Konsep Hakimiyah dan Aksi Terorisme di Indonesia

by -9 views
konsep-hakimiyah-dan-aksi-terorisme-di-indonesia
Konsep Hakimiyah dan Aksi Terorisme di Indonesia
Konsep Hakimiyah dan Aksi Terorisme di Indonesia

BincangSyariah.Com- Berikut penjelasan terkait konsep hakimiyah dan aksi terorisme di Indonesia. Pasalnya, konsep ini terkadang yang menjadi dasar legitimasi untuk melakukan tindakan terorisme.

Pada periode 2020-2021 lalu, Indonesia beberapa kali digegerkan oleh aksi terorisme. Pada Maret 2021 misalnya,  Gereja Katedral Makasar, diledakkan oleh bom bunuh diri.  Tak berselang lama,sebulan kemudia  pada April disusul oleh serangan seorang perempuan di Markas Besar Polisi Republik Indonesia.

Yang menarik dari terror tersebut, para pelaku yang tewas di tempat selalu meninggal sepucuk surat wasiat untuk keluarga. Dalam dua surat wasiat tersebut, jelas terindikasi paham agama para pelaku.

Zakiah  Aini terduga teroris Mabes Polri misalnya, ia menulis; “Pesan berikutnya agar Mama berhenti bekerja menjadi Dawis yang membantu kepentingan pemerintah thogut. Inti pesan Zakiah kepada mama dan keluarga adalah agar tidak mengikuti kegiatan pemilu.

Karena orang-orang yang terpilih itu akan membuat hukum tandingan Allah bersumber Alquran-Assunah. Demokrasi, Pancasila, UUD, pemilu, berasal dari ajaran kafir yang jelas musyrik,”.

Konsep Hakimiyah 

Dari sepucuk surat itu, tampak ZA merupakan orang yang menganut paham Hakimiyah. Paham ini juga dikenal dengan istilah Devine Law (hukum tertinggi). Dalam hal ini, syariat Islam berposisi sebagai divine law (hukum tertinggi) yang berasal dari Tuhan. Mengandung pelbagai aturan normatif sebagai pedoman hidup  Islami bagi  seluruh kaum Muslim.

Tidak ada penguasa dan pembuat hukum kecuali Allah, karena itu Tuhan adalah pengatur terakhir dari kehidupan di muka bumi. Dalam pandangan ini, perlunya mengabaikan dimensional kompleksitas manusia, lalu membagi dalam dua kategori saja. Yakni Islam atau bukan Islam (jahili), pengikut Allah (idzbullah) atau pengikut setan (idzb al-syaithan). 

Lebih lanjut, Sayyid Quthb dalam buku berjudul Milestone, mengatakan bahwa syariat Islam itu merupakan hukum universal (univeral law) yang dianugerahkan Tuhan untuk mengatur kehidupan manusia.

Hukum Tuhan ini berperan penting dalam mewujudkan keharmonisan dan integrasi antar manusia dalam bentuk personal, internal, maupun eksteranal hubungan manusia tersebut.

Bagi Quthb, syariat Islam itu hanyalah milik Allah, yang bersumber dari kalimat tauhid lāilāha illa Allāh. Dengan tema sentral ini, Quthb meyakini syariat Islam merupakan hukum Tuhan yang diturunkan kepada umat manusia untuk mengatur pelbagai urusan mereka secara totalitas.

Sebagaimana dalam karyanya Māalim fi Thariq, penerapan syariat Islam secara paripurna harus termanifestasi dalam anggota-anggota masyarakat kaum muslim di seantero dunia,  dan juga dalam  peraturan serta undang-undang  negara mereka.

Bila itu semua telah dilaksanakan, maka masyarakat (perkumpulan)  itu  menjadi perkumpulan Islam (hizbullah), dan masyarakat yang mereka bentuk itu baru sah menjadi masyarakat Islam (Muslim).

Ada kajian menarik  dari uraian Mousssali tentang  konsep hukum Islam yang di bangun Quthb, bahwa seluruh  masyarakat yang bernaung di bawah hukum manusia,  maka wilayahnya termasuk daerah perang (dr harb), objek legal dalam memantik revolusi Islam.

Konsep Hakimiyah ini, pada ujungnya akan melahirkan paham takfirisme/takfiriyyah (mengkafirkan) sesama muslim.  Paham yang mudah mengkafirkan umat Islam, meskipun ia shalat, naik haji, mengucapkan syahadat, puasa. Penyebabnya Muslim itu dikafirkan sederhana, mereka memandang kaum muslim itu tak mau masuk dalam golongan mereka.

Menurut Haidar Bagir, dalam buku Islam Tuhan, Islam Manusia, takfirisme kontemporer menjelma menjadi ekstrimisme keagamaan. Paham ini banyak menjadi dasar lahirnya gerakan terorisme. Paham ini menganggap pemerintah yang sah thagut—tak berhukum dengan hukum Allah—, dan juga kafir, karena melaksanakn hukum selain Al-Qur’an.

Islam Agama Cinta Kasih

Islam bukanlah demikian. Pun Islam tak mengajarkan kekerasan. Terlebih pada manusia. Islam itu cinta dan kasih.

Allah berfirman dalam Q.S al-Maidah ayat 32;

مَنۡ قَتَلَ نَفۡسًۢا بِغَيۡرِ نَفۡسٍ اَوۡ فَسَادٍ فِى الۡاَرۡضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيۡعًا ؕ وَمَنۡ اَحۡيَاهَا فَكَاَنَّمَاۤ اَحۡيَا النَّاسَ جَمِيۡعًا ‌ؕ

Artinya: barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.

Dalam ayat di atas, tampak Islam dan kemanusiaan selaras. Nyawa manusia begitu berharga dalam Islam. Cinta dan kasih tujuan agam ini berdiri. Pun syariat Islam itu sendiri, harus berdasarkan pada pertimbangan kemanusiaan.

Ulama kontemporer, Yusuf al Qardhawi mengatakan dasar dan asas syariah adalah kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat. Pebagai syariat Islam itu sejatinya mengandung keadilan, rahmat, kemaslahatan, dan hikmah.

Untuk itu, kata al-Qardhawi ia menolak keras kelompok yang menggunakan pendekatan literal (al harfiyun). Golongan yang tak melihat substansi syariat, tak juga memperhatikan tujuan syariat, dan tak mengindahkankan makna syariat Islam. Golongan ini hanya melihat dan menafsirkan Al-qur’an secara literlek.

Dengan demikian, tindakan terorisme dan ekstrimisme merupakan penyakit akut di Indonesia. Harus ada upaya ekstra untuk membasmi. Upaya derekalisasi telah dilakukan. Namun, hingga kini jaringan terorisme itu masih ada. Dan kian massif.

Kita sebagai masyarakat harus terbuka cara pandangnya terhadap Islam. Dan harus terus belajar Al-Qur’an dan hadis. Agar tak salah paham tentang pelbagai hukum dan syariat Islam. Sebagai penutup saya mengingatkan kita “Fondasi Islam dan Syariat Islam adalah kemanusian”

Demikian konsep hakimiyah yang dianut oleh para terorisme yang marak di Indonesia. Semoga bermanfaat. (Baca juga: Kritik Konsep Hakimiyah Sayyid Qutub).

More

Leave a Reply

Your email address will not be published.