Hukum Takbir dalam Shalat Ied | Bincang Syariah

by -5 views
hukum-takbir-dalam-shalat-ied-|-bincang-syariah

BincangSyariah.Com– Dalam melaksanakan shalat Ied, baik hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha, kita melakukan takbir pasca takbiratul ihram, sebanyak 7 kali dalam rokaat pertama, dan 5 kali dalam rakaat kedua. Lantas bagaimana hukum takbir dalam shalat Ied? Apakah ketika tidak mengerjakannya berimbas pada batalnya sholat Id?

وَهَذِهِ التَّكْبِيرَاتُ مِنْ الْهَيْئَاتِ كَالتَّعَوُّذِ وَدُعَاءِ الِافْتِتَاحِ فَلَيْسَتْ فَرْضًا وَلَا بَعْضًا فَلَا يَسْجُدُ لِتَرْكِهِنَّ وَإِنْ كَانَ التَّرْكُ لِكُلِّهِنَّ أَوْ بَعْضِهِنَّ مَكْرُوهًا، وَيُكَبِّرَ فِي قَضَاءِ صَلَاةِ الْعِيدِ مُطْلَقًا لِأَنَّهُ مِنْ هَيْئَاتِهَا كَمَا مَرَّ وَلَوْ نَسِيَ التَّكْبِيرَاتِ وَشَرَعَ فِي الْقِرَاءَةِ وَلَوْ لَمْ يُتِمَّ الْفَاتِحَةَ لَمْ يَتَدَارَكْهَا، وَلَوْ تَذَكَّرَهَا بَعْدَ التَّعَوُّذِ وَلَمْ يَقْرَأْ كَبَّرَ بِخِلَافِ مَا لَوْ تَعَوَّذَ قَبْلَ الِافْتِتَاحِ لَا يَأْتِي بِهِ لِأَنَّهُ بَعْدَ التَّعَوُّذِ لَا يَكُونُ مُسْتَفْتِحًا.

“Takbir-takbir tadi merupakan sunnah haiat (sunnah yang jika ditinggalkan, tidak diperintahkan untuk sujud sahwi), seperti halnya membaca taawwudz (kalimat isti’adzah) dan doa iftitah. Takbir ini bukanlah fardhunya sholat, atau sunnah ab’adnya sholat. 

Maka jika meninggalkannya tidak perlu ditambal dengan sujud sahwi. Hanya saja makruh untuk meninggalkan takbir, baik sebagiannya, maupun keseluruhannya. Ketika shalat id dikerjakan dalam keadaan qada’, maka ia tetap bisa melakukan takbir. 

Sebab takbir ini merupakan sunnah haiat dalam sholat id. Andai kelupaan tidak takbir, namun ia sudah membaca al-fatihah, maka ia tidak bisa kembali untuk melakukan takbir, meskipun bacaan fatihahnya belum selesai. 

Namun jika ia ingat belum melakukan takbir, dan ingatnya setelah membaca taawwudz, serta ia belum membaca surat, maka ia bisa melakukan takbir. Lain halnya ketika ia membaca taawudz sebelum membaca doa iftitah, maka ia tidak bisa kembali untuk melakukan takbir. Sebab takbir pasca taawwudz, tidaklah dianggap sebagai pembuka”. (Iqna’ Fi hall Lafdz Abi Syuja I/186) 

Lalu bagaimana hukum dzikir (membaca Subhanallah wa al-hamdu lillah wa la ilaha illallah wa allahu akbar) di antara takbir yang dilakukan? Dijelaskan:

قَوْلُهُ: (وَيَحْسُنُ) أَيْ يُسْتَحَبُّ؛ وَيُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّهُ يَجُوزُ تَوَالِي التَّكْبِيرَاتِ وَحِينَئِذٍ فَلَا تَبْطُلُ صَلَاتُهُ بِتَوَالِي الرَّفْعِ كَمَا فِي الزِّيَادِيِّ. وَعِبَارَةُ ق ل: وَلَهُ تَوَالِيهَا وَلَوْ مَعَ رَفْعِ الْيَدَيْنِ، وَلَا تَبْطُلُ صَلَاتُهُ عَلَى الْمُعْتَمَدِ اهـ. قَالَ الرَّحْمَانِيُّ: وَهَذَا مُسْتَثْنًى مِنْ الْعَمَلِ الْكَثِيرِ الْمُبْطِلِإ ..إلى أن قال..  وَحِكْمَةُ طَلَبِ الْفَصْلِ فِي تَكْبِيرِ الصَّلَاةِ عَدَمُ تَوَالِي الْحَرَكَاتِ فِيهَا.

Maksud dari Yahsunu (bagus) untuk membaca dzikir di sela-sela takbir adalah sunnah. Maka bisa dipahami, bahwa boleh terus menerus melakkan takbir, tanpa harus membaca dzikir. 

Dan shalatnya tidak batal sebab terus menerus mengangkat kedua tangan, sebab ini adalah pengecualian dari konsep amal katsir (gerakan yang banyak) dalam sholat yang bisa membatalkan.

Hikmah dari dipisahnya takbir dengan dzikir adalah untuk menghindari gerakan yang dilakukan secara terus menerus. (Hasyiyah Al-Bujairimi ala al-khatib atau Tuhfat al-Habib ala Syarh al-Khatib, II/219)

Bahkan ketika ia bermakmum pada Imam yang beda madzhab, tidak batal sholatnya, meski takbir terus menerus. Dijelaskan:

فَلَا تَبْطُلُ صَلَاتُهُ بِتَوَالِي الرَّفْعِ أَيْ وَلَوْ كَانَ التَّوَالِي الْمَذْكُورُ مِنْ شَافِعِيٍّ خَلْفَ حَنَفِيٍّ وَالَى التَّكْبِيرَ وَالرَّفْعَ فَلَا يُفَارِقُهُ قِيَاسًا عَلَى التَّصْفِيقِ الْمُحْتَاجِ إلَيْهِ إذَا كَثُرَ وَتَوَالَى.

“Maka tidaklah batal shalatnya ia, sebab terus-menerusnya mengangkat tangan. Meskipun gerakan terus menerus ini dilakukan oleh seorang yang bermadzhab Syafii yang sholat di belakang Imam yang bermadzhab Hanafi. 

Yang demikian tidaklah membatalkan sholat, sebab dianalogikan dengan tepuk tangan yang menghendaki untuk dilakukan secara terus menerus dan berkali-kali”. (Sulaiman bin Muhammad Al-Bujairimi, Hasyiyah Al-Bujairimi ala al-Manhaj atau Al-Tajrid li Naf’i al-Abid  1/425)

Demikianlah penjelasan mengenai hukum takbir dan dzikir di sela-sela takbir dalam shalat Ied. Kesimpulannya, takbir boleh tidak dilakukan. Namun hukumnya makruh. Pun demikian pula dengan dzikirnya. semoga bermanfaat.

More

Leave a Reply

Your email address will not be published.