Hukum Makan Ketupat di Hari Lebaran | Bincang Syariah

by -6 views
hukum-makan-ketupat-di-hari-lebaran-|-bincang-syariah

BincangSyariah.Com – Di Indonesia, ketupat senantiasa identik dengan lebaran, khususnya hari raya idul fitri. Biasanya, ketupat ini disajikan bersama dengan opor ayam di pagi, siang hingga sore hari lebaran setelah sebelumnya selama sebulan umat Islam tidak diperkenankan makan dan minum sepanjang hari. Menarik untuk dikaji apakah makan ketupat di hari lebaran ini hanya sekadar tradisi saja atau merupakan bagian dari syariat? Untuk itu tulisan ini akan membahas hukum makan ketupat di hari lebaran.

Pada prinsipnya, makan, minum, menikah, dan kebutuhan hewani lainnya dihukumi mubah dalam Islam asalkan tidak berlebihan. Syariat menegaskan bahwa yang boleh kita makan hanyalah makanan yang halal dan thayyib. “Thayyib” disini bisa kita artikan sebagai enak dan menyehatkan. Hal ini dijelaskan dalam Alquran Surat Al-Baqarah: 168:

يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَ رْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا  ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ  ۗ اِنَّهٗ لَـكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

yaaa ayyuhan-naasu kuluu mimmaa fil-ardhi halaalang thoyyibaw wa laa tattabi’uu khuthuwaatisy-syaithoon, innahuu lakum ‘aduwwum mubiin.

Artinya: “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu”.

Dengan demikian, segala makanan yang halal dan thayyib semuanya dihukumi boleh atau mubah untuk dikonsumsi.

Dalam kondisi-kondisi tertentu, hukum mubah tersebut bisa menjadi haram misalkan ketika seseorang makan secara berlebihan sehingga merugikan kesehatan tubuhnya. Sebaliknya, bisa juga hukumnya berubah menjadi wajib misalkan ketika kondisi seseorang sudah sedemikian lemah dan sangat membutuhkan asupan makanan. Bisa juga dihukumi sunnah ketika misalkan tujuan kita makan adalah karena ada perintah dari Rasulullah Saw. atau mengikuti tindak-laku beliau. Contohnya sunah menyegerakan buka puasa, meneyegerakan sahur, dan sunah makan kurma karena Rasulullah menyukai kurma.

Demikian halnya dengan lebaran. Ada moment tertentu dalam lebaran dimana kita disunahkan untuk makan, yakni sebelum salat id pada idul fitri dan sunah makan kurban sesudah salat id. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Syirazi dalam kitab Al-Muhadzdzab:

والسنة أن يأكل في يوم الفطر قبل الصلاة ويمسك في يوم النحر حتى يفرغ من الصلاة

Artinya: “Sunah makan sebelum salat di hari idul fitri, dan tidak makan sebelum salat di hari idul adha”.

Untuk hari raya idul fitri, yang dimakan oleh Rasulullah sebelum melaksanakan salat id ialah kurma dalam jumlah yang ganjil seperti 3, 5, atau 7 butir. Sebagaimana dijelaskan dalam lanjutan penjelasan dalam kitab Al-Muhadzdzab:

والسنة أن يأكل التمر ويكون وتراً لما روى أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم كان لا يخرج يوم الفطر حتى يأكل تمرات ويأكلهن وتراً.

Artinya: “Sunah memakan kurma dalam julah ganjil sebagaimana diriwayatkan oleh Sahabat Anas Ra. Bahwasanya Rasulullah Saw. tidak keluar menuju salat idul fitri kecuali beliau makan kurma sejumlah ganjil”.

Dengan demikian kesimpulannya, di hari raya idul fitri, yang disunnahkan adalah makan kurma sejumlah ganjil sebelum berangkat salat id.

Lantas bagaimana dengan ketupat? (Baca: Hari Raya Ketupat; Khazanah Islam Nusantara yang Terus Dilestariskan)

Tanpa mengurangi keotentikan kecintaan Nabi pada kurma, perlu dipahami bahwa kurma di zaman Nabi merupakan makanan pokok yang dimakan untuk tujuan memperoleh energi (taqwiyyatan). Dalam hal ini ketupat juga bisa masuk kategori makanan pokok karena dengan memakan ketupat yang asalnya dari beras, kita akan memperoleh kekuatan.

Oleh karena itu dari sisi sama-sama merupakan makanan pokok, makan ketupat di hari lebaran juga dihukumi sunah sebagaimana kurma. Meskipun harus kita tegaskan bahwa bagaimanapun kurma tetap menjadi prioritas utama.

Pertimbangan berikutnya adalah ada beberapa pesan budaya yang bisa diambil hikmah dari penyajian ketupat di hari lebaran. Pertama, ketupat dalam bahasa Jawa merupakan representasi dari “kulo ngaku lepat” (indonesia: saya mengaku salah, terj.), sebuah sikap yang dikedepankan oleh masyarakat Nusantara di hari Idul Fitri dimana kita diharuskan untuk saling memaafkan antar sesama.

Di sisi lain, ketupat juga memiliki beberapa keistimewaan yakni mampu mengadaptasikan manusia untuk kembali makan di siang hari yang sebelumnya selama sebulan kita tidak melakukan hal tersebut. Hal yang sama sebagaimana jika kita makan lontong. Namun istimewanya lagi ialah ketupat lebih tahan lama dibandingkan dengan lontong.

Sebagai penutup, bisa kita nyatakan bahwa apabila dilakukan sebelum salat id dan diniati untuk mendapatkan kekuatan agar bersemangat melaksanakan salat id, maka makan ketupat di hari lebaran hukumnya sunah.

Wallahu a’lam bi shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published.