32.8 C
Jakarta
Thursday, May 19, 2022

Kutemukan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dalam Satu Atap (1) – Arrahim.ID

AswajaKutemukan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dalam Satu Atap (1) - Arrahim.ID

Views 7

Tiga dasawarsa yang lalu, saya terlahir dari keluarga sederhana di sebuah desa kecil bernama Genteng, Kabupaten Banyuwangi, termasuk kawasan ujung timur di Pulau Jawa. Secara geografis, Desa Genteng terletak tepat berada di kawasan tengah Kabupaten Banyuwangi.

Desa ini termasuk daerah yang strategis, lebih tepat disebut sebagai jalur perekonomian strategis karena hampir sebagian besar komoditas hasil pertanian dan peternakan. Selain sebagai jalur perekonomian strategis, Desa Genteng juga tepat bila disebut sebagai kawasan budaya strategis. Secara umum terdapat tiga suku besar yang mendominasi Banyuwangi —di antaranya adalah Suku Madura, Jawa, dan Osing. Ketiga suku tersebut secara dominan menempati tiga wilayah utama di Banyuwangi. Sedangkan titik pertemuannya berada di Desa Genteng.

Banyuwangi kawasan barat yang notabene memiliki wilayah dataran tinggi dan dominan kawasan hutan, sebagian besar penduduknya adalah Suku Madura yang menempati wilayah Kalibaru dan Glenmore. Banyuwangi kawasan tengah dengan wilayah dataran rendah sebagian besar penduduknya adalah Suku Jawa yang menempati wilayah Tegalsari, Gambiran, dan Genteng. Terakhir, Banyuwangi kawasan Timur yang lebih dominan dengan kawasan pesisir, sebagian besar penduduknya adalah Suku Osing yang menempati wilayah Blimbingsari, Kabat, Glagah, Giri, dan Banyuwangi.

Ketiga suku tersebut hidup harmonis dengan mewarnai kebudayaan Banyuwangi. Terlebih, banyak di antara masyarakat dari ketiga suku tersebut menjalin hubungan kekerabatan hingga ke jenjang pernikahan. Sehingga sekat pembatas berbasis primordial kesukuan (etnosentris) di Banyuwangi terlihat tidak begitu menonjol. Hal ini juga dialami oleh orangtua saya saat itu.

Dua Kutub dalam Bingkai Harmoni

Keluarga ibu saya, Hermawati, tergolong berasal dari keluarga saudagar di Desa Gendoh. Selain itu, hampir sebagian besar keluarga ibu merupakan Suku Osing. Sebagai keluarga saudagar, ibu dan keluarga besarnya menjadi bagian anggota Persyarikatan Muhammadiyah. Tidak mengherankan bila Desa Gendoh menjadi basis Muhammadiyah dengan banyaknya amal usaha yang berdiri di sana. Meski berlatar belakang Suku Osing, tak serta merta mereka turut dalam kegiatan tradisi Suku Osing —bentuk dinamisasi yang dilakukan sebatas menggunakan bahasa Osing sebagai bahasa sehari-hari.

Salah satu saudara dari kakek saya bernama Kiai Abdul Mun’im merupakan Ketua Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Banyuwangi di zamannya. Bahkan saat Partai Amanat Nasional yang didirikan Amien Rais, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah saat itu mulai diresmikan, beliau termasuk tokoh yang mempersiapkan infrastruktur partai di Banyuwangi.

Ibu saya, selain sebagai ibu rumah tangga, aktivitas sosial keagamaannya turut aktif terlibat sebagai ibu-ibu yang tergabung dalam Aisyiah —sebagai salah satu Ortom Muhammdiyah dengan basis anggota mayoritas ibu-ibu. Sekali pun banyak kerabatnya merupakan pengurus aktif di struktural Muhammadiyah, di Aisyiah ibu hanya seorang anggota kultural. Dalam sebulan terkadang bisa satu hingga tiga kali kegiatan pengajian yang bersama teman-temannya di Aisyiah.

Ayah saya, Asmuri, merupakan seorang bersuku Madura pendatang. Ayahnya, Asmat, sejak muda memilih merantau bersama adiknya bernama Salma dari Madura ke Banyuwangi —walau dalam perjalanan tersebut keduanya terpisah cukup lama. Asmat terdampar di Banyuwangi dan Salma di Jember. Kedua saudara tersebut menikah di tempat perantauannya masing-masing.

Berbeda halnya dengan ibu saya yang berasal dari keluarga struktural Muhammadiyah, ayah saya justru seorang jamaah Nahdlatul Ulama (NU). Ayah yang aktif secara kultural, tidak banyak terlibat pada kepengurusan ranting di desa.

Perbedaan strata sosial dan ekonomi, menyebabkan orang tua Ibu sempat melarang hubungan orang tua saya karena kekhawatiran kehidupan Ibu yang tidak tercukupi. Namun cintalah merobohkan tembok pembatas itu. Keduanya hidup sederhana dan bahagia —melahirkan dua kakak perempuan, saya, dan adik laki-laki yang meninggal pada usia tidak sampai seminggu.

Aktivitas sosial keagamaannya sebagai seorang nahdliyin di antaranya sebatas hanya mendatangi undangan doa tahlil dan yasinan baik kerabat maupun tetangga yang baru saja mendapat musibah. Ia termasuk pribadi yang suka berziarah, bahkan termasuk di komplek makam keluarga ibuku yang notabene keluarga besar Muhammadiyah. Di sana ia sering terlihat begitu khusyuk berdoa bersama ibu dan anak-anaknya yang turut berziarah. Termasuk bersuka cita menyambut kelahiran Nabi Muhammad dengan bermauludan.

Karakter ayah persis dengan saya yakni berkepribadian introvert, maka jarang kutemui ia mendatangi kegiatan bersifat umum seperti manaqiban, haul, dan lain sebagainya. Namun meski begitu, ia menaruh rasa hormat kepada ulama-ulama NU karena dalamnya keilmuan yang dimilikinya. Tak jarang kami membincangkan beberapa kiai ternama di Jawa karena kealimannya.

Seperti halnya ketika masa mudanya ia belajar ilmu tasawuf kepada Mbah Mardji yang berjarak sekitar 3 kilometer dari rumah. Mbah Mardji tidak memiliki pesantren. Ia termasuk seorang yang dituakan di kampungnya karena usianya sudah mencapai 103 tahun. Beliau termasuk salah satu murid Syeikh Kholil Bangkalan sebelum akhirnya memutuskan merantau ke beberapa pesantren di kawasan Banyuwangi Selatan.

Hubungan dengan ulama lainnya adalah persahabatannya dengan Imam Masjid Besar Baiturrahman Genteng, KH Abu Bakar —saya sering memanggilnya Kiai Bakar. Persahabatannya keduanya bermula ketika ayah saya menjadi jamaah tetap yang rutin mengikuti salat fardu jamaah di masjid —selain juga sering menempati saf paling depan, tepat di belakang KH Abu Bakar sebagai imam masjid. Keduanya sering terlihat pulang bersama seusai salat jamaah. Tak jarang ayah mengantarkan Kiai Abu Bakar hingga sampai rumahnya.

Ketika Idulfitri tiba, ayahku selain sebagai sahabat juga menjadi pengamat setia KH Abu Bakar sebagai imam shalat Idulfitri di Masjid Baiturrahman. Beberapa kali saya sering mendengar ayah mengomentari bacaan Kiai Abu Bakar yang sedikit tersedat. Ayahku menduga kesehatan Kiai Abu Bakar sedikit terganggu. Kondisi tersebut langsung diklarifikasinya dengan menanyakannya langsung saat silaturahim di kediaman Kiai Abu Bakar. Mendengar ayah mengatakan hal tersebut, kiai hanya bisa tersenyum dan mengatakan terima kasih atas perhatian ayah kepada beliau.

Seusai salat Idulfitri dan selesai menerima kunjungan adik-adik ayah yang tinggal berdekatan dengan kami, orang pertama yang dikunjungi ayah adalah Mbah Mardji. Ibu, bersama kedua kakak perempuanku sering mengikutinya. Bagi ayah, Mbah Mardji adalah sosok yang paling dikagumi dan dihormatinya. Di rumah Mbah Mardji yang sederhana, kami lebih sering banyak mendengar perbincangan antara guru dan murid tersebut.

Kala mendengar ayah saya wafat, Mbah Mardji dan KH Abu Bakar mengalami kesedihan yang luar biasa. Dalam beberapa kesempatan, Mbah Mardji dengan suara yang berat dan mata yang berkaca-kaca. Sedangkan KH Abu Bakar dengan kerelaan hatinya menjadi pemimpin doa tahlil di rumah sejak tujuh hari hingga seribu hari tahlil tanpa pernah absen sekali pun.

Ibu yang seorang anggota Aisyiah, selama doa tahlil untuk ayah —turut larut dalam kesedihan —termasuk kesibukan mempersiapkan kebutuhan konsumsi para undangan yang sebagian besar tetangga. Meski tidak semua, beberapa kerabat ibu yang merupakan anggota kultural Muhammadiyah di kampung masa kecilnya juga turut hadir dalam doa tahlil untuk ayah di rumah.

Selama kegiatan tahlil, ibu tak pernah menunjukan ego keagamaan sebagai seorang anggota kultural Muhammadiyah dengan menolak dan menganggap sebagai bidah. Ibu dengan tulus terlibat langsung atas kelancaran kegiatan tahlil untuk ayah meski hanya dengan memasak di dapur bersama kerabat yang sebagian besar anggota kultural NU.

Ibu mafhum tinggal di lingkungan berbasis NU, tak lantas memusuhi amalan-amalan nahdliyin dan menghukuminya sebagai suatu yang salah karena watak keagamaan yang memiliki kedekatannya dengan budaya lokal.

Sekali pun ibu tak begitu banyak memahami dari aspek teoritis, rasanya barang kali itulah cara ibu menerjemahkan dakwah kultural seperti halnya yang pernah diagendakan Muhammadiyah setelah keputusan Sidang Tanwir Muhammadiyah di Denpasar (2002), Makasar (2003), Mataram (2004), hingga Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang (2005). Di antaranya dengan membangun hubungan dialogis antara Islam dan budaya sehingga dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat yang beragam kondisi sosio-kulturnya.

Selanjutnya: Kutemukan Nahdlatul Ulama… (2)

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles