Hukum Perempuan Iddah Pergi Haji

by -9 views
hukum-perempuan-iddah-pergi-haji

BincangSyariah.Com– Musim haji sudah ada di depan mata. Artinya, tinggal beberapa bulan lagi kita akan sampai pada waktu pelaksanaannya. Lantas bagaimana hukum perempuan iddah pergi haji?

Kaum muslimin yang sedari awal telah menyisihkan duitnya untuk kebutuhan ibadah haji tersebut telah mempersiapkan diri. Tidak kuat menahan rindu untuk berziarah ke Tanah Suci, Makkah al-Mukarramah yang diberkahi. 

Selain daripada itu, meluapnya rasa rindu kian memuncak tatkala kita melihat serangkaian informasi yang ditayangkan melalui siaran-siaran televisi seputar Madinah Al-Munawwarah, tempat di mana telah hidup manusia idaman yang telah menyampaikan risalah Ilahiah kepada umat Islam di muka bumi ini. Nabi Muhammad Ibnu Abdillah. 

Selain memang pelaksanaannya merupakan sebuah kewajiban (bagi yang mampu) untuk menunaikan haji, karena hal itu adalah termasuk bagian dari rukun Islam yang terakhir, sebagai perkara rukun tentu saja harus dilaksanakan terlepas ia sangat rindu atau sudah biasa-biasa saja misalnya. 

Akan tetapi bagi sebagian besar umat muslim bahwa ritual ibadah haji merupakan momen sakral untuk mengunjungi tempat yang pernah menjadi tempat persinggahan para Nabi. 

Yang menjadi persoalan kemudian adalah bagaimana dengan seseorang wanita yang pada saat yang sama dalam kondisi dirinya sedang berhalangan keluar rumah, seperti seorang perempuan yang sedang menjalani iddah karena ditinggal mati oleh suaminya atau karena terjadinya perceraian di antara mereka. 

Dalam kamus besar fikih, bahwasanya setiap perempuan yang sedang menjalani masa indah baik karena ditinggalkan pergi suaminya karena faktor perceraian atau faktor meninggal dunia, dianjurkan agar tidak kemana-mana.

Sampai kapan seorang perempuan yang sedang menjalani masa indah tersebut harus sedang di rumah, dalam arti tidak keluar kemana-mana? Para ulama fikih sudah banyak membahas tentang hal itu. 

Tulisan berupa artikel pun yang membahas masalah itu sudah banyak bertebaran baik di buku-buku pelajaran ataupun internet. Kalau bingung mencari rujukan karena saking banyaknya artikel fikih di internet, coba ke Redaksi www.nu.or.id atau www.bincangsyariah.com saja.

InsyaAllah di sana merupakan artikel yang diterbitkan sudah dilakukan kurasi, di samping itu ia merupakan hasil al-bahts al-masail secara intens dan ketat.

Hukum Perempuan Iddah Pergi Haji

Yang menjadi pokok pembahasan dalam kesempatan saat ini, penulis lebih kepada persoalan seputar adakah kebolehan dari seorang wanita keluar rumah, dalam hal ini adalah pergi ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah haji, namun pada saat yang bersamaan dia sedang menjalani masa iddah? Ada banyak penjelasan terkait status hukum ini.

Dalam bahtsul masail ad-diniyah al-waqi’iyah muktamar PBNU yang diadakan di PP. Lirboyo pada tanggal 21 s/d 27 Nopember 1999 M. atau 13 s/d 19 Sya’ban 1420 H. yang mengangkat tema, salah satunya adalah kebolehan wanita yang sedang masa indah hendak mau keluar rumah untuk menyempurnakan sebagian dari rukun Islam. 

Bahtsul Masail ad-Diniyah tersebut menghasilkan sebuah putusan yang arif dan baik, sehingga dari putusan tersebut membuat setiap hati seorang dari para wanita tersebut tidak sampai memberatkan hatinya.

Artinya, menjadi seorang wanita dengan segala keterbatasan, seperti keterbatasan waktu untuk keluar rumah karena beban yang sedang ia tanggung, misal masih dalam masa indah, tidak membuatnya dengan kehadiran hukum tersebut merasakan berat. Ia menyadari betapa Islam memberikan kemudahan dengan dispensasinya.

Misalnya, kebolehan menunaikan ibadah haji atau umroh bagi wanita yang sedang menjalani masa iddah jika memang sudah berihram sebelum kematian suaminya atau sebelum terjadinya perceraian, walaupun tanpa izinnya dan tidak khawatir ketinggalan (waktu haji atau umroh).

Berbeda ketika ia berihram pada saat setelah kepergian suami atau setelah bercerai, menurut keterangan kitab Al-Bajuri juz 2 halaman 177 adalah tidak boleh, walaupun harus ketinggalan.

Beda halnya lagi kalau sang suami sudah mengizinkan sang istri untuk pergi karena suatu kebutuhan, berhaji misalnya, kemudian di tengah perjalanan mendapatkan kabar tidak baik menurut dirinya, yaitu suami kesayangannya meninggal dunia, kemudian ia berkewajiban untuk beriddah, dalam kondisi yang seperti ini maka sang istri boleh memilih: apakah tetap mau melanjutkan perjalanan atau kembali ke tempat semula. 

Jika ia khawatir kesasar kalau kembali ke rumah sementara kondisi perjalanannya sudah sangat jauh dan khawatir kalau terputus dari rombongannya yang menemaninya sementara ia tidak pernah keluar rumah dengan jarak jauh seperti itu, dalam kasus ini wanita tersebut boleh memilih.

Namun jika ia berani untuk melakukan perjalanan pulang dengan seorang diri itu lebih afdal dilakukan. Adalah untuk kembali ke tempat semua dan menjalankan masa iddahnya (Mughni al-Muhtaj, 3: 405).

Dari kesimpulan tersebut dapat dipahami bahwa: pertama, ada ada kebolehan bagi wanita untuk pergi berhaji yang pada saat yang sama ia sedang menjalani iddah jika saat sebelum keluar rumah ia tidak sedang meninggal dunia atau tidak sedang menceraikannya, maka boleh menjalankan ibadah haji.

Kedua, ketika saat sedang ditengah perjalanan mendapatkan kabar bahwa sangat suami meninggal dunia, maka istri boleh memilih untuk melanjutkan perjalanan atau kembali ke tempat semula. Namun, yang lebih afdal adalah kembali.

Tetapi kalau khawatir kesasar atau ketinggalan rombongan, maka melanjutkan perjalanan boleh-boleh saja. 

Tetapi jika sang suami telah mengizinkan keluar rumah, lalu tidak lama kemudian meninggal dunia dan atau sang istri diceraikannya jauh sebelum sang istri berangkat pergi haji , maka status keluarnya istri adalah tidak boleh karena sedang dalam masa iddah. 

واقرّاه ومرّ في سيرها المعتدة وخرج بالطريق ما لو وجبت قبل الخروج من المنزل فلا تخرج قطعا

Ketiga, ada ulama yang berpendapat bahwa jika wanita keluar rumah (bepergian) dan suaminya meninggal dunia ketika si istri masih dalam perjalanan, maka ia ia harus kembali lagi ke tempat semula jika jarak tempuhnya belum kekuar dari daerahnyadaerahnya (Takmilul Majmu’ ‘Ala Syahril Muhadzdzab, 18: 172).

 وإن خرجت فمات زوجها في الطريق رجعت إن كانت لم تفارق البنيان، 

Demikian penjelasan terkait hukum perempuan iddah pergi haji. Semoga bermanfaat.  Terimakasih. (Baca : Hukum Perempuan Pergi Haji dan Umrah Tanpa Mahram).

More

Leave a Reply

Your email address will not be published.