karena sekolah tersebut dianggapnya dapat memberikan pengetahuan untuk mempersiapkan saya membuka bengkel. Meski akhirnya saya memberontak karena melanjutkan studi di Universitas Islam Indonesia.

Di sekolah inilah saya juga belajar mengenali Persyarikatan Muhammadiyah, baik secara teologis dan ideologis. Dua guru saya, Pak Tommy mengajarkan pelajaran Kemuhammadiyahan dan Keislaman—termasuk Pak Firman mengajarkan pelajaran Bahasa Arab. Kedua guru saya ini turut membuka wawasan saya tentang Muhammadiyah.

Kedekatan saya dengan kedua guru tersebut, mengantarkan saya terlibat pada OSIS, hingga kepengurusan Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Banyuwangi di bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan. Prosesnya dengan terlibat sampai Darul Arqam menengah baik sebagai peserta dan pemateri. Maka tak jarang setiap penerimaan siswa baru, saya sering dilibatkan dalam pembekalan orientasi di sekolah-sekolah Muhammadiyah se-Banyuwangi.

Sekali pun saya sempat terlibat secara struktural di Muhammadiyah, secara kultural keagamaan saya masih tetap menjadi bagian dari NU. Di sela aktivitas sebagai pelajar Muhammadiyah, saya menyempatkan diri menjadi santri kalong di Ponpes Hidayatul Mubtadi’in.

Perkenalan saya dengan Muhammadiyah tak lantas merubah saya menjadi seorang Muhammadiyah. Namun tetap meneguhkan diri sebagai nahdliyin kultural. Walau kini sepuluh tahun yang lalu sudah tidak terlibat dalam struktural Muhammadiyah, hubungan baik dengan guru dan teman-teman yang masih aktif di struktural Muhammadiyah juga tidak turut merenggang. Di sinilah pemahaman dan pengetahuan atas kelompok lain penting untuk dilakukan agar prasangka yang selama ini membelenggu tidak mendominasi menjadi pemikiran negatif, stereotipe, dan perilaku diskriminatif.

Melanjutkan Genealogi NU-Muhammadiyah

Tahun 2015 tanpa disengaja saya dipertemukan seorang mahasiswi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bernama Nurul Faizatun Nikmah, saya sering memanggilnya Faiza —dalam kegiatan advokasi kebebasan beragama dan berkeyakinan yang diselenggarakan oleh Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) di Omah Jawi Kaliurang, Sleman.

Saya tidak menyangka dalam beberapa bulan kemudian ia menjadi kekasihku di penghujung masa kita sebagai mahasiswa di Daerah Istimewa Yogyakarta. Saat itu saya berprasangka bahwa ia seorang nahdliyin yang kebetulan menempuh studi di UMY. Hal ini lantaran setiap kami keluar yang berkaitan dengan kegiatan kepemudaan lintas iman yang bahkan terkadang diselenggarakan di gereja dan rumah ibadah lainnya —ia tidak pernah menunjukan ekspresi penolakan yang berkaitan dengan keimanan.

Bukan tanpa sebab saya mengatakan demikian, beberapa teman saya yang aktif di struktural di beberapa Ortom Muhammadiyah memiliki kecenderungan memiliki sikap sebagai muslim yang agak kaku dibandingkan teman yang aktif di NU yang cenderung lebih luwes.

Lambat laun saya mengetahuinya ia sebagai warga Muhammadiyah walau secara kultural. Informasi tersebut saya ketahui melalui cerita kakak perempuannya bernama Dina Setyaningsih, merupakan seorang mantan aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Selain itu, sang kakak juga memiliki kedekatan dengan beberapa aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) yang beberapa di antaranya saya kenal dengan baik seperti Subkhi Ridho dan Zuly Qodir.

Ketidaksengajaan ini tak lantas membuatku menjauhi atau bahkan meninggalkan Faiza sebagai kekasihku. Saya berfikir selama ia tidak mempertentangkan perbedaan identitas, tak menjadi masalah bila saya masih mencintainya sebagai kekasih.

Dalam satu kesempatan di bulan Ramadan, beberapa kali saya menemuinya untuk mengajaknya berbuka puasa bersama —walaupun tak terlalu sering yakni seminggu dua kali. Ketika mendengar azan Isya’ kami sempat berkeliling dari satu masjid ke masjid lainnya untuk menunaikan salat jamaah Isya’, tarawih, dan witir.

Pertemuan pertama, kami menjalankan salat jamaah terawih dan witir di masjid yang berada di UMY dengan jumlah keseluruhan 11 rakaat. Pertemuan kedua, kami menjalankan salat jamaah di masjid kecil yang berafiliasi kepada NU dengan jumlah 23 rakaat. Seusai salat, Faiza sempat menceritakan keletihannya karena jumlah rakaat yang terlalu banyak dengan konsekuensi gerakan salat yang semakin banyak pula. Selain itu ia meminta salat jamaah di masjid dengan jumlah 11 rakaat seperti di kampusnya UMY. Saya tersenyum tipis mendengarnya berkeluh kesah.

Pertemuan ketiga, saya mengajaknya salat jamaah di Masjid Gede Kauman milik Kraton Yogyakarta. Salat jamaah di Masjid Gede Kauman jumlah rakaat sebanyak 11 rakaat seusai salat Isya’. Mendengar penjelasanku, tak sengaja saya melihat senyumnya mengembang karena mendengar jumlah rakaat yang akan ditunaikan.

Lagi-lagi seusai salat jamaah, saya kembali mendengar keluhannya. Masjid Gede Kauman sering mengadakan salah jamaah terawih dan witir sebanyak 11 rakaat —namun sepanjang salat jamaah itu ditunaikan, bacaan surah sang Imam terlampau panjang. Durasi waktu salat jamaahnya termasuk lebih lama dibandingkan salat jamaah di masjid berafiliasi NU.

Saya sudah lama mengetahui bahwa selama bulan Ramadan, Masjid Gede Kauman menargetkan seluruh surat dalam kitab suci Alquran terbaca sampai khatam melalui setiap rakaat yang dibacakan sang Imam. Saya pun hanya tersenyum tipis melihat wajah kusutnya, karena diam-diam saya mendidiknya.

Pertemuan keempat, saya mengajaknya salat jamaah di Laboratorium UIN Sunan Kalijaga. Saya mengatakan salat tarawih dan witir ini diadakan menjadi dua gelombang yaitu 11 rakaat dan 23 rakaat. Setelah salat jamaah selesai, saya menanyakannya apakah Faiza mengikuti 11 rakaat atau sampai 23 rakaat. Jawabannya, dia mengikutiku dengan salat jamaah sebanyak 23 rakaat.

Alasannya, daripada dia keluar terlebih dahulu dan menungguku di luar masjid sendiri —dia lebih memilih meneruskan shalat gelombang kedua dengan total sebanyak 23 rakaat. Mendengar jawabannya lagi-lagi aku tersenyum sembari mengusap kepalanya. Faiza pun membalasnya dengan sebuah senyuman. Keluh kesah dengan dalih keletihan tak kudengar lagi.

Satu hal paling mengejutkan adalah saat mengetahui ayah mertuaku Zubaidi adalah seorang kiai Muhammadiyah di kampungnya, Dorang, Nalumsari, Jepara. Fakta ini terungkap ketika saya menikahinya pada 2019 lalu. Namun beliau tak hadir dalam pernikahan kami karena wafat pada 2014 silam, waktu yang sama persis dengan meninggalnya ayahku. Kami menikah dalam kondisi yatim. Keduanya meninggalnya di penghujung bulan ramadan tahun 2014. Umat muslim menyebutnya sebagai malam Lailatul Qadar.

Menggantikan Kiai Zubaidi sebagai saksi pernikahan, rekan ayah mertuaku Kiai Badruddin Noor dan guru ayah mertuaku Kiai Sudjadi hadir dalam ijab qobul. Acara berlangsung khidmat meski terasa yang kurang lengkap tanpa kehadiran ayah dan ayah mertua dalam pernikahan kami.

Ingatan saya lantas kembali teringat pada hubungan orangtua saya, sebagaimana ayah berasal dari keluarga NU kultural dan ibu berasal dari keluarga Muhammadiyah struktural. Kini kisah itu berlanjut kembali kepadaku bersama istri tercinta. Seperti mengulang kisah yang pernah terjadi.

Selanjutnya: Kutemukan Nahdlatul Ulama… (3)

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles