31.1 C
Jakarta
Wednesday, May 25, 2022

Jerman Kucurkan Rp3 Triliun Bantuan Kemanusiaan untuk Afganistan | DW | 01.04.2022

WorldJerman Kucurkan Rp3 Triliun Bantuan Kemanusiaan untuk Afganistan | DW | 01.04.2022

Sejumlah negara menjanjikan $2,44 miliar (Rp35 triliun) untuk Afganistan, yang menurut PBB akan langsung disalurkan ke badan-badan bantuan. Para donor prihatin setelah Taliban melarang anak perempuan kembali ke sekolah.

Jerman akan menyumbangkan €200 juta (Rp3,1 triliun) untuk bantuan kemanusiaan tambahan ke Afganistan, Menteri Luar Negeri Annalena Baerbock mengatakan pada hari Kamis (31/03). Pengumuman itu disampaikan dalam konferensi donor virtual PBB yang bertujuan mengumpulkan USD4,4 miliar (Rp63,1 triliun) bantuan untuk Afganistan. Pada akhir pertemuan, 41 negara telah menjanjikan USD2,44 miliar (Rp35 triliun).

“Krisis kemanusiaan yang dihadapi warga Afganistan termasuk yang paling parah di dunia,” kata Baerbock.

Menlu Jerman itu juga memperingatkan komitmen Berlin di luar bantuan kemanusiaan akan terus bergantung pada tindakan pemerintah Taliban.

Situasi kemanusiaan di Afganistan memburuk

Target bantuan senilai USD4,4 miliar (Rp63,1 triliun) yang diharapkan PBB untuk membantu Afganistan adalah jumlah terbesar yang dijanjikan yang pernah ada untuk satu negara dalam konferensi. Pendanaan untuk program bantuan di Afganistan sebenarnya telah berhenti mengalir sejak pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban pada Agustus 2021.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan situasi kemanusiaan di negara itu telah “memburuk secara mengkhawatirkan” dan “semuanya runtuh” secara ekonomi.

“Sekitar 95% orang tidak memiliki cukup makanan. Sembilan juta orang berisiko kelaparan. UNICEF memperkirakan bahwa satu juta anak-anak yang kekurangan gizi berada di ambang kematian, jika tidak ada pertolongan segera,” katanya dalam pesan video.

“Ukraina sangat penting, tetapi Afganistan, Anda tahu, menyerukan kepada kami untuk komitmen dan kesetiaan,” kata Martin Griffiths, yang mengepalai Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan, menjelang penggalangan bantuan, Kamis (31/03).

Dia menambahkan, “Secara sederhana, program kemanusiaan yang kami imbau adalah untuk menyelamatkan nyawa.”

  •  Restoran di Herat ini yang sudah menerima pelanggan lagi.

    Afganistan: Perubahan Keseharian di Bawah Kekuasaan Taliban

    Dunianya laki-laki

    Foto dan video yang muncul dari Afganistan menunjukkan kembalinya aktivitas di jalanan perkotaan, seperti restoran di Herat ini yang sudah menerima pelanggan lagi. Tapi ada satu perbedaan mencolok dari sebelumnya: di meja hanya ada laki-laki saja, sering kali mengenakan pakaian kurta tradisional, tunik selutut. Perempuan di ruang publik menjadi hal langka di perkotaan.

  • Di sebuah universitas swasta di Kabul. Ada tirai yang memisahkan mahasiswanya.

    Afganistan: Perubahan Keseharian di Bawah Kekuasaan Taliban

    Harus terpisah

    Di sebuah universitas swasta di Kabul. Ada tirai yang memisahkan mahasiswanya. Pemisahan antara perempuan dan laki-laki ini sekarang menjadi kebijakan resmi dan kemungkinan akan terus menyebar. “Pembelajaran campur, lelaki-perempuan, bertentangan dengan prinsip Islam, nilai-nilai nasional, adat dan tradisi,” kata Abdul Baghi Hakkani, Menteri Pendidikan Taliban di Kabul.

  •  Para perempuan ini yang sedang dalam perjalanan mereka ke masjid di Herat

    Afganistan: Perubahan Keseharian di Bawah Kekuasaan Taliban

    Kebebasan yang hilang

    Seperti para perempuan ini yang sedang dalam perjalanan mereka ke masjid di Herat, setelah 20 tahun pasukan sekutu memerangi Taliban, kebebasan yang dulu didapatkan perempuan dengan cepat terhapus. Bahkan olahraga akan dilarang untuk pemain perempuan, kata Ahmadullah Wasik, wakil kepala Komisi Kebudayaan Taliban.

  • Pos pemeriksaan Taliban di Kabul

    Afganistan: Perubahan Keseharian di Bawah Kekuasaan Taliban

    Pos pemeriksaan di mana-mana

    Pemandangan di jalan juga didominasi oleh pos pemeriksaan Taliban. Ketika orang-orang bersenjata berat mengintimidasi warga, warga berusaha keras untuk berbaur. Pakaian gaya Barat menjadi semakin langka dan pemandangan tentara bersenjata lengkap semakin umum.

  • Buruh harian laki-laki duduk di pinggir jalan di Kabul

    Afganistan: Perubahan Keseharian di Bawah Kekuasaan Taliban

    Menunggu pekerjaan

    Di Kabul, buruh harian laki-laki duduk di pinggir jalan, menunggu tawaran pekerjaan. Afganistan, yang sudah berada dalam situasi ekonomi yang genting bahkan sebelum pengambilalihan Taliban, sekarang terancam “kemiskinan universal” dalam waktu satu tahun, menurut PBB. 98% warganya tahun depan akan hidup dalam kemiskinan, dibandingkan dengan 72% pada saat ini.

  • Perempuan Afganistan menggelar aksi protes di Kabul, 9 September 2021

    Afganistan: Perubahan Keseharian di Bawah Kekuasaan Taliban

    Tetap mencoba melawan

    Perempuan Afganistan, meskipun ditindas secara brutal, terus menuntut hak mereka atas pendidikan, pekerjaan, dan persamaan hak. Namun PBB memperingatkan bahwa protes damai juga disambut dengan kekerasan yang meningkat. Para Islamis militan menggunakan pentungan, cambuk dan peluru tajam membubarkan aksi protes. Setidaknya empat orang tewas dan banyak lainnya yang cedera.

  • Perempuan pendukung Taliban menggelar aksi di Kabul, 11 September 2021

    Afganistan: Perubahan Keseharian di Bawah Kekuasaan Taliban

    Ada juga perempuan yang ‘pro’ Taliban

    Perempuan-perempuan ini, di sisi lain, mengatakan mereka senang dengan orde baru. Dikawal oleh aparat keamanan, mereka berbaris di jalan-jalan mengklaim kepuasan penuh dengan sikap dan perilaku Taliban, dan mengatakan bahwa mereka yang melarikan diri dari negara itu tidak mewakili semua perempuan. Mereka percaya bahwa aturan Islam menjamin keselamatan mereka.

  • Seorang perempuan pendukung Taliban berbicara di podium universitas di Kabul, 11 September 2021

    Afganistan: Perubahan Keseharian di Bawah Kekuasaan Taliban

    Menyelaraskan arah

    Demonstrasi pro-Taliban termasuk undangan bagi wartawan, berbeda dengan protes anti-Taliban. Yang terakhir, wartawan melaporkan mereka telah diintimidasi atau bahkan dilecehkan. Ini adalah tanda yang jelas dari perubahan di bawah Taliban, terutama bagi perempuan. (kp/hp)

    Penulis: Claudia Dehn, Sonya Angelica Diehn


Pendidikan anak perempuan di Afganistan menjadi perhatian para donor

Keputusan Taliban pekan lalu terkait janji mereka untuk membiarkan anak perempuan di atas kelas enam kembali ke sekolah dikritik oleh banyak donor.

“Tidak ada negara yang akan berkembang dan maju jika perempuan dan anak perempuan dikecualikan dari kehidupan ekonomi dan sosial,” kata Baerbock.

Inggris menjanjikan bantuan USD374 juta (Rp5,3 triliun), tetapi Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss mengatakan, “Kita perlu bekerja melalui PBB untuk memberikan perubahan nyata bagi rakyat Afganistan, menegakkan hak-hak mereka, dan meminta pertanggungjawaban Taliban.”

Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Linda Thomas-Greenfield, menyatakan “Taliban tidak akan mengontrol pendanaan kemanusiaan kami,” terangnya ketika mengumumkan janji bantuan dari negaranya sebesar USD204 juta (Rp2,9 triliun).

Guterres menyadari kekhawatiran tersebut dan menyerukan pembukaan kembali sekolah untuk semua siswa di Afganistan “tanpa diskriminasi.”

yas/ha (dpa, Reuters)

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles