Hukum Mengikuti Lomba yang Membayar Biaya Pendaftaran | Bincang Syariah

by -4 views
hukum-mengikuti-lomba-yang-membayar-biaya-pendaftaran-|-bincang-syariah

BincangSyariah.Com – Perlombaan seringkali menjadi kegiatan yang menyenangkan. Tetapi, akibat dari adanya perlombaan yang meminta biaya pendaftaran membuat banyak orang mengaggap praktik tersebut mirip dengan aktivitas perjudian. Lantas, bagaimanakah hukum mengikuti lomba yang membayar biaya pendaftaran?

Dalam literatur kitab fikih, semua bentuk perlombaan dan pertandingan hukumnya boleh dalam Islam, selama tidak ada unsur taruhan dan perjudian. Baik perlombaan tersebut menggunakan tenaga manusia, hewan dan lainnya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah berikut;

واجمع المسلمون على جواز المسابقة في الجملة

Artinya : “Kaum muslimin sepakat mengenai kebolehan perlombaan secara keseluruhan.”

Keterangan diatas juga selaras dengan penjelasan dalam kitab Minhaj al-Thalibin, juz 4, halaman 311 berikut,

كِتَابُ الْمُسَابَقَةِ وَالْمُنَاضَلَةِ هُمَا سُنَّةٌ وَيَحِلُّ أَخْذُ عِوَضٍ عَلَيْهِمَا، وَتَصِحُّ الْمُنَاضَلَةُ عَلَى سِهَامٍ وَكَذَا مَزَارِيْقُ وَرِمَاحٌ وَرَمْيٌ بِأَحْجَارٍ وَمَنْجَنِيْقٍ وَكُلُّ نَافِعٍ فِيْ الْحَرْبِ عَلَى الْمَذْهَبِ 

Artinya : “Kitab tentang lomba balap dan lomba membidik. Keduanya sunah dan boleh mengambil hadiah dari keduanya. Lomba membidik itu sah dengan panah. Begitu pula tombak pendek, tombak, melempar dengan batu, manjaniq (alat perang pelempar batu jaman kuno), dan semua yang bermanfaat dalam peperangan menurut madzhab Syafi’iyah.”

Akan tetapi, apabila dalam perlombaan terdapat unsur perjudian, seperti menarik uang pendaftaran secara sengaja yang diperuntukkan sebagai biaya hadiah, maka perlombaan tersebut diharamkan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Is’ad al-Rafiq Syarh Sulam al-Taufiq, juz 2, halaman 102 berikut,

(كُلُّ مَا فِيْهِ قِمَارٌ) وَصُوْرَتُهُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهَا أَنْ يَخْرُجَ الْعِوَضُ مِنَ الْجَانِبَيْنِ مَعَ تَكَافُئِهِمَا وَهُوَ الْمُرَادُ مِنَ الْمَيْسِرِ فِيْ اْلآيَةِ. وَوَجْهُ حُرْمَتِهِ أَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مُتَرَدِّدٌ بَيْنَ أَنْ يَغْلِبَ صَاحِبَهُ فَيَغْنَمَ. فَإِنْ يَنْفَرِدْ أَحَدُ اللاَّعِبَيْنِ بِإِخْرَاجِ الْعِوَضِ لِيَأْخُذَ مِنْهُ إِنْ كَانَ مَغْلُوْبًا وَعَكْسُهُ إِنْ كَانَ غَالِبًا فَاْلأَصَحُّ حُرْمَتُهُ أَيْضًا 

Artinya : “(Setiap kegiatan yang mengandung perjudian) Bentuk judi yang disepakati adalah hadiah berasal dua pihak disertai kesetaraan keduanya. Itulah yang dimaksud al-maisir dalam ayat al-Qur’an. [QS. Al-Maidah: 90].

Alasan keharamannya adalah masing-masing dari kedua pihak masih simpang siur antara mengalahkan lawan dan meraup keuntungan -atau dikalahkan dan mengalami kerugian-. Jika salah satu pemain mengeluarkan haidah sendiri untuk diambil darinya bila kalah, dan sebaliknya -tidak diambil- bila menang, maka pendapat al-Ashah mengharamkannya pula.”

Namun demikian, apabila penyelenggara lomba tidak menggunakan uang pendaftaran peserta sebagai bagian dari biaya hadiah, melainkan diambilkan dari sumber lain, seperti sponsor, donatur, atau lainnya, maka jenis perlombaan tersebut diperbolehkan. Sebagaimana dalam penjelasan kitab Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib, juz 2, halaman 309 berikut, 

 وَيَجُوْزُ شَرْطُ الْعِوَضِ مِنْ غَيْرِ الْمُتَسَابِقَيْنِ مِنَ اْلإِمَامِ أَوِ اْلأَجْنَبِيِّ كَأَنْ يَقُوْلَ اْلإِمَامُ مَنْ سَبَقَ مِنْكُمَا فَلَهُ عَلَيَّ كَذَا مِنْ مَالِيْ، أَوْ فَلَهُ فِيْ بَيْتِ الْمَالِ كَذَا، وَكَأَنْ يَقُوْلَ اْلأَجْنَبِيُّ: مَنْ سَبَقَ مِنْكُمَا فَلَهُ عَلَيَّ كَذَا، لأَنَّهُ بَذْلُ مَالٍ فِيْ طَاعَةٍ 

Artinya : “Dan boleh menjanjikan hadiah dari selain kedua peserta lomba balap hewan, seperti penguasa atau pihak lain. Seperti penguasa berkata:

“Siapa yang menang dari kalian berdua, maka aku akan memberi sekian dari hartaku, atau ia memperoleh sekian jumlah dari bait al-mal.” Dan seperti pihak lain itu berkata: “Siapa yang menang dari kalian berdua, maka ia berhak mendapat sekian harta dariku.” Karena pernyataan itu merupakan penyerahan harta dalam ketaatan.”

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa, apabila uang pendaftaran secara sengaja diperuntukkan sebagai biaya hadiah, maka perlombaan tersebut diharamkan. Tetapi, apabila penyelenggara lomba tidak menggunakan uang pendaftaran peserta sebagai bagian dari biaya hadiah, melainkan diambilkan dari sumber lain, seperti sponsor, donatur, atau lainnya maka jenis perlombaan tersebut diperbolehkan. 

Demikian penjelasan mengenai hukum mengikuti lomba yang membayar biaya pendaftaran. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. (Baca juga:Hukum Lomba Balapan Burung Merpati dalam Islam).

More

Leave a Reply

Your email address will not be published.