25.6 C
Jakarta
Tuesday, May 17, 2022

Ibu Lahirkan Bayi Meninggal di Usia Kandungan 8 Bulan, Bagaimana Kisahnya?

Ibu Lahirkan Bayi Meninggal di Usia Kandungan 8 Bulan, Bagaimana Kisahnya?

Menjadi keinginan orangtua manapun untuk melahirkan bayi dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. Sedihnya, kasus ibu lahirkan bayi meninggal kerap dirasakan karena berbagai alasan. Salah satu kisahnya bahkan menjadi sorotan di media sosial.

Kisah Ibu Lahirkan Bayi Meninggal

Cerita ini dibagikan oleh akun TikTok baru-baru ini ketika seorang ibu harus melahirkan bayinya dalam kondisi sudah tak bernyawa. Pada Jumat, 23 Juli lalu akun @emy_ginting mengisahkan cerita haru. Awalnya, Emy mengunggah beberapa video kondisi rumah sakit kala sang adik tengah hamil 8 bulan.

Sumber: Scary Mommy

“Jadi ini adikku lagi hamil 8 bulan, katanya bayinya sudah enggak ada pergerakan 3 hari. Kita sudah bolak balik ke rumah sakit untuk periksa dan USG. Katanya bayinya meninggal di dalam kandungan,” ujar Emy.

Sang adik dan suami pun merasa bingung dan sedih. Mau tak mau, operasi harus dilakukan untuk mengeluarkan sang bayi. Namun, ternyata sang adik tidak jadi melahirkan melalui operasi sesar.

Ia harus menunggu untuk melahirkan normal. Ia turut merasakan kontraksi layaknya seorang ibu yang akan melahirkan.

“Tadinya kita sudah siapin penguburan bayinya hari ini, karena awalnya kata dokter yang merujuk SC jam 8 pagi. Tapi kata dokter yang di rumah sakit normal saja. Sekarang dia lagi kesakitan banget, lagi kontraksi katanya. Salut banget sama ibu bapaknya kuat banget,” sambung Emy lagi.

Kondisi bermula ketika sang ibu mengalami demam dan batuk. Setelahnya, gerakan janin langsung menghilang. Padahal, sang ibu sudah sembuh dari demam tersebut.

“Pas main ke rumah langsung aku ajakin konsultasi, karena saya juga minim pengetahuan tentang kehamilan, tapi pasti ada apa-apa kalau sampai enggak ada pergerakan sama sekali. Kita sudah (pergi) ke 2 bidan, mereka panik sudah tahu kayaknya bayi sudah enggak ada tapi enggak berani memutuskan kalau si bayi sudah enggak ada,” pungkas Emy.

Artikel terkait: Mengalami Stillbirth dan Positif COVID-19 Setelah Melahirkan, Seorang Ibu: “Enggak Pernah Terbayangkan Sebelumnya”

Memahami Penyebab Kematian Janin dalam Kandungan

Dalam dunia medis, meninggalnya bayi dalam kandungan disebut juga Intrauterine fetal death atau IUFD yaitu janin meninggal setelah kandungan berusia 20-37 minggu. Kriteria lain untuk menentukan IUFD adalah bobot janin sudah melebihi 350 gram.

Sayangnya, beberapa kasus tidak bisa dicegah. Hal ini dapat diminimalisir dengan memerhatikan faktor penyebab dan pencegahan. Kendati sama-sama menyebabkan janin meninggal dalam kandungan, IUFD berbeda dengan keguguran. Keguguran terjadi saat usia kandungan masih kurang dari 20 minggu.

Beberapa hal penyebab kondisi ini antara lain:

Gangguan plasenta. Adanya gangguan pada plasenta dapat menyebabkan pasokan nutrisi ke janin terhambat sehingga memicu terjadinya IUFD
Genetik. Cacat genetik atau kelainan kromosom juga bisa jadi penyebab. Hal ini akan membuat organ vital janin seperti otak dan jantung tidak berkembang dengan baik
Perdarahan. Perdarahan berat yang terjadi di trimester akhir bisa juga menjadi penyebab janin mati dalam kandungan. Ini bisa terjadi ketika plasenta sudah mulai terpisah (meluruh) dari rahim sebelum memasuki masa persalinan. Kondisi ini disebut abrupsi plasenta (placental abruption).
Kondisi medis tertentu. Penyakit diabetes, hipertensi, gangguan imunitas tubuh, kurang gizi, infeksi bakteri Streptokokus grup B, listeriosis, toksoplasmosis, atau rubella juga berisiko menyebabkan janin mati dalam kandungan. Begitu juga dengan infeksi lainnya seperti malaria, sifilis, dan HIV. Preeklampsia juga dapat mengurangi aliran darah ke janin melalui plasenta sehingga memicu terjadinya IUFD.
Usia dan gaya hidup. Tak kalah penting adalah usia dan gaya hidup ibu. Ibu yang hamil berusia lebih dari 35 tahun atau kurang dari 15 tahun rentan mengalami IUFD. Begitu juga dengan obesitas dan gaya hidup tak sehat seperti keranjingan minum alkohol dan merokok akan meningkatkan risikonya.

Mengingat kondisi ini tak semuanya bisa dicegah, lakukan hal berikut untuk menekan risikonya.

Berhenti merokok.
Berhenti mengonsumsi minuman beralkohol dan obat-obatan berbahaya.
Menghindari tidur dengan posisi terlentang saat usia kehamilan memasuki 28 minggu atau lebih.
Melakukan pemeriksaan kehamilan ke dokter kandungan atau bidan secara rutin untuk memantau perkembangan janin

Parents, semoga informasi ini bermanfaat dan bisa membuka wawasan Anda.

Kepala Bayi Sudah Terlihat, Ibu Ini Melahirkan di Mobil Dibantu Suami

Usia Kehamilan 39 Minggu Belum Melahirkan, Apa yang Harus Bunda Lakukan?

Belum Divaksin, Ibu Ini Meninggal setelah Melahirkan Akibat Covid-19

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles