Hukum Bersetubuh dengan Hewan 

by -5 views
hukum-bersetubuh-dengan-hewan 
Hukum Bersetubuh dengan Hewan 
Hukum Bersetubuh dengan Hewan 

BincangSyariah.Com– Bagaimana hukum bersetubuh dengan hewan? Pasalnya, baru-baru ini publik digegerkan dengan peristiwa yang anti mainstream, yakni pernikahan silang antara manusia dengan hewan.

Saiful Arif, seorang pria di Gresik, menikahi seekor kambing. Prosesi pernikahannya pun dilangsungkan sebagaimana pernikahan seorang Muslim dan Muslimah. 

Penjelasan Hukum Bersetubuh dengan Hewan

Lalu ketika mereka telah melangsungkan pernikahan, apakah sah jadi suami istri? Tidak sah, sebab pernikahan itu hanya untuk manusia dengan manusia, bukan dengan spesies lainnya. 

Dan jika memang melakukan persetubuhan, maka ia dianggap telah berzina dan dia akan mendapatkan sanksinya. Dijelaskan:

(وَحُكْمُ اللِّوَاطِ وَإِتْيَانِ الْبَهَائِمِ كَحُكْمِ الزِّنَا) فَمَنْ لَاطَ بِشَخْصٍ بِأَنْ وَطِئَهُ فِيْ دُبُرِهِ حُدَّ عَلَى الْمَذْهَبِ وَمَنْ أَتَى بَهِيْمَةً حُدَّ كَمَا قَالَ الْمُصَنِّفُ لَكِنِ الرَّاجِحُ أَنَّهُ يُعَزَّرُ

“Sodomi dan bersetubuh dengan hewan itu seperti halnya zina, maka sesiapa yang menyodomi seseorang atau menyetubuhi hewan, ia akan dihad menurut qaul madzhab seperti halnya yang diterangkan oleh Mushannif. 

Namun menurut qaul rajih, mereka berdua itu dita’zir. Yakni disanksi dengan diasingkan dari daerahnya”. (Ibnu Qasim Al-Ghazi, Fath Al-Qarib Al-Mujib, hal. 282)

Dalam kitab lain, dijelaskan lebih luas lagi:

إِتْيَانُ الْبَهِيمَةِ حَرَامٌ، وَفِي وَاجِبِهِ أَقْوَالٌ، أَظْهَرُهَا: التَّعْزِيرُ، وَالثَّانِي: الْقَتْلُ مُحْصَنًا كَانَ أَوْ غَيْرَهُ، وَالثَّالِثُ: حَدُّ الزِّنَا، فَيُفَرَّقُ بَيْنَ الْمُحْصَنِ وَغَيْرِهِ، وَقِيلَ: وَاجِبُهُ وَاجِبُ اللِّوَاطِ، وَقِيلَ: التَّعْزِيزُ قَطْعًا

“Menyetubuhi hewan itu haram hukumnya. Ulama’ berbeda pendapat dalam memberikan sanksi, menurut qaul adzhar ia harus dita’zir. Namun menurut qaul kedua, ia harus dibunuh, baik ia sudah berkeluarga atau tidak. 

Sedangkan menurut qaul ketiga, ia disanksi dengan had zina. Yakni jika ia muhson (sudah berkeluarga), maka ia dirajam. Jika tidak, maka ia dijilid sejumlah 80 kali. 

Hanya saja ada yang berpendapat bahwa ia disanksi dengan ta’zir saja, tidak memandang aspek apapun”. (Imam Al-Nawawi, Raudh Al-Thalibin wa Umdat al-Muftin Jilid 10 halaman 92)

Ulama lintas madzhab juga berpendapat demikian, dijelaskan:

ذَهَبَ جَمَاهِيرُ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّهُ لاَ حَدَّ عَلَى مَنْ أَتَى بَهِيمَةً لَكِنَّهُ يُعَزَّرُ، لِمَا رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا أَنَّهُ قَال: مَنْ أَتَى بَهِيمَةً فَلاَ حَدَّ عَلَيْهِ. وَمِثْل هَذَا لاَ يَقُولُهُ إِلاَّ عَنْ تَوْقِيفٍ، وَلأَنَّ الطَّبْعَ السَّلِيمَ يَأْبَاهُ فَلَمْ يَحْتَجْ إِلَى زَجْرٍ بِحَدٍّ. وَعِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ قَوْلٌ: إِنَّهُ يُحَدُّ حَدَّ الزِّنَى وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ، وَعِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ قَوْلٌ آخَرُ: بِأَنَّهُ يُقْتَل مُطْلَقًا مُحْصَنًا كَانَ أَوْ غَيْرَ مُحْصَنٍ.

Mayoritas ulama’ berpendapat bahwasanya orang yang menyutubuhi hewan itu tidak dihad, hanya saja ia diasingkan dari perkampungannya. Sebab Abdullah bin Abbas mengatakan bahwasanya sesiapa yang menyetubuhi hewan itu tidak dihad. 

Dan tidak ada yang membahas ini, kecuali ini adalah tauqifi (pengetahuan dari Allah). Sebab nalar sehat manusia itu pasti enggan melakukannya, niscaya tidak butuh pada larangan. Demikian menurut madzahibul arba’ah, hanya saja Madzhab Syafi’i memiliki banyak pendapat. 

Salah satunya yaitu pelaku dihad seperti halnya hadnya orang zina, pendapat ini juga merupakan salah satu pendapat yang ada di Madzhabnya Imam Ahmad bin Hambal. 

Adapun pendapat kalangan Syafiiyyah lainnya adalah bahwa pelakunya dibunuh, baik ia sudah berkeluarga atau tidak. (Mausu’ah Al-Fikhiyyah Al-Kuwaitiyyah Jilid 24 halaman 33).

Bersetubuh dengan Hewan, Wajib Mandi?

Yang demikian adalah sanksinya, lantas apakah bagi pelaku tersebut wajib mandi? Dijelaskan:

وَلَوْ اسْتَدْخَلَتْ ذَكَرَ مَيِّتٍ لَزِمَهَا الْغُسْلُ كَمَا لَوْ أَوْلَجَ فِي مَيِّتٍ وَلَوْ اسْتَدْخَلَتْ ذَكَرَ بَهِيمَةٍ لَزِمَهَا الْغُسْلُ كَمَا لَوْ أَوْلَجَ فِي بَهِيمَةٍ صَرَّحَ بِهِ الشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّدٍ الْجُوَيْنِيُّ وَالدَّارِمِيُّ وَالْمُتَوَلِّي وَآخَرُونَ

“Jika ada seorang perempuan memasukkan penisnya mayyit ke vaginanya, maka ia wajib mandi (sedang si mayyit tidak). Seperti halnya seorang lelaki yang memasukkan penisnya ke vaginanya mayyit. 

Sebegitu juga dengan seorang perempuan yang memasukkan alat vitalnya hewan ke vaginanya, ia wajib mandi. Demikian pula dengan orang laki-laki yang memasukkan alat vitalnya ke hewan. Keterangan ini dijelaskan oleh Abu Muhammad Al-Juwaini, Al-Darimi dan Al-Mutawalli”. (Imam Al-Nawawi, Majmu’ Syarh al-Muhadzzab  Jilid 2 halaman 133)

Demikian penjelasan mengenai hukum bersetubuh dengan hewan beserta implikasi. Semoga kita dijauhkan dari perbuatn fahisyah. (Baca juga: Menikah dengan Jin, Bagaimanakah Hukumnya?). 

Leave a Reply

Your email address will not be published.