ISIS Makin Loyo, tapi Perdagangan Budak Anak Tumbuh Subur

by -3 views
isis-makin-loyo,-tapi-perdagangan-budak-anak-tumbuh-subur

Seorang anak lelaki berusia empat tahun yang kesepian berdiri di atas sebidang tanah kosong yang menjadi lapangan sepak bola. Di sana dia bermain, diam dan sendirian. Setelah bertahun-tahun menjadi budak ISIS, Lazem akhirnya selamat. Namun, dia tidak memiliki teman bicara dan bahkan sebelumnya tidak tahu namanya sendiri.

Sebagai anggota minoritas agama Yazidi Irak, CNN melaporkan, Lazem diculik dari keluarganya saat balita, ketika ISIS menyerbu Provinsi Sinjar Irak utara pada Agustus 2014, menjarah kota dan desa. Ribuan pria Yazidi terbunuh, sementara kaum perempuan dan anak-anak ditangkap dan dijual.

Hingga tiga tahun kemudian, perdagangan budak ISIS masih terus berkembang, bahkan ketika kekuatan dan pengaruh kelompok ekstremis itu berkurang. ISIS telah diusir sebagian besar dari bekas bentengnya di Suriah, Raqqa pada 2017, hanya sel-sel tidur yang diperkirakan tetap berada di kota.

Menurut Kantor Penyelamatan Korban Penculikan Pemerintah Regional Kurdistan (KRG), lebih dari tiga ribu orang, kebanyakan perempuan dan anak-anak, masih ditahan oleh kelompok teror tersebut.

Banyak orang yang berhasil melarikan diri dari penculik ISIS akhirnya ditahan penyelundup tidak bermoral demi mendapatkan uang tebusan. Berkat alasan itu, hanya setengah dari tawanan Yazidi yang berhasil diselamatkan, menurut KRG.

Mereka memanggilnya ‘bocah’

Bertemu kembali dengan ayahnya Qassem Abdu Ali di kamp komunitas Rwanga, rumah bagi ribuan orang Yazidi yang melarikan diri dari serangan ISIS di Sinjar, Lazem duduk diam di belakang sosok lesu ayahnya. Sepuluh hari sejak bertemu kembali, Lazem belum mengucapkan sepatah kata pun kepada ayahnya. Terpisah dari keluarganya, Lazem tumbuh dengan mempelajari bahasa Turkmenistan dan Turki, bahasa penculiknya militan ISIS, bukan bahasa aslinya Kurmanji, dialek Kurdi yang digunakan oleh komunitasnya.

Pertama dikirim ke kubu ISIS di Tal Afar, Lazem berakhir di Turki, jauh di luar wilayah ISIS. Hanya sedikit informasi tentang bagaimana dia sampai di sana. Bahkan Lazem pendiam dalam bahasa Turki, jadi hanya sedikit part tentang waktunya di penahanan yang diketahui jelas. Awalnya dibeli oleh istri seorang komandan ISIS yang tidak memiliki anak laki-laki, Lazem diperkirakan bekerja sebagai pembantu. Dia mengaku “pemilik” pertamanya baik, tetapi menolak untuk membicarakan tentang pemilik kedua.

Lazem menatap sayu ke orang-orang yang berbicara dengannya, menarik-narik helai rambut yang menutupi bekas luka di dahinya, tetapi dia tidak bercerita bekas luka ap aitu. Lazem dipanggil “Ghulam” (bocah) oleh otoritas yang menyelamatkan Lazem. Sebelum dibawa kembali ke komunitasnya minggu lalu, Lazem mengira namanya adalah “bocah”.

komunitas Yazidi

Orang-orang Yazidi biasanya hanya mengakui anak-anak sebagai bagian dari komunitas jika kedua orang tua mereka berasal dari sekte tersebut. (Foto: Reuters/Ari Jalal)

Tentara anak di garis depan ISIS

Marwan (11) ditangkap ISIS di Gunung Sinjar, tempat pembantaian besar Yazidi di tangan ISIS pada Agustus 2014. Marwan diangkut dari satu tempat ke tempat lain, dibeli dan dijual 11 kali, menghabiskan sebagian besar waktu hingga 2017 di Raqqa, ibu kota kekhalifahan ISIS.

Dimanfaatkan bergantian sebagai pelayan dan tentara, Marwan diajari interpretasi radikal ISIS tentang Islam dan dikirim ke garis depan perang ISIS, praktik umum untuk tentara anak Yazidi.

“ISIS mengajari saya cara menggunakan RPG, Doshka, pistol, granat,” tutur Marwan, saat ia duduk di earn-up melintasi perbatasan Suriah ke Kurdistan Irak, rumah sementaranya di kamp pengungsian.

Senapan mesin berat generation Soviet pasti sulit ditangani anak seusianya. Mata Marwan membelalak mengetahuinya. “Tidak, tapi saya sangat kuat!”

“Mereka menggunakan Marwan sebagai pembantu di rumah dan sebagai tentara di garis depan, karena Marwan tidak penting bagi mereka,” kata Abdullah Shrem, koordinator operasi penyelundupan rumit untuk mengamankan pembebasan Marwan. “Tidak masalah apakah dia terbunuh atau diserang.”

“Ketika melihat ibu saya, saya menangis gembira,” ujar Marwan kepada CNN, beberapa jam setelah reuni emosional mereka.

“Saya tidak bisa tidur sepanjang malam,” ucap ibunya Umm Marwan. “Saya tidak bisa makan karena sudah kenyang. Saya kenyang dengan kegembiraan.” Umm Marwan juga pernah menjadi budak ISIS. Sebagian besar perempuan Yazidi yang diculik ISIS dijual sebagai budak seks. Suaminya dan saudara laki-laki Marwan masih ditahan.

Di sisi perbatasan Kurdi Irak, di bawah bayang-bayang Gunung Sinjar tandus, Marwan dan ibunya turun dari earn-up untuk menemui penolong bocah itu.

“Apakah Anda tahu siapa pria ini?” tanya salah satu kerabat Marwan, menunjuk pada Shrem.

“Ya, dia orang yang membeliku,” tukas Marwan.

“Menyelamatkanmu,” tandas Shrem, cepat-cepat mengoreksinya.

Namun, Marwan tidak sepenuhnya salah. Tiga tahun terakhir, dia telah dibeli dan dijual berulang kali. Kebebasannya juga ada harganya.

Membeli kembali budak ISIS

Dikutip dari CNN, Pemerintah Regional Kurdistan (KRG), badan semi-otonom yang mengatur wilayah yang dikuasai Kurdi di Irak utara, mengaku menghabiskan jutaan dolar untuk menjamin pembebasan budak Yazidi. Pasar budak ISIS dimulai dengan bazar di mana perempuan, anak-anak, dan lansia Yazidi dijual ke segala bentuk perbudakan, termasuk budak seks.

Penyelamatan mereka telah melahirkan ekonomi yang sama sekali berbeda. Setelah lepas dari tangan ISIS, para tawanan Yazidi jatuh ke tangan penyelundup, tetapi tidak semuanya berniat baik.

Bahkan bagi tawanan seperti Marwan dan Lazem yang cukup beruntung bisa diselamatkan dari para penculik ISIS, jalan kembali ke kehidupan traditional bukanlah hal yang mudah.

Ketika ayah Lazem, satu-satunya anggota keluarganya yang bebas, dibawa ke Turki oleh KRG untuk bertemu putranya, dia mendapat tanggapan keras dari otoritas Turki. “Mereka tidak percaya dia adalah anak saya,” ujar Abdu Ali kepada CNN. “Mereka berkata: ‘Mengapa anakmu bisa bahasa Turki dan Anda tidak? Tidak mungkin dia anakmu’.”

Para pejabat KRG menegaskan Abdu Ali harus menjalani tes paternitas untuk membuktikan hubungannya dengan Lazem. Baru dua bulan kemudian, ketika hasilnya memastikan mereka adalah ayah dan anak, mereka dapat kembali bersama ke Irak.

Di antara deretan rumah darurat, Lazem berkeliaran di gang-gang berbatu di kamp Rwanga.

Seorang anak laki-laki berlari ke arah Lazem dan memeluknya erat-erat. Mereka tidak mengetahui nama satu sama lain. Mereka bahkan tidak memahami bahasa satu sama lain, tetapi mereka kini aman dan berada di dekat keluarga. Mereka berbagi bahasa yang sama dengan anak-anak di seluruh dunia: waktu bermain.

Seorang anak dari mantan budak wanita Yazidi dan eks-militan ISIS tampak menangis di sebuah rumah perlindungan di Rimelan, Suriah, 9 Januari 2020. (Foto: Reuters/Goran Tomasevic)

Anak laki-laki dicuci otak oleh penculik ISIS

Lazem masih cukup muda sehingga suatu hari dia mungkin melupakan kenangan buruknya di tangan ISIS. Namun, bagi anak-anak lain yang lebih tua seperti Marwan, itu mungkin terbukti lebih sulit. Mata hijau cerahnya dan suara lembutnya membuatnya mudah untuk mengabaikan fakta bahwa Marwan dipaksa untuk berperang demi kelompok teror yang paling dibenci di dunia. Namun, terkadang, pandangan Marwan menunjukkan kilatan amarah, mengingatkan kengerian yang dialaminya.

“Ke mana Anda akan membawaku? Tidak, saya tidak ingin pergi!” pekiknya saat diantar ke kendaraan yang menunggu di perbatasan untuk membawanya pulang. Marwan bergulat melepaskan cengkeraman ibunya. Butuh beberapa menit untuk meyakinkannya bahwa Marwan tidak akan dikirim ke penculik lagi.

CNN mencatat, ada sedikit konseling yang ditawarkan bagi anak laki-laki Yazidi yang dipulangkan untuk membantu mengobati trauma mereka atau melawan pencucian otak yang mereka alami. Banyak tawanan telah didoktrin untuk membenci komunitas mereka sendiri, sesuai dengan ideologi ekstremis ISIS.

Namun, Shrem menekankan, Kantor Penyelamatan Korban Penculikan Pemerintah Regional Kurdistan (KRG) “menyaring dengan benar” para anak lelaki sebelum mereka dikembalikan ke keluarga mereka. “Marwan mengatakan kepada kami bahwa dia sangat ingin kembali ke rumah. Dia mengaku percaya orang-orang Yazidi adalah orang-orang terbaik dan paling jujur.”

Banyak dari mereka ditahan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, oleh kelompok non-ISIS yang menuntut uang tebusan untuk pembebasan mereka, menurut laporan CNN berdasarkan sumber-sumber resmi.

Saat para tawanan berpindah tangan, penculik mereka berharap untuk mendapatkan keuntungan, menaikkan harga, dan membuat pembebasan para tahanan semakin mahal seiring berjalannya waktu.

Reuni keluarga yang rapuh

Di Kota Zakho di Kurdi Irak, Marwan menemukan kerumunan anggota keluarga besar menunggu untuk menyambutnya di luar tenda keluarganya. Dia tersenyum manis saat matanya bertemu dengan mata mereka. Marwan menyapa para saudara perempuan dan sepupunya dengan jabat tangan sopan dan ciuman pipi ke pipi, ketika dari tengah kerumunan seorang perempuan tua menariknya ke dadanya: neneknya.

Marwan tampaknya berusaha menahan air mata, terbelah antara bocah laki-laki dan petarung yang dibesarkan ISIS dengan paksa. Marwan menatap kamera dan keluarga yang mengelilinginya sebelumnya, gemetar, dan akhirnya mulai menangis di lekuk leher neneknya saat kerumunan di sekitar mereka mulai terisak.

“Di mana ayahmu? Di mana saudara laki-lakimu?” ratap neneknya berulang kali, memohon kabar tentang putra dan cucunya yang diculik.

Bahkan dengan Marwan kembali kepada mereka, keluarganya masih terpecah. Penderitaan mereka di tangan perdagangan budak ISIS terus berlanjut.

Penerjemah: Fadhila Eka Ratnasari

Editor: Aziza Larasati

Keterangan foto utama: Anak-anak memegang wadah air di kamp pengungsi al-Hol, Suriah, 8 Januari 2020. (Foto: Reuters/Goran Tomasevic)

ISIS Makin Loyo, tapi Perdagangan Budak Anak Tumbuh Subur

, , , , ,

Leave your vote

298 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *