Israel Bujuk AS Batalkan Perjanjian Nuklir Iran

by -2 views
israel-bujuk-as-batalkan-perjanjian-nuklir-iran

PM Israel, Naftali Bennett, berniat melobi Presiden Joe Biden untuk secara permanen membatalkan Perjanjian Nuklir 2015 dengan Iran. “Sekarang sudah waktunya,” kata dia saat melawat ke Washington.

Kedua kepala negara dijadwalkan bertemu pada Jumat (27/8) di Gedung Putih, Washington DC. Di sana, Perdana Menteri Naftali Bennett berjanji akan berusaha membujuk Joe Biden agar urung kembali ke Perjanjian Nuklir 2015.

Pertemuan itu sempat ditunda pada Kamis (26/8) menyusul serangan teror di Kabul. Sepanjang hari, Bennett dikabarkan melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Antony Blinken dan Menteri Pertahanan Lloyd Austin untuk membahas Iran.

Kepada Blinken, Bennett mengaku membahas “bagaimana kita bisa mencegah dan meredam upaya Iran untuk mendominasi kawasan dan ambisi mereka memproduksi senjata nuklir,” kata dia.

Sebelum melawat, Bennett sudah lebih dulu mengabarkan anggota Kabinet, akan memberitahu Biden “bahwa sekarang adalah saatnya untuk menghentikan Iran, untuk menghentikan hal ini,” dan tidak lagi menghidupkan “perjanjian nuklir yang telah usang dan tidak lagi relevan, bahkan bagi mereka yang dulu berpikir hal itu relevan,” kata dia seperti dilansir Associated Press.

Biden sejak awal sudah mengungkapkan minat untuk mencari cara menyelamatkan kesepakatan bersejarah yang dimediasi oleh pendahulunya, Barack Obama, itu. Tapi saat ini perundingan tidak langsung yang dilakukan Washington dan Teheran sedang ditangguhkan hingga setidaknya September.

Konflik nuklir Iran kembali menyalak ketika bekas Presiden Donald Trump mencabut komitmen AS dan mengaktifkan kembali sederet sanksi ekonomi terhadap Teheran. Trump menyaratkan perbaikan butir kesepakatan untuk menghentikan aliran bantuan perang dari Iran yang dinilai mengobarkan konflik di Timur Tengah.

Pembatasan program nuklir Iran sesuai Perjanjian Nuklir 2015

Senjata nuklir dalam hitungan bulan Presiden Biden mengindikasikan ingin meminta syarat serupa kepada Teheran untuk menghidupkan kembali Perjanjian Nuklir. Tapi bagi Iran, langkah AS menggugurkan semua batasan dan pengawasan yang selama ini diwajibkan bagi program nuklirnya. 

Iran saat ini giat mempercepat program nuklirnya, klaim Badan Nuklir PBB, IAEA, awal Agustus silam.

Menurut laporan tersebut, pembangkit nuklir di Natanz mampu memperkaya sejumput kecil uranium dengan tingkat kemurnian 63%, tidak jauh dari batas mutu untuk senjata nuklir yang di atas 90% Menurut Perjanjian Nuklir, batas kemurnian uranium yang boleh diproduksi Iran hanya sebesar 3,67%.

Iran dikabarkan juga mampu mengembangkan riam nuklir dengan pemusing yang lebih canggih dibandingkan standar perlengkapan menurut kesepakatan nuklir. Teheran sejauh ini bersikeras program nuklirnya untuk keperluan damai.

Kepada AP seorang pejabat pemerintah mengakui pihaknya menyadari adanya potensi “terobosan” dalam memangkas waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi bahan baku cukup untuk satu senjata nuklir, dari hitungan tahun menjadi bulan atau lebih cepat.

PM Israel Naftali Bennett sebabnya tidak gamang ketika menerangkan niatnya di AS. “Kami di sini bukan untuk berkomentar, tetapi untuk membujuk,” kata dia.

rzn/vlz (ap, rtr) 

Lika-Liku Kesepakatan Nuklir Iran Yang menjadi masalah Fasilitas nuklir Iran Bushehr adalah salah satu dari lima fasilitas yang dikenal oleh pengamat internasional. Israel, Amerika Serikat dan negara-negara sekutu telah sepakat bahwa usaha Iran memperkaya uranium – untuk keperluan energi domestik, menurut para pejabat di Teheran – dapat menjadi ancaman bagi kawasan jika hal itu berujung pada pengembangan senjata nuklir.

Lika-Liku Kesepakatan Nuklir Iran Akhir dari masalah Pada 2006, lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB (AS, Cina, Rusia, Prancis, Inggris) dan Jerman (P5+1) memulai proses negosiasi yang melelahkan dengan Iran yang akhirnya mencapai kesepakatan pada 14 Juli 2015. Negara-negara tersebut sepakat memberikan kelonggaran sanksi pada Iran. Sebagai gantinya, pengayaan uranium Iran harus terus dipantau.

Lika-Liku Kesepakatan Nuklir Iran Rakyat Iran setuju Di Teheran dan kota-kota lain di Iran, warga merayakan apa yang mereka yakini sebagai akhir dari isolasi ekonomi bertahun-tahun yang memberi efek serius pada kesehatan dan gizi masyarakat karena kurangnya akses ke pasokan medis dan makanan untuk warga biasa. Banyak juga yang melihat perjanjian itu sebagai bukti bahwa Presiden Hassan Rouhani berusaha untuk membuka Iran ke dunia dengan cara lain.

Lika-Liku Kesepakatan Nuklir Iran Peran IAEA Badan Energi Atom Internasional (IAEA) ditugaskan untuk memantau kepatuhan Iran kepada kesepakatan itu. Direktur Jenderal IAEA Yukiya Amano (kiri) pergi ke Teheran untuk bertemu dengan Rouhani pada bulan Desember 2016, hampir satu setengah tahun setelah kesepakatan itu ditandatangani. Dalam laporan yang disampaikan setiap tiga bulan, IAEA berulang kali menyertifikasi kepatuhan Iran.

Lika-Liku Kesepakatan Nuklir Iran Sang oponen Setelah delapan tahun dengan Barack Obama, PM Israel Benjamin Netanyahu menemukan sosok presiden AS yang ia inginkan dalam Donald Trump. Meski Trump tidak memiliki pengalaman dalam diplomasi dan ilmu nuklir, ia menyebut perjanjian internasional tersebut sebagai “kesepakatan terburuk yang pernah dinegosiasikan.” Hal ini juga menjadi pokok kampanye pemilunya di 2016.

Lika-Liku Kesepakatan Nuklir Iran Siapa yang masih ada? Meskipun ada sertifikasi IAEA dan protes dari Kemlu AS, Trump tetap menarik AS dari perjanjian pada 8 Mei. Pihak-pihak lain telah berjanji untuk tetap berada dalam kesepakatan. Diplomat top Uni Eropa, Federica Mogherini (kiri), sudah melakukan pembicaraan dengan para menteri luar negeri dari (ki-ka) Iran, Prancis, Jerman dan Inggris.


Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia. Kami bukan penulis, kami adalah baris-baris kode yang menghimpun tulisan bermutu yang berserakan di jagat maya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *