28.8 C
Jakarta
Tuesday, May 24, 2022

Panduan Lengkap Tata Cara Wudhu

BincangSyariah.Com– Sahabat Bincang Syariah, kali...

Tata Cara Tahallul: Lengkap dengan Zikir dan Artinya

BincangSyariah.Com– Tahallul secara bahasa artinya adalah...

Berikut Tata Cara Shalat Tasbih

BincangSyariah.Com–  Sahabat Bincang Syariah yang...

Hukum Pawai Keliling di Malam Idul Fitri | Bincang Syariah

IslamiHukum Pawai Keliling di Malam Idul Fitri | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com – Hari raya idul fitri merupakan hari yang sangat spesial bagi umat Islam khususnya di Indonesia. Sesudah berpuasa selama sebulan Ramadhan penuh, umat Islam lantas memasuki momen lebaran yang sangat bahagia. Kebahagiaan tersebut oleh beberapa orang atau kelompok dituangkan dalam bentuk pawai keliling entah sambil berjalan kaki atau menggunakan kendaraaan, dan diiringi dengan gema takbir yang tidak jarang bersautan dengan suara dentuman musik dari sound system yang biasanya dibawa oleh peserta pawai. Menarik untuk dikaji bagaimanakah syariah memandang persoalan pawai keliling di malam idul fitri? Apakah hal tersebut disunnahkan atau jangan-jangan malah dilarang dalam syariah?

Memperbanyak bacaan takbir sesungguhnya sangat dianjurkan dalam moment Idul fitri sesudah selesai berpuasa. Dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 185 Allah Swt. berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

wa litukabbirullāha ‘alā mā hadākum wa la’allakum tasykurụn

Artinya: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Waktu untuk memperbanyak ucapan takbir ini dimulai sejak maghrib 1 Syawal hingga ba’da Ashar di tanggal yang sama atau selama penuh sehari semalam.

Secara khusus, Rasulullah Saw. menyatakan bahwa takbir adalah seumpama perhiasan bagi hari raya, maka beliau memberikan anjuran untuk memperbanyak bacaan takbir di hari spesial tersebut:

 زينوا اعيادكم بالتكبير

Artinya: “Hiasilah hari raya kalian dengan memperbanyak membaca takbir.”

Rasulullah Saw. juga tidak lupa menjanjikan pahala yang akan diberikan oleh Allah Swt. bagi siapapun yang memperbanyak bacaan takbir:

 اكثروا من التكبير ليلة العيدين فانهم يهدم الذنوب هدما

Artinya: “Perbanyaklah membaca takbiran pada malam hari raya (fitri dan adha) karena hal dapat melebur dosa-dosa.”

Dalam ketentuannya, siapapun dan dimanapun dianjurkan untuk memperbanyak bacaan takbir. Dijelaskan dalam kitab Fathul Qorib:

ويكبر ندبا كل من ذكر وانثى وحاضر ومسافر فى المنازل والطرق والمساجد والاسواق من غروب ليلة العيد (اي عيد الفطر) الى ان يدخل الامام فى الصلاة

Artinya: “Disunnahkan membaca takbir bagi lagi-laki dan perempuan, di rumah maupun di perjalanan, di mana saja, di jalanan, di masjid juga di pasar-pasar mulai dari terbenarmnya matahari malam Idul Fitri hingga Imam melakukan shalat id.”

Dengan demikian bisa kita pahami bahwa pawai takbir keliling hukumnya disunnahkan bagi semua umat muslim. (Baca: Ini 7 Amalan Sunnah Rasulullah Sebelum dan Sesudah Shalat Idul Fitri di Rumah)

Namun demikian, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam persoalan pawai takbir keliling ini. Pertama, yang disunnahkan adalah mengumandangkan bacaan takbir ke segenap penjuru dalam rangka syiar Islam. Jangan sampai kebablasan yang mendominasi suara di ruang publik adalah raungan knalpot kendaraan, suara gaduh dan berisik serta musik yang terlalu keras.

Kedua, jangan sampai kegiatan pawai ini mengganggu kepentingan umum meskipun memang dijelaskan oleh Sulaiman bin Umar bin Mansur al-‘Ujaili al-Azhari, yang populer dengan nama Jamal, dalam kitabnya Hasyiyah Jamal ‘Ala Syarhi Minhaj bahwasanya boleh saja mengadakan pawai keliling yang menguasai jalanan jika memang hal tersebut dianggap sebagai kelumrahan:

 نعم يغتفر ضرر يحتمل عادة كعجن طين إذا بقي مقدار المرور للناس وإلقاء الحجارة فيه للعمارة إذا تركت بقدر مدة نقلها وربط الدواب فيه بقدر حاجة النزول والركوب

“Namun, dimaafkan beberapa kemudharatan yang dianggap lumrah oleh masyarakat, seperti penggalian tanah yang berdekatan dengan jalan umum atau meletakkan batu pembangunan, selama masih menyisakan sebagian jalan untuk dilalui orang lain. Begitu juga dengan memarkir kendaraan di pinggir jalan untuk sekedar menaikan dan menurunkan penumpang.”

Penjelasan di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwa meskipun membuat “keramaian” di jalanan saat Hari lebaran itu diperbolehkan, namun tetap saja harus menghargai para pengguna jalan yang lainnya yang ingin menempuh jalan tersebut. Semangat untuk syiar di satu sisi harus diimbangi dengan semangat untuk tetap menghargai sesama manusia di sisi lainnya.

Ketiga, tentu saja apabila pandemi masih ada, segala macam kegiatan pawai dalam bentuk apapun tidak diperbolehkan karena menurut pandangan ilmu Ushul, menjaga keselamatan nyawa dari pandemi lebih diutamakan ketimbang memaksakan melaksanakan kesunnahan berupa pawai. Toh kesunnahan tersebut masih bisa dilaksanakan dengan jalan takbiran dari rumah masing-masing atau dari masjid-masjid.

Wallahu a’lam bi shawab.

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles