in

Kopi, Rokok, dan Radikalisme

Sebenarnya apa dampaknya jika pemerintah meratifikasi FCTC, selain kenaikan cukai yang signifikan dan banyak orang berhenti merokok? Bukankah itu bagus krn toh selama ini yang paling diuntungkan jenis industri ini sebenarnya pabrikan yang notabene sebagian besar sudah dikuasai asing dan aseng?

Dampak secara ekonominya sebenarnya tidak perlu dijelaskan lagi. Sebab bukan hanya para petani tembakau, pedagang eceran dan buruh2 pabrik yangg akan ‘gulung koming’ jika kontrol ketat tembakau diberlakukan dan pajak dinaikkan hingga menjepit leher. Itu sudah sangat jelas dan tidak perlu kerangka analisa lagi, termasuk dampak ikutannya.

Akibat kenaikan cukai dan kampanye besar2an anti rokok, banyak orang akan pindah ke produk2 “low tar dan low nikotin” sampai mengkonsumsi “rokok” imitasi seperti fave yang bukan saja jauh lbh berbahaya secara kesehatan sebenarnya, tapi juga produk2 itu didesakkan oleh osang asing sebagai alternatif yang ente bilang itu. Alternatif kok monopolistik dan njancuki, pakai menebar teror/ketakutan dibungkus rokok dengan gambar2 ndeso tidak masuk akal. Sayangnya, membunuh/menyumbat satu kanal, dan disisi lain membuka banyak keran sesuai keinginan pembuat/pemesannya adalah strategi bisnis yang mudah terbaca, namun tetap efektif dilakukan oleh korporasi2 bejat itu ternyata.

Tetapi saya pun punya cerita lain. Suatu ketika saya ditanya oleh petinggi Polri, bagaimana menghadapi radikalisasi agama yang kian masif seperti sekarang ini? Apa perlu bikin pelatihan da’i2 yang lebih nasionalis dan berdedikasi terhadap islam kebangsaan yang rahmatan lil alamin?

Jawaban saya : Ndak, ndak perlu repot2 Jenderal. Kalau mau, perbanyak saja kedai kopi dan anjuran merokok!

Loh apa hubungannya?

Sebab ulama, para ustazd–baik yang asli atau abal-aba— jika mereka mengharamkan rokok, selain umumnya ndak doyan ngopi dan belum pernah ngaji kitab ‘Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan’ beserta syarah-syarahnya, juga cenderung berkacamata kuda alias intoleran terhadap perbedaan. Dari sinilah segala pintu pandangan radikal tak hanya dibidang keagamaan, muncul. Orientasinya hanya satu : Kaffahisme. Semacam positivisme dalam ilmu2 sosial. Semua harus bersih, suci dan murni. Merokok itu kotor bla bla bla… Padahal kalau mrk rajin nongkrong dikedai kopi, apalagi sambil rokokan, maka hidup akan lebih rileks serta bisa bertukar pikiran dengan liyan secara adem sehingga mampu melihat banyak sudut pandang untuk meraih kebaikan. Tidak perlu dikit2 serang, basmi, hancurkan, teriak Takbir yang tidak pada tempatnya ujung2nya mengandalkan “Tentara Allah” hanya karena sesat pikir untuk mengatasi perkara2 yang sebenarnya menjadi domain kamanungsan.

Oleh: Paox Iben

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

Written by Dianita Samantha

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Membuat Vaksin Virus Corona Dari Tembakau

Terkait Industri Rokok, Ahok: Jangan Mau Diatur-atur Asing