Keutamaan Hari Jum’at; Haji Seminggu Sekali

by -11 views
keutamaan-hari-jum’at;-haji-seminggu-sekali

BincangSyariah.Com– Keutamaan hari Jum’at, seperti haji seminggu sekali. Ini mengindikasikan bahwa hari Jum’at merupakan hari yang mulia. Keutamaan Hari Jumat, penuh ampunan dan rahmat Allah.

Dari satu sisi, Islam sangat idealis. Namun di sisi lain, islam juga realistis dengan tidak menutup mata dari realitas yang ada. Sebelum memulai tulisan ini, kami akan mengutip salah satu jargon yang seringkali disampaikan oleh Kiyai Afifuddin Muhajir, baik di seminar-seminar maupun dalam bukunya.

النزول من المثل الاعلي الي الواقع الادني

“turun dari langit idealisme menuju dunia realitas”

Dalam konteks haji, idealnya semua umat islam menunaikan haji ke Baitulharam sebagaimana diwajibkan oleh syariat. Namun melihat realitas, tidak semua umat islam mampu melaksanakan kewajiban haji tersebut karena banyak faktor.

Bisa karena alasan ekonomi, kondisi fisik, administrasi Negara, dan tidak adanya mahram bagi perempuan juga menjadi alasan tidak bisa menggelar haji.

Keutamaan Hari Jum’at, Seperti Ibadah Haji

Maka Nabi Muhammad saw. memberikan solusi bagi mereka yang tidak mampu menunaikan haji, yaitu melaksanakan Jum’at. Bukankah, hari jum’at adalah hari istimewa bagi ummat Nabi? Maka tidak mengherankan jika Nabi memberikan “obat” untuk ummatnya yang ingin menyicipi pahala haji namun tidak mampu melaksanakannya.

Orang yang tidak mampu haji maka dengan melaksanakan Jumat bisa mendapat (pahala) haji. Inilah keistimewaan dan keutamaan hari Jum’at

Dalam hal ini, al-Qadla’i dan Ibnu Asyakir meriwayatkan hadis Nabi dari Ibnu Abbas. (al-Qadla’i, Musnad al-Qadla’i, 1/81).

: قال رسول الله : «الجُمُعَةُ حَجُّ الفُقَرَاءِ»

“Nabi Muhammad bersabda, “Adapun Jum’at adalah hajinya orang-orang fakir”

Sudah barang tentu hadis di atas (seandainya sahih) tidak bisa dipahami secara skrituralis. Artinya, orang-orang yang tidak mampu melaksanakan haji memang mendapat pahala haji jika melaksanakan jum’at.

Namun bukan berarti menggugurkan kewajiban haji seandainya suatu hari telah memenuhi syarat-syarat kewajiban haji. (Baca juga: Ini Amalan Shalawat Sahabat Ibnu Mas’ud di Hari Jumat).

Pengarang kitab Faidul Qadir mengutip pendapat al-Manawi dalam mengomentari tentang hadis di atas.

قال العامري: لما عجز المسكين عن مال الحج أو ضعف وكان يتمناه بقلبه نظر الكريم إلى تحسره فأعطاه ثواب الحج بقصده على منوال خبر إن بالمدينة أقواما ما قطعتم واديا إلا وقد سبقوكم إليه حبسهم العذر

“tatkala orang-orang miskin tidak mampu melaksanakan haji karena faktor ekonomi ataupun fisik sementara ia sangat menginginkan menunaikan ibadah haji maka Allah swt memandang akan kesedihannya kemudian Allah memberikan pahala haji sebab tekad dan komitmen baiknya. 

Sesungguhnya di Madinah ada masyarakat yang  kalian tidak menempuh suatu lembah kecuali mereka akan mendahuluinya. Hanya saja, mereka ada halangan” (Abdurrauf, Faidul Qadir, 3/359).

Dalam kitab yang sama, pengarang kitab Faidul Qadir itu juga menegaskan bahwa yang dimaksud dengan hadis tersebut bahwa jum’at adalah haji bagi orang yang tidak mampu adalah majazi bukan secara hakiki.

يعني من عجز عن الحج وذهابه يوم الجمعة إلى المسجد هو له كالحج وليس معناه سؤال الناس له

“yang dimaksud (dengan hadis) adalah barang siapa yang tidak mampu melaksanakan haji maka berangkatnya orang tersebut untuk melaksanakan jum’at di masjid sama dengan haji (pahalanya) bukan sebagaimana permintaan orang-orang kepada haji itu sendiri”

Namun demikian, terlepas dari pro-kontra tentang hadis itu, baik dari sanad maupun dilalahnya. Umat islam sepakat bahwa hari jum’at dan sholat jum’at merupakan keistimewaan umat ini. maka tidak mengherankan jika di dalamnya banyak mengandung fadhilah yang besar.

Kisah Keutamaan Hari Jum’at

Saking besar keutamaan hari jumat, pahala Jum’at disamakan dengan pahala haji. Sehingga membuat masyarakat kubur yang sudah meninggal pun merasa “cemburu” dan “iri” kepada masyarakat di dunia yang masih hidup, lantaran mereka tidak lagi bisa melaksanakan Jum’at.

Dalam kitab al-Mawaid al-Usyfuriyah misalnya menukil suatu hikayat tentang keutamaan sholat Jum’at dan keutamaan hari jumat yang disamakan dengan menunaikan haji yang mabrur 4 kali dalam satu bulan.

Syeh Muhammad bin Abu Bakar al-Usyfury menuturkan kisah Maisyarah yang berbincang-bincang dengan ahli kubur. Imam al-Zandusiti berkata, “Saya telah mendengar kalau Imam Abu Muhammad bin Abdillah bin Fadhal menyampaikan cerita saat beliau sedang mengajar. Namun cerita itu, disampaikan dalam bahasa Persia”

Adapun konten dari kisah itu adalah al-Auza’i berkata, “Suatu hari, Maisyaroh bin Khunnais berjalan melewati kuburan-kuburan. Sebagaimana dianjurkan Rasulullah, ia mengucapkan salam,;

“Semoga keselamatan tercurah limpahkan atas kalian semua wahai Ahli Kubur! Kalian telah mendahului kami dan kami pasti akan menyusul kalian. Semoga Allah swt. merahmati, mengampuni, dan memberkati kami dan kalian semua untuk berjumpa dengannya suatu saat, yaitu ketika kami telah mengalami apa yang kalian alami sekarang (mati)”

Setelah itu, dengan kebesaran Allah, Allah mengembalikan ruh ke jasadnya salah satu diantara ahli kubur itu. kemudian tanpa menjawab salam yang dilontarkan Maiysaroh, ahli kubur yang kembali bangkit itu langsung berkata dengan kata-kata indah dan fasih;

“Beruntung sekali kalian wahai penduduk bumi yang (masih hidup)! Kalian bisa melakukan haji setia bulan sebanyak empat kali tanpa susah payah pergi ke Mekah”

Maisyaroh kebingungan, ia pun melontarkan pertanyaan, “kemanakah kami melakukan haji hingga sebanyak empat kali dalam setiap bulan? Bukankah waktu haji hanya satu kali dalam setahun? Semoga Allah merahmatimu” tegas Maisyaroh.

Si penghuni kubur lantas menjawabnya, “berangkat sholat jum’at. Apakah kalian tidak sadar kalau melaksanakan sholat jum’at adalah seperti menunaikan ibadah haji yang mebrur dan diterima?”.

Demikianlah sepenggal kisah tentang keistimewaan hari  Jum’at bagi umat ini. setelah memberi tahu hal itu, Maisyaroh sharing kembali dan minta pendapat amal apa saja yang berguna di akhirat.

Penghuni kubur pun memberi saran kepada Maisyaroh untuk banyak istighfar karena istighfar banyak manfaatnya di akhirat kelak. Dan penghuni kubur juga memberitahu bahwa kebaikan-kebaikan yang bisa dilakukan orang hidup tidak lagi memiliki nilai bagi orang yang meninggal karena kebaikan-kebaikan tersebut sudah diangkat dari ahli kubur.

Oleh karena itu, kebaikan orang yang sudah meninggal tidak akan bertamabah dan keburukannya tidak akan berkurang. (al-Usyfuriy, al-Mawaid al-Usyfuriyah, 7).

Demikian penjelasan terkait keutamaan hari Jum,at. Semoga keutamaan hari jumat tersebut memberikan manfaat kita semua. Wallahu a’lam. (Baca juga:  Hukum Berbagi Makanan Setelah Shalat Jumat)

Leave a Reply

Your email address will not be published.