26.8 C
Jakarta
Sunday, May 22, 2022

Inilah Tutorial Shalat Bagi Orang yang Sakit | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com–  Shalat merupakan ibadah paling...

Hukum Bersentuhan dengan Bukan Mahram Saat Thawaf | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Termasuk dari syarat thawaf...

Hukum Menyusu Pada Istri Saat Puasa  | Bincang Syariah

IslamiHukum Menyusu Pada Istri Saat Puasa  | Bincang Syariah

BincangSyariah.ComMenyusu pada istri memang diperbolehkan, namun bagaimana ketika dilakukan saat puasa. Pendek kata, bagaimana hukum menyusu pada istri saat puasa,  apakah bisa membatalkan puasa atau tidak? 

Menyusu pada istri saat puasa tidak membatalkan puasa, ketika tidak ada wusul ain (masuknya sesuatu) ke jauf (perut). Misalnya susu istri terdapat asinya, tentunya ini membatalkan puasa. Hanya saja, perlu diketahui, bahwa menyusu pada istri itu besar kemungkinan bisa membatalkan puasa. 

Sebab begini, dalam konteks istri yang tidak mempunyai asi,  ketika suami menyusu pada istri, mulut suami akan mengeluarkan air liur, dan tentunya itu nempel di puting istri. Begitu juga, air liur menempel di bibirnya suami. Ketika disedot lagi oleh suami, atau ia menelan air liur yang ada di bibirnya, maka itu bisa membatalkan puasa.

Al-Habib Hasan Bin Ahmad Al-Kaff menjelaskan:

:حكم ابتلاع الريق: لا يفطر لمشقة الاحتراز منه، بثلاثة شروط

أن يكون خالص، أي : صافي لا مختلطا بغيره، فلو ابتلع الريق بنحو صبغ أو بغيره بطل صومه. (1)

أن يكون طاهرا لا متنجسا. (۲)

وصل إلى حمرة شفته بطل صومه  أن يكون من معدنه، فاللسان والفم كله معدن، فلو ابتلع الريق الذي (۳)

Menelan air liur itu tidak membatalkan puasa, sebab sulit untuk menjaganya, dengan 3 catatan:

  1. Air liurnya murni, yakni bersih, tidak bercampur dengan materi lainnya. Semisal ada seseorang yang puasa, namun ia menelan ludahnya yang bercampur dengan semir, maka batal puasanya. 
  2. Air liurnya harus suci, tidak najis (seperti darah gusi, jika ditelan bisa membatalkan puasa). 
  3. Air liurnya harus berasal dari sumbernya, seperti berasal dar lisan dan mulut. Maka jika ada orang yang menelan air ludah yang ada di bibir, maka puasanya batal. (Taqrirat al-Sadidah fi al-Masail al-Mufidah, 1/453) 

Melalui keterangan di atas, kita bisa mengetahui bahwasanya menelan air ludah yang bukan dari sumbernya, itu bisa membatalkan puasa. Maka menyusu pada istri saat puasa itu juga dihukumi batal puasanya, sebab besar kemungkinan juga terjadi demikian. 

Sungguh sangat sulit dihindari untuk tidak menelan ludah yang ada di bibir dan puting, maka seyogyanya jauhilah hal ini. Kita harus berpuasa, dari makan dan minum, tentunya juga dari hawa nafsu. 

Begitu juga dengan permasalahan seseorang yang mainan  pulpen dengan menjilatinya atau menghisapnya, sehingga ada air liur yang menempel, maka jika ia menelan air liur yang ada di pulpen, niscaya puasanya batal, sebab itu sudah terpisah dari ma’din (sumbernya). 

Demikian penjelasan terkait hukum menyusu pada istri saat puasa. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam bi al-shawab. (Baca: Saat Berhubungan Badan, Benarkah Suami Haram Menyusu pada Istri?)

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles