Hukum dan Tata Cara Pelaksanaan Haji Bagi Anak Kecil

by -7 views
hukum-dan-tata-cara-pelaksanaan-haji-bagi-anak-kecil

BincangSyariah.Com- Berikut penjelasan hukum dan tata cara pelaksanaan haji bagi anak kecil. Pasalnya, jamak sekali anak yang masih ikut sudah ikut orang tuanya melakukan ibadah haji, terlebih bagi orang kaya. Lantas bagaimana hukum haji bagi anak kecil? Pun bagaimana tata cara pelaksanaan haji bagi anak kecil.   

Dalam pelaksanaan syariat Islam, syarat sah seperti Islam, telah baligh dan berakal adalah sesuatu yang maklum diketahui. Begitupun juga dalam pelaksanaan ibadah haji. Haji notabene menjadi kewajiban bagi mereka, umat Islam yang telah mencapai usia baligh.

Dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi termasuk di dalamnya “istitha’ah”, kemampuan dalam segala hal yang berkaitan dengan rangkaian ibadah di dalamnya. Lantas bagaimana hukum haji bagi anak kecil?.

Haji tidak wajib dilakukan oleh anak kecil. Hal tersebut sebagaimana riwayat hadits Abu Daud dari Ali bin Abi Thalib berikut:

رفع القلم عن ثلاثة: عن الصبي حتى يبلغ, وعن النائم حتى يستيقظ, وعن المجنون حتى يفيق

Pena (taklif) diangkat dari tiga orang: anak kecil sehingga ia baligh, orang yang tertidur sehingga ia bangun, orang gila sehingga ia sadar”.

Namun, ketika seorang anak kecil melaksanakan ibadah haji, maka haji tersebut tetap dihukumi sah dan bahkan orang tuanya mendapatkan pahala atasnya, sebagaimana riwayat hadits Muslim dari Ibnu Abbas berikut:

ان امرأة رفعت صبيا لها من محفتها فقالت: يا رسول الله ألهذا حج؟ قال نعم, ولك أجر

Seorang perempuan mengangkat anaknya dari usungannya, kemudian ia berkata: wahai Rasulullah apakah bagi anak ini (boleh) haji?. “iya, dan bagimu pahala atasnya”, jawab Rasulullah.

Tata Cara Pelaksanaan Ibadah Haji Bagi Anak Kecil

Adapun dalam pelaksanaannya, pada saat ihram haji anak kecil terbagi menjadi dua:

Pertama, anak kecil yang telah tamyiz. Jika anak kecil tersebut telah memasuki usia tamyiz maka ia boleh ihram dengan dirinya sendiri dengan syarat harus ada izin dari walinya. Dan apabila ihramnya tidak atas izin dari walinya maka kebanyakan ulama menyatakan tidak sah. 

Hal tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Imam Abi Ishak al-Syirazi (393 H) dalam kitabnya “al-Muhadzab” Juz I hal 661 berikut:

فإن كان مميزا فأحرم بإذن الولي صح إحرامه, وإن أحرم بغير إذنه ففيه وجهان, قال أبو إسحاق: يصح كما يصح إحرامه في الصلاة, وقال أكثر أصحابنا: لا يصح, لانه يفتقر في أدائه المال, فلا يصح من غير إذن الولي, بخلاف الصلاة

Jika ia telah tamyiz, kemudian ia ihram atas izin dari walinya maka ihramnya dianggap sah. Dan jika ia ihram tanpa izin dari walinya, maka dalam hal ini ada dua wajah. Ibnu Ishaq berkata: sah sama seperti ihramnya dalam shalat.

Akan tetapi kebanyakan dari ashab kami (ashab syafi’i) berkata: tidak sah, karena dalam pelaksanaannya (haji) membutuhkan harta, maka tidak sah ihram tanpa seizin wali, berbeda halnya dengan shalat”.

Kedua, anak kecil yang belum tamyiz. Maka ihramnya boleh diserahkan kepada ibunya, atau ayahnya serta wali dari jalur ayahnya. Tidak boleh dilakukan oleh paman atau saudaranya yang tidak memiliki wilayah atas anak tersebut.

Dalam kitabnya “al-Muhadzab”, al-Syirazi berkata:

وإن كان غير مميز جاز لأمه أن تحرم عنه لحديث ابن عباس, ويجوز لأبيه قياسا على الأم, ولا يجوز للأخ والعم أن يحرما عنه, لانه لا ولاية لهما على الصغير.

Jika ia belum tamyiz, maka boleh bagi ibunya ihram atas dirinya, karena hadits riwayat Ibnu Abbas. Dan ihram juga boleh dilakukan oleh ayahnya, dengan mengiyaskan pada ibu. Tidak boleh bagi saudara laki-laki dan pamannya untuk ihram atasnya, karena tidak ada wilayah bagi keduanya atas anak kecil”.

Lebih lanjut imam al-Syirazi menjelaskan bahwa setelah anak kecil tersebut telah terikat dengan ihram, maka ia boleh melakukan hal-hal yang mampu ia lakukan dalam rangkaian ibadah haji, sedangkan yang ia tidak mampu, maka walinya yang akan menggantikan melakukannya. 

Hal tersebut sebagaimana hadits riwayat Tirmidzi dari Jabir dan hadits Ibnu Umar berikut:

حججنا مع رسول الله صم ومعنا النساء والصبيان, فلبينا عن الصبيان ورمينا عنهم. وعن ابن عمر رضي الله عنهما قال: “كنا نحج بصبياننا فمن استطاع منهم رمى, ومن لم يستطع رمى عنه”.

Kami haji bersama Rasulullah Saw dan bersama kami perempuan dan anak-anak, maka kami membaca talbiyah untuk anak-anak dan melempar jumrah untuk mereka.

Dan dari Ibnu Umar Ra berkata: kami berhaji bersama anak-anak kami. Barang siapa dari mereka (anak-anak) mampu melakukannya maka ia boleh melempar jumrah sendiri, dan jika tidak maka ia akan diwakilkan”.

Demikian kiranya tata cara pelaksanaan ibadah haji bagi anak kecil. Adapun yang berkaitan dengan nafkah haji serta kewajiban kafarat, ulama memiliki dua pandangan:

ada yang mengatakan, hal tersebut wajib bagi walinya karena ia yang memasukkannya ke dalam rangkaian ibadah haji, ada juga yang berpendapat harta yang digunakan ialah milik si anak karena harta tersebut diperuntukkan untuk kemaslahatan dirinya, sama seperti halnya upah pengajar.

Demikian hukum dan tata cara  haji bagi anak kecil. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam (Baca juga: Pelaksanaan Ibadah Haji Sebelum Islam Datang).

Leave a Reply

Your email address will not be published.