30.3 C
Jakarta
Saturday, May 28, 2022

Kremlin: Antara Kekuasaan, Tirani, dan Mitos | DW | 13.04.2022

WorldKremlin: Antara Kekuasaan, Tirani, dan Mitos | DW | 13.04.2022

Pusat kekuasaan, tempat tinggal penguasa, dan jantungnya budaya Rusia. Di sepanjang masa, Kremlin adalah tempat penguasa Moskow putuskan arah politiknya. Namun, juga lebih dari sekadar markas besarnya penguasa Rusia.

Kremlin yang bentengnya dihiasi lapisan timah putih, berdiri megah di tepi sungai Moskva. Tepat di seberangnya, dibatasi Lapangan Merah yang terkenal, dan ada Katedral St. Basil dengan kubah keemasannya yang ikonis. Ansambel bangunan ini, tidak sekadar menunjukkan citra megah. Namun, di sinilah juga sejak bebeberapa abad silam, diputuskan politik Rusia.

Kremlin adalah titik kristalisasi sejarah sekaligus pusat kekuasaan Rusia. Dari mulai “Ivan the Terrible” yang merupakan Tsar pertama, Stalin, hingga sekarang Presiden Vladimir Putin, semua penguasa puncak ini memerintah dari Kremlin.

“Kremlin adalah perwujudan dari Rusia,” ujar sejarawan Inggris, Catherine Merridale. “Itu simbol kekuasaan negara.”

Ketika Presiden Rusia Vladimir Putin menerima para tamunya, menjelang perang di Ukraina, dunia menyaksikan sebuah pertunjukan spektakuler. Presiden Prancis Emanuel Macron atau Kanselir Jerman Olaf Scholz duduk bersama Putin di sebuah meja berbentuk oval yang sangat besar. Masing-masing pemimpin duduk di ujung meja yang jaraknya sangat jauh.

Sebuah demonstrasi kekuasaan? Atau sebuah tindak pengamanan dari penularan infeksi COVID-19? Kremlin menjaga jarak dengan para tamunya. “Hal ini cocok dengan karakter Kremlin,” kata Merridale. Sangat mempesona dan juga teater megah, kata sejarawan Inggris itu dalam wawancara dengan harian Jerman, Süddeutsche Zeitung.

Vladimir Putin berunding dengan Olaf Scholz di Kremlin

Presiden Rusia Vladimir Putin berunding dengan Kanselir Jerman Olaf Scholz di sebuah meja yang sangat besar di Kremlin

Demonstrasi kekuasaan

Kemegahan dan besarnya Kremlin juga punya tujuan tertentu. Istana para Tsar itu harus lebih besar dan lebih megah dari istana manapun yang ada di Eropa.

“Ini merupakan sebuah intimidasi arsitektur,” ujar sejarawan Inggris yang menulis buku “Red Fortress” yang merunut sejarah 500 tahun kekuasaan di Kremlin itu. Juga penguasa Kremlin saat ini, Vladimir Putin tahu persis bagaimana memanfaatkan istana Tsar itu untuk kepentingan citranya.

“Aula yang megah gemerlapan, lampu gantung keemasan, ruangan super besar, orang pasti akan terperangah,” ujar Merridale.

Penulis perjalanan wisata dan diplomat Prancis, Marquis Astolphe de Custine, bahkan menulis “inilah monumen setan dan demonstrasi kekuasaan para tiran.” Custine melakukan kunjungan panjang ke Rusia pada 1839 untuk membuat tulisan tentang pemerintahan otoriter.

Despotisme mengekang kebebasan berkembang rakyat,” tulis bangsawan Prancis itu. “Semua pelayan di Kremlin bersikap sangat hati-hati dan curiga, terutama terhadap orang asing.”

Namun, diplomat, penulis, dan bangsawan Prancis itu juga mengungkapkan kekagumannya pada Kremlin. “Sebuah metode konstruksi Rusia asli, yang mencatat kebutuhan Rusia dan jadi contoh tentang apa yang harus diikuti para pakar bangunan Rusia di kemudian hari.”

  • Cars drive down the street in Red Square as the military stands on one side (Reuters/S. Karpukhin)

    Parade Militer Hari Kemenangan di Rusia

    Perayaan di Lapangan Merah

    Setiap tahun tanggal 9 Mei, Rusia merayakan kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman. Pada tengah malam hari itu di tahun 1945, dokumen kapitulasi Jerman ditandatangani. Pasukan Sekutu lainnya, seperti Perancis dan Inggris, merayakan Hari Kemenangan satu hari sebelumnya pada tanggal 8 Mei. Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu, memimpin pawai yang melintasi Lapangan Merah Moskow.

  • Russian serviceme in uniform cry out while holding their weapons (Reuters/M. Shemetov)

    Parade Militer Hari Kemenangan di Rusia

    Belasan ribu tentara

    Parade Hari Kemenangan 2018 juga menandai 100 tahun berdirinya Tentara Merah Uni Soviet tahun 1918 lalu. Pertunjukan itu mengikutsertakan sekitar 13.000 tentara, serta sejumlah veteran militer, berbaris bersama dalam koreografi yang sempurna. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut menyaksikan parade; dia berada di Moskow hari itu untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin.

  • Female members of a youth military organization march in uniform (Reuters/S. Karpukhin)

    Parade Militer Hari Kemenangan di Rusia

    Hari libur sakral

    Putin berbicara kepada peserta parade, seperti anggota kelompok militer pemuda (foto) dan warga Rusia yang menyaksikan perayaan di Lapangan Merah. “Ini adalah hari libur yang selalu akan menjadi sakral bagi setiap keluarga,” kata presiden. Dia juga memperingatkan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama yang menyebabkan PD II: “Egoisme, intoleransi, nasionalisme agresif dan merasa unik.”

  • Putin speaks in front of Saint Basil's Cathedral in Red Square (picture-alliance/dpa/Tass/M. Metzel)

    Parade Militer Hari Kemenangan di Rusia

    Kehebatan Rusia tidak akan terlupakan

    Rusia secara konsisten mengatakan, bahwa sekutu barat di Perang Dunia II mengecilkan peran Uni Soviet dalam mengalahkan Nazi Jerman. “Orang mencoba untuk menghapus prestasi rakyat kita dalam menyelamatkan Eropa dari perbudakan, dari kepunahan, dari kengerian Holocaust” kata Putin. Presiden telah menyatakan dirinya secara politis sebagai pembela Eropa tradisional.

  • A sniper and a man with binoculars (Reuters/S. Karpukhin)

    Parade Militer Hari Kemenangan di Rusia

    Sniper siap beraksi

    Kekuatan militer tidak hanya tampak di lapangan. Penembak jitu juga bertugas saat parade berlangsung. Lapangan Merah terletak di jantung kota Moskow dan merupakan lokasi Kremlin, kediaman resmi kepresidenan.

  • A boy holds binoculars while squinting to see the parade (Reuters/M. Shemetov)

    Parade Militer Hari Kemenangan di Rusia

    Pameran kekuatan militer Rusia

    Sekitar 159 perangkat keras militer ditampilkan, termasuk jet interseptor supersonik MiG-31 yang dipersenjatai dengan rudal. Sebagian besar peralatan terbaru telah diuji dalam konflik di Suriah, ujar kementerian pertahanan. Peralatan baru yang dipamerkan termasuk drone, robot pembersih ranjau, dan tank tanpa awak. Penulis: Christina Burack (vlz/as)


Gereja Ortodoks selalu hadir

Sejarawan Inggris, Merridale, menyebutkan gereja Ortodoks selalu hadir untuk mempersatukan pusat kekuasaan politik dan ikon kebudayaan Rusia, dua hal yang kelihatannya bertentangan.

Sebagai dampak invasi Mongol pada abad 14, para pemimpin federasi longgar Kievan Rus, yang saat ini menjadi Rusia, Ukraina, dan Belarus pindah ke Kremlin. Sebuah gereja dibangun di dekat Kremlin, yang kemudian dikenal sebagai Katedral St. Basil dengan kubah keemasan, sebuah gereja ortodoks yang selalu hadir sepanjang sejarah Kremlin.

“Putin memanfaatkan koneksi gereja dan Kremlin untuk membangun citranya, melebihi para Tsar sebelumnya,” kata Merridale. “Dia berdoa dan menyulut lilin untuk dilihat publik dan menjalin kontak dengan para pemimpin gereja Ortodoks.”

Ikon budaya Rusia

Kremlin juga selalu dijadikan tempat kediaman para Tsar. Namun, seiring dengan Revolusi Bolshevik pada 1918, untuk pertama kalinya Tsar digulingkan dan otoritas gereja ortodoks terputus. Kaum Bolshevik menguasai Kremlin.

Setelah itu para pemimpin komunis berkuasa dari Kremlin. Mereka membangkitkan lagi keunggulannya sebagai ikon budaya dan juga benteng pertahanan, baik dari serangan perang saudara, serangan pembunuhan, maupun pandemi mematikan.

Lenin selamat dari pandemi kolera, tifus, dan flu Spanyol. Ia punya kamar desinfeksi sendiri di sebelah kamar tidurnya. “Putin juga belajar dari Lenin untuk selamat dari pandemi saat ini. Pasalnya, Putin punya ketakutan luar biasa tertular COVID,” kata sejarawan Inggris peneliti Kremlin itu.

Josef Stalin (1878-1953) yang jadi penerus Lenin, juga memanfaatkan sifat benteng pertahanan Kremlin. Setelah kasus pembunuhan terhadap salah seorang pengikut setianya, Stalin tidak mempercayai siapapun. Ia mengusir seluruh “kamerad” dari Kremlin. Dimulailah era pembersihan dan proses pengadilan abal-abal. Sebuah era teror di Rusia.

Putin salahkan Gorbachev

Perubahan terus melanda Uni Sovyet. Muncul tokoh reformasi Mikhail Gorbachev yang menggaungkan program Glasnost dan Perestroika di tahun 1990-an. Sebagai dampaknya, Uni Sovyet bubar. Kremlin sekali lagi jadi pusat kekuasaan Rusia.

Vladimir Putin yang naik jadi Presiden Rusia untuk pertama kalinya tahun 2000, membebankan tanggung jawab kepada Gorbachev untuk bubarnya Uni Sovyet.

Kini Kremlin di tepian sungai Moskva kembali jadi pusat perhatian dunia. Bendera Rusia berkibar dan dari luar Kremlin tampak kokoh dan penuh kekuasaan. Namun di dalam, ada bahaya, seseorang yang akan kalah total. “Putin kini menjadi orang yang dijaga paling ketat di Rusia. Tidak ada yang dapat menumbangkannya dengan cepat,” pungkas Merridale.

(as/ha)

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles