Hukum Islam KTP dalam Tinjauan Fikih 

by -18 views
hukum-islam-ktp-dalam-tinjauan-fikih 

BincangSyariah.com-Islam KTP adalah ungkapan untuk menggambarkan seseorang yang berstatus pemeluk agama Islam pada Kartu Tanda Penduduk (KTP) akan tetapi tidak melaksanakan ajaran-ajaran Islam dengan sempurna dan rutin. Lantas bagaimana hukum Islam KTP?

Istilah ini acap kali diperuntukkan kepada orang yang sering meninggalkan sholat, tidak melaksanakan ibadah puasa pada bulan Ramadhan, dan seterusnya. Bagaimanakah hukum  Islam KTP menurut tinjauan fikih,  yang marak terjadi pada kalangan masyarakat Indonesia?

Perintah Melaksanakan Sholat

Sholat merupakan ibadah pokok yang menjadi penanda bahwa seorang hamba beragama Islam. Sebagaimana sholat menjadi ibadah pokok dan tiang bagi agama Islam, seseorang yang tidak mengerjakan sholat berarti secara tidak langsung ia telah meruntuhkan agama Islam.

Klaim sholat menjadi tiang agama Islam telah disabdakan Nabi pada hadis beliau yang berbunyi :

الصَّلّاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّيْنِ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّيْنِ

“Sholat adalah tiang agama, barang siapa menegakkan sholat berarti ia telah menegakkan agama, barang siapa meninggalkan sholat, maka ia telah meruntuhkan agama”

Melihat dari makna hadis di atas menunjukkan pentingnya sholat sebagai eksistensi seseorang beragama Islam, sedangkan ketika ia tidak mengerjakan sholat berarti eksistensi seorang hamba sebagai pemeluk agama Islam pun diragukan.

Perintah untuk mengerjakan sholat telah Allah jelaskan melalui firman-Nya pada Q.S. al-Baqarah ayat 43 , berbunyi :

وَأَقِيْمُوْا الصَّلَاةَ وَأَتُوْا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرَاكِعِيْنَ

“Dan tegakkanlah sholat, bayarlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk” (Q.S. al-Baqarah [2] : 43 )

Karena mengerjakan sholat sebagai manifestasi seseorang beragama Islam dan terdapat perintah secara langsung dari Allah untuk senantiasa mengerjakannya sesuai pada waktu yang teelah ditetapkan, maka meninggalkan sholat akan mendapatkan siksa yang amat sangat pedih.

Hukum Islam KTP dalam Pandangan Fikih 

Dalam pandangan fikih, meninggalkan sholat merupakan tindak pidana yang berat dan harus diadili. Akan tetapi, tidak setiap orang yang meninggalkan sholat berhak mendapatkan hukuman yang sama.

Dalam kitab Fathul Muin, Syekh Zainuddin al-Malibari menjelaskan bahwa orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja harus dibunuh dengan catatan ia tatap bersikukuh untuk tidak melaksanakan sholat setelah ada perintah dan arahan.

Keengganan melakukan sholat itu telah lewat sampai sholat tersebut dapat dijamak –seperti tidak mengerjakan sholat dhuhur sampai lewat waktu asar.

(وَيُقْتَلُ) أَي (الْمُسْلِمُ) الْمُكَلَّفُ الطَّاهِرُ حَدًّا بِضَرْبِ عُنُقِهِ (إِنْ أَخْرَجَهَا) أَي الْمَكْتُوْبَةُ، عَامِدًا (عَنْ وَقْتِ جَمْعٍ) لَهَا، إِنْ كَانَ كَسْلًا مَعَ اعْتِقَادِ وُجُوْبِهَا (إِنْ لَمْ يَتُبْ) بَعْدَ الْإِسْتِتَابَةِ

“Seorang muslim yang telah mukallaf lagi dalam keadaan suci (akan) dibunuh sebagai had -hukuman-, jika meninggalkan (tidak mengerjakan) sholat sampai pada waktu sholat tersebut dapat dijamak dan tidak bertaubat –setelah dimintai untuk bertaubat-, serta meninggalkan (sholat) dalam keadaan bermalas-malasan beserta meyakini kewajiban sholat”

Pernyataan Syekh Zainuddin al-Malibari menjadi penjelas dari hadis Nabi yang berbunyi;

“Aku diperintah untuk membunuh (memerangi) manusia sampai dia bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah, mengerjakan sholat dan membayar zakat.

Jika mereka mengerjakan perintah tersebut, maka nyawa dan hartanya dalam perlindunganku kecuali sebab ada legalitas dari islam –seperti jinayat- dan hisabnya berada pada (kekuasaan) Allah”

Syekh Syatha al-Dimyathi menjelaskan lebih lanjut pada kitab I’anah al-Thalibin, ketika seseorang tidak melakukan bersuci (thaharah), tidak memenuhi syarat dan tidak melakukan rukun-rukun sholat disamakan seperti tidak melakukan sholat. 

Keadaan-keadaan demikian beserta keadaan seseorang tidak berniat pada melakukan wudlu dan mandi, menyentuh kemaluan, dan menyentuh lawan jenis, kemudian ia sholat dengan sengaja ia tidak sampai mendapat hukum pembunuhan.

Pasalnya, karena ulama masih berbeda pendapat terkait kebolehan orang-orang tersebut melaksanakan sholat.

ومثل ترك المكتوبة ترك الطهارة لها، لأن ترك الطهارة بمنزلة ترك الصلاة ومثل الطهارة الأركان وسائر الشروط التي لا خلاف فيها أو فيها خلاف واه، بخلاف القوي فلو ترك النية في الوضوء أو الغسل أو مس الذكر أو لمس المرأة وصلى متعمدا لم يقتل، كما لو ترك فاقد الطهورين الصلاة لأن جواز صلاته مختلف فيه

“Semisal meninggalkan (sholat) maktubah adalah meninggalkan bersuci (untuk mengerjakan maktubah), karena meninggalkan bersuci seperti meninggalkan sholat. Sementara, meninggalkan rukun-rukun, syarat-syarat sholat baik yang disepakati ataupun yang masih diperselisihkan.

Berbeda pula (dengan perbedaan kuat) ketika (seseorang) tidak berniat pada saat berwudlu, mandi, menyentuh kemaluan, dan lawan jenis.

Kemudian, melakukan sholat dengan sengaja disamakan seperti orang melakukan sholat dalam keadaan tidak dalam keadaan suci, sementara hal tersebut masih dalam perselisihan para ulama fikih”

Dengan demikian perbedaan motif seorang muslim tidak mengerjakan sholat berakibat pada perbedaan perlakuan fikih padanya. Perlakuan tersebut demi menjaga eksistensi kesempurnaan sholat dan agama Islam. Inilah hukum Islam KTP dalam tinjauan fikih.

(Baca juga: Hukum Meninggalkan Sholat Jumat karena Kerja Shift)

More

Leave a Reply

Your email address will not be published.