in ,

Kredibilitas Amerika di panggung dunia meredup akibat kisruh rasisme. Namun, aktivisme warga Amerika melawan rasisme menjadi inspirasi

Aksi-aksi unjuk rasa yang dipicu oleh kematian warga negara kulit hitam George Floyd telah berlangsung lebih dari sebulan di Amerika Serikat (AS) dan dunia. AS pun kembali memanas setelah seorang laki-laki kulit hitam, Rayshard Brooks, lagi-lagi tewas di tangan polisi.

Gejolak rasisme di Amerika – negara dengan sistem demokrasi tertua di dunia dan yang menganggap dirinya sebagai pemimpin dunia
– membuat banyak pihak melihat Amerika sebagai negara yang munafik.

Berbagai pihak di kawasan Indo-Pasifik turut mempertanyakan kualitas demokrasi Amerika.

Namun demikian, perjuangan anti-rasisme warga negara AS menampilkan sisi positif bagi masyarakat dunia.




Baca juga:
Riset: diskriminasi dalam beragama di Indonesia salah satu yang tertinggi di dunia Islam


Kemunafikan Amerika

Kebrutalan polisi terhadap warga negara kulit hitam AS dan cara Presiden Donald Trump menanggapi para pengunjuk rasa, menampilkan babak baru pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di sana.

Pemerintah Cina, negara yang sering dikritik AS karena diskriminasi ras, agama, serta mengekang para aktivis politik, dengan cepat melayangkan kecaman betapa munafiknya AS.

Para pemerintah lainnya di kawasan Indo-Pasifik tidak banyak berkomentar terkait kondisi di dalam negeri AS. Namun demikian, masalah rasisme ini bisa menjadi pengingat bahwa meski negara itu membanggakan diri sebagai pemimpin atau panutan dalam hal demokrasi dan hak asasi manusia, Amerika seringkali tidak konsisten antara perkataan dan perbuatan.

Trump sendiri awalnya memang menolak untuk mengusung nilai-nilai moral di tingkat dunia, namun ia tampak kesulitan untuk lepas dari tradisi Amerika memainkan peran sebagai pembela nilai HAM dan demokrasi di dunia yang telah berjalan bertahun-tahun.

Contohnya, November tahun lalu, Trump menandatangani aturan yang melarang ekspor amunisi pengendali kerumunan pengunjuk rasa bagi satuan polisi Hong Kong. Kebijakan ini dikeluarkan untuk mendorong Cina agar bernegosiasi dengan otoritas Hong Kong menyusul serangkaian unjuk rasa anti-pemerintah Cina.

Kebijakan Trump tersebut bertolak belakang jauh dengan kebijakan dia sendiri yang membiarkan penggunaan kekuatan berlebihan oleh polisi terhadap orang kulit hitam dan para pengunjuk rasa anti-rasisme, serta ucapan-ucapan Trump di Twitter yang agresif.




Baca juga:
Explainer: ilmu psikologi menjelaskan bagaimana rasisme terbentuk dan bertahan di masyarakat


Mempertanyakan legitimasi Amerika

Kematian orang-orang kulit hitam di tangan sejumlah polisi AS, rangkaian unjuk rasa yang terjadi, dan beberapa respon pemerintah AS terhadap aksi protes warga negaranya bisa melemahkan legitimasi atau pengakuan negara lain terhadap klaim Amerika sebagai pejuang HAM dan demokrasi.

Pemerintah Amerika sendiri terus berusaha untuk menjadi yang terdepan di dunia, termasuk di kawasan Indo-Pasifik.

Dalam memajukan demokrasi, Amerika jelas memerlukan dukungan berbagai pihak lebih besar dari negara-negara demokrasi lainnya.

November tahun lalu, pemerintah Amerika misalnya mengeluarkan dokumen berjudul “A Free and Open Indo-Pacific”, yang merinci langkah-langkah yang telah diambil untuk memastikan kawasan ini selalu damai,

What do you think?

789 points
Upvote Downvote

Written by buzz your story

the-us’-credibility-on-world-stage-dims-as-racial-turmoil-escalates.-but-american-activism-might-be-a-beacon

The US’ credibility on world stage dims as racial turmoil escalates. But American activism might be a beacon

covid-19:-how-to-deal-with-our-cognitive-biases

COVID-19: how to deal with our cognitive biases