KLB Hepatitis, IDI dan IDAI Belum Kantongi Faktor Penyebab – kbr.id

by -13 views
klb-hepatitis,-idi-dan-idai-belum-kantongi-faktor-penyebab-–-kbr.id
KLB Hepatitis, IDI dan IDAI Belum Kantongi Faktor Penyebab

Tangkapan Layar Surat Edaran Kemenkes soal Kasus Hepatitis Akut. Kemenkes.go.id

KBR, Jakarta- Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau masyarakat waspada terhadap hepatitis akut atau hepatitis misterius. Pasalnya penyakit ini belum diketahui penyebabnya.

Ketua Umum PB IDI, dr Moh. Adib Khumaidi juga meminta seluruh tenaga kesehatan dan lapisan masyarakat, terutama para orang tua dan anak agar tetap ketat menerapkan protokol kesehatan terutama selama Lebaran.

“Saat ini, hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya ini telah secara resmi dipublikasikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh Badan Kesehatan Dunia WHO. Sejak secara resmi dipublikasikan sebagai KLB oleh WHO, jumlah laporan kasus ini terus bertambah, dimana tercatat lebih dari 170 kasus dilaporkan oleh lebih dari 12 negara,” kata Adib dalam keterangan pers, Selasa, (3/5/2022).

Ketua Umum PB IDI, dr Moh. Adib Khumaidi menjelaskan, hepatitis akut ini memiliki gejala perubahan warna urin menjadi gelap dan/atau feses pucat, lalu kuning, gatal, nyeri sendi atau pegal-pegal, demam tinggi, mual, muntah, atau nyeri perut. Gejala lainnya ialah lesu, dan/atau hilang nafsu makan, diare, serta kejang, dan ditandai dengan Serum Aspartate transaminase (AST)/SGOT atau Alanine transaminase (ALT)/SGPT lebih dari 500 U/L.

“Sementara dari pemeriksaan Laboratorium tidak ditemukan virus Hepatitis A, B, C, D, dan E. Namun, pada beberapa kasus ditemukan SARS-Cov-2 dan/atau Adenovirus. Oleh karena itu, pemeriksaan pathogen (biologis maupun kimiawi) perlu dilakukan lebih lanjut,” imbuhnya.

Imbauan IDAI

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI), dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K) juga meminta seluruh dokter anak dan residen dokter anak juga turut mengawasi apabila gejala di atas muncul pada pasien.

IDAI juga mendorong masyarakat tetap tenang, berhati-hati, tetap menjaga kesehatan, dan mencegah infeksi dengan cara:

• Mencuci tangan

• Meminum air bersih yang matang

• Makan makanan yang bersih dan matang penuh

• Membuang tinja dan atau popok sekali pakai pada tempatnya

• Menggunakan alat makan sendiri-sendiri

• Memakai masker dan menjaga jarak

• Mendeteksi secara dini jika menemukan anak-anak dengan gejala-gejala seperti kuning, mual/muntah, diare, nyeri perut, penurunan kesadaran/kejang, lesu, demam tinggi memeriksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan terdekat

IDI dan IDAI berkomitmen mendukung pemerintah dan berkoordinasi dengan para ahli kedokteran terkait untuk penyelidikan menyeluruh atas kasus-kasus yang dicurigai sebagai hepatitis akut yang belum diketahui etiologinya.

IDI dan IDAI juga meminta bantuan dan dukungan dari setiap tenaga medis dan tenaga kesehatan untuk aktif mengedukasi masyarakat setempat untuk segera mengunjungi Fasilitas Layanan Kesehatan (Fasyankes) terdekat apabila ada anak atau anggota keluarga yang mengalami gejala di atas.

Selain itu, berkoordinasi dengan dokter spesialis anak terkait untuk menindaklanjuti dan mengawasi dengan ketat penyakit ini, serta melaporkan keada Dinas Kesehatan setempat.

Waspada

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan menerbitkan surat edaran untuk mewaspadai perkembangan penyakit Hepatitis akut melalui surat edaran bernomor HK.02.02/C/2515/2022 tentang Kewaspadaan Terhadap Penemuan Kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Ekologinya (Acute Hepatitis of Unknown Etiology). Dalam SE itu, disebutkan WHO telah menetapkan penyakit ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

Kewaspadaan pemerintah semakin meningkat, setelah tiga pasien anak meninggal saat dirawat di RSUPN Dr. Ciptomangunkusumo Jakarta. Dugaannya karena hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya. Mereka meninggal dalam kurun waktu yang berbeda dengan rentang dua minggu terakhir hingga 30 April 2022.

Ketiga anak tersebut itu pasien rujukan dari rumah sakit di Jakarta Timur dan Jakarta Barat. Gejalan yang dialami ketiga anak itu ialah, mual, muntah, diare berat, demam, kuning, kejang dan penurunan kesadaran.

Baca juga:

Editor: Sindu

More

Leave a Reply

Your email address will not be published.