Jargon “Jam Karet” dan Alasan di Balik Kebiasaan Kaum Sarungan yang Suka Terlambat

by -3 views
jargon-“jam-karet”-dan-alasan-di-balik-kebiasaan-kaum-sarungan-yang-suka-terlambat

Jargon “Jam Karet” dan Alasan di Balik Kebiasaan Kaum Sarungan yang Suka Terlambat

Harakah.id – Di pengajian-pengajian, atau mungkin bahkan rapat-rapat penting, kaum sarungan punya tradisi terlambat dan mundur dari jam acara yang direncanakan awal. Meskipun tampak sebagai kekurangan, tapi ada alasan dan latar belakang serius di balik kebiasaan “jam karet” itu…

Suatu hari, saya mendengarkan, lamat-lamat, sebuah perbincangan menarik seorang dokter dengan santri. Ada rapat persiapan acara penting yang akan dibicarakan pagi itu. Di jam ketika rapat harusnya sudah dimulai, hanya ada si dokter dan santri itu yang baru hadir. Karena mungkin merasa tidak nyaman, si santri ngomong, “maaf bu dokter, ini kawan-kawan sedang saya hubungi agar bergabung di rapat…” sembari mencoba menghubungi beberapa santri lain peserta rapat. Si dokter, yang tampaknya sudah tidak asing dengan kebiasaan itu menjawab, “ya tidak apa-apa mas, santri kan memang seperti itu. Santai… hehe.”

Respons sang dokter mengenai keterlambatan hadirnya peserta rapat menarik diamati. Sedikit banyak ia menggambarkan realitas tentang dua variabel yang sangat dekat, bahkan tampak identik seperti satu kesatuan; kaum sarungan dan suka terlambat.

Baca Juga: Hikayat Sarung di Tengah Peradaban Fashion; Dari Stereotipe, Penyingkiran Hingga Upaya Pembid’ahan

Tidak hanya kali ini kesan itu muncul. Di banyak-banyak acara, baik pengajian, rapat ataupun kegiatan lain, jam acara di surat undangan seringkali ditulis setengah jam lebih awal dibanding jam acara rill yang direncanakan panitia. Strategi ini diupayakan untuk menyiasati kebiasaan terlambat jamaah kaum sarungan hadir di tempat acara. Serunya lagi, masyarakat kaum sarungan penerima undangan seakan-akan sudah bisa menebak dan memperkirakan, kalau acara beginian akan mulai lebih lambat satu jam dari waktu yang ditulis di undangan.

Sebuah Acara Istighosah Akbar di Surabaya

Dengan kata lain, jika variabel santri, pribumi ataupun kaum sarungan diiris lalu diturunkan ke karakter yang lebih spesifik, selain karakter “jorok” dan “tidak rapi”, karakter “suka terlambat” dan “jam karet” pasti akan selalu muncul dalam daftar.

Tentu saja karakter-karakter tersebut tidak seluruhnya benar. Tidak semua kaum sarungan juga punya kebiasaan terlambat. Streotipe dan simbolisasi seringkali muncul dari parsialitas dan hal-hal kasuistik. Apalagi jika ada kebutuhan untuk menciptakan satu wacana dominasi, maka hal-hal yang sebenarnya kecil dan tidak dominan terfabrikasi menjadi sesuatu yang besar bahkan representatif. Maka kita pun patut bertanya, sejak kapan kaum sarungan dikenal suka terlambat dan apa penyebabnya?

Denys Lombard dalam Nusa Jawa memberikan latar sejarah mengenai proses lahirnya stigma ini:

“… Mungkin yang lebih penting lagi daripada penggunaan penanggalan Eropa itu adalah disebarluaskannya oleh Belanda kebiasaan membagi waktu sehari menjadi dua puluh empat dengan acuan pada jam. Sebelumnya “hari” tidak dimulai pada tengah malam tetapi pada saat malam turun, dan hanya ditandai dengan pukulan bedug di masjid, yang mengabarkan kelima waktu salat (subuh, lohor, asar, magrib dan isya). Dapat dibayangkan bahwa peralihan dari waktu sakral ke waktu profane menimbulkan banyak masalah. Namun yang sesungguhnya terjadi adalah lebih dari sekedar desakralisasi. Jam Eropa terutama berimplikasi ketepatan waktu, yang berkaitan dengan konsepsi baru tentang kerja.”

Baca Juga: Dari Sarung Mandar Mbah Wahab Chasbullah, Soekarno Mengaji Ilmu Geo-Politik Global dan Anti-Kolonialisme Budaya

Dalam setengah potongan paragraf di atas, konteks awal lahirnya istilah “jam karet” dan kesan kalau pribumi kaum sarungan suka terlambat berkaitan dengan kolonialisme. Sebelumnya, masyarakat Nusantara menggunakan penanggalan jawa atau penanggalan hijriah sebagai acuan waktu. Sistem perhitungan jam dan peralihan hari berdasarkan gerak bulan melahirkan beberapa implikasi mengenai kesadaran waktu dan kesadaran ruang masyarakat pribumi.

Dalam sistem waktu yang diacu pada gerak bulan, masyarakat pribumi dan kaum sarungan hanya tahu dua hal mengenai titik waktu; peralihan waktu sebanyak lima kali dalam sehari berdasarkan waktu shalat dan “hari” yang dimulai sejak ba’da maghrib. Kesadaran waktu pribumi sarungan dipijakkan pada waktu profan yang tidak rigid dan rapat sebagaimana skema perhitungan waktu berdasarkan matahari yang diperkenalkan Eropa. Karena titik waktunya hanya lima, maka rutinitas dan aturan waktu masyarakat pribumi lebih fleksibel dan relatif. Acara-acara dan pertemuan juga diatur berdasarkan waktu sakral; ba’da ashar, ba’da maghrib atau ba’da isya. Jam berapa pastinya? Ya tergantung kumpulnya jam berapa. Ba’da ashar saja merentang dari jam 3 sampai 5 sore. Ba’da Isya apalagi, merentang dari jam 7 malam sampai 3 pagi. Semuanya ba’da Isya. Kalau kumpul ya mulai acara, kalau belum ya ngobrol dan ngerokok dulu.

Sebuah pertunjukan monyet di Jawa tahun 1900

Kesadaran waktu yang diacu pada waktu sakral melahirkan format kehidupan kualitatif yang meniscayakan relativitas dan fleksibilitas. Meskipun kaum sarungan juga punya pekerjaan rutin sehari-hari, tapi rutinitas tidak membuatnya jemu dan stres. “Waktu” tidak dihadirkan sebagai realitas “ruang”. Sebaliknya, pertimbangan “ruang” justru yang mengisi makna “waktu” kaum sarungan. Dalam fisika, bukankah dikatakan, secepat apapun waktu bergerak, tetap saja ia tidak akan mampu melampui ruang? Kecepatan waktu selamanya bergerak dalam ruang. Masyarakat pribumi sarungan sadar kalau hidup bukan sekedar soal waktu, tapi lebih jauh dari itu, adalah soal ruang.

Tapi semuanya berubah sejak kolonial datang dan merevisi konsepsi waktu masyarakat pribumi sarungan. Ada kebutuhan yang memaksa kolonial untuk mengubah konsepsi tersebut, dan yang paling utama adalah soal “kerja”.

Baca Juga: Sarung Kiai Asnawi vs Dasi Kiai Saifuddin Zuhri, Dan Cara Kaum Sarungan Antisipasi Kehadiran Kolonial

Cara kerja kapitalisme dan madzhab industri memaksa setiap detik waktu yang dimiliki pekerja harus dimanfaatkan untuk menghasilkan produk. Waktu pun diperinci menjadi jam, menit dan detik. Realitas “waktu Eropa” dihadirkan sebagai ruang. Model perhitungan waktu Jawa dan hijriyah dihapus, diganti penanggalan modern Eropa yang begitu rigid dan statis. Waktu tidak lagi didasarkan pada gerak bulan, tapi matahari. Waktu sakral yang selama ini mengisi konsepsi waktu masyarakat sarungan dipatahkan dan diganti waktu profan. Seketika masyarakat menjadi serius, rutinitasnya bak penyakit dan kereta api cepat yang mengejarnya. Waktu tidak lagi terasa begitu lambat, tapi sangat cepat dan kita harus berlari agar tidak terlindas ban besinya.

Desakralisasi waktu sakral, konsepsi mengenai kerja dan keniscayaan mengenai ketepatan waktu, seluruhnya berkaitan dengan efektifitas produksi kapital. Semakin rajin, semakin tepat waktu, semakin banyak detik yang dimanfaatkan untuk kerja, semakin tinggi pula produktifitas kerja yang dihasilkan masyarakat jajahan. Semakin tinggi level produktifitas, semakin besar juga kapital yang dihasilkan kolonial. Semakin besar kapital, semakin kaya.

Produktifitas tidak lagi dihitung berdasarkan kualitas, tapi kuantitas karya. Kesadaran ruang ditekuk dan waktu menjadi rentang bahwa manusia hidup di antara ujung jam yang pertama hingga yang kedua puluh empat. Hari tidak lagi dimulai dari malam, tapi dari dini hari.

Potret seorang petani kopi di Toraja tahun 1910-an

Hal ini dipertegas oleh Lombard di potongan paragraf berikutnya:

Sebuah teks menarik kutipan dari sebuah artikel berjudul Djam yang terbit pada 1915 di salah satu surat kabar Sumatra Barat, menunjukkan dengan jelas munculnya kesadaran itu: “Djika kita hati-hatikan benar ada lagi iang diteriakkan djam itoe; dengarkanlah olehmoe: ‘Kerdja! Kerdja! Kerdja!’”

Kaum sarungan dan pribumi yang distigma bodoh nyata-nyata menyadari bahwa sedang ada kolonisasi kesadaran waktu oleh kolonial. Meskipun beresiko, hanya dengan cara “terlambat”, “tidak tepat waktu” dan “jam karet”, konsepsi tentang waktu statis bisa dipatahkan. Jadi karakter dan kebiasaan “suka terlambat” lahir dari konteks penolakan masyarakat pribumi dan kaum sarungan atas penjajahan konsepsi waktu yang diproyeksikan untuk produktifitas kerja dan keuntungan ekonomi penjajah.

Di sisi yang lain, kesan dan stigma “suka terlambat” dan “jam karet” lahir dari kegagalan memahami dua perlakuan yang berbeda atas waktu, antara masyarakat pribumi dan kaum sarungan dengan penjajah yang menggunakan skema penanggalan Eropanya. Ia tidak lebih dari hanya sekedar streotipe yang dalam sejarah nyata-nyata lahir dari kepentingan penjajah untuk mengentas sumber daya alam tanah jajahan dan kehendak memperkaya diri.

Sekelompok anak bermain di tahun 1920-an

Dalam konteks Indonesia hari ini, produktifitas dalam maknanya sebagai siklus yang berlangsung dalam dunia industri juga tampak menjadi gejala kebudayaan. Waktu kita adalah waktu industri. Produktifitas dan kecepatan yang kita kehendaki hari ini adalah produktifitas industri dalam kecepatannya menghasilkan kapital. Maka tidak salah kalau Seno, dalam Pidato Kebudayaannya tahun 2019 mengatakan, “manusia cukup sering tenggelam dalam mitos bahwa pencapaian terbaik adalah menjadi yang tercepat.”

Seno melanjutkan dengan analogi yang sangat menarik,

Dalam fabel Aesop dari masa sebelum Masehi tentang adu lari kelinci melawan kura-kura, yang dalam dongeng Melayu teradaptasi menjadi adu lari sang kancil melawan siput, ternyata loma ini dimenangkan siput, karena setiap kancil bertanya, ‘kamu dimana?’, ternyata suara siput yang menjawab ‘aku di sini!’ berada jauh di depannya. Ini terjadi karena jumlah siput itu bukan hanya banyak, melainkan takterhingga, sehingga praktis tidak perlu bergerak sama sekali. Dalam falsafah dini untuk kanak-kanak, ini bermakna otak mengalahkan otot; dalam fisika, waktu yang melesat pun tidak akan pernah melampaui ruang; dalam wacara kritis, yang lemah itu tidak selalu harus dianggap sebagai yang kalah.

Maka nyatalah, dalam benturan stigma mengenai “jam karet” dan “suka terlambat”, kaum sarungan adalah siput ataupun kelinci, dan masyarakat modern adalah kancilnya. Kaum sarungan meletakkan dirinya dalam “ruang” dan masyarakat modern memposisikan dirinya dalam “waktu”. Inilah kunci hidup yang membuat santri, masyarakat desa dan kaum sarungan secara umum terbiasa santai, hidup bahagia dan rileks menjalani hari-hari.

Leave your vote

607 Points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *