Huawei Terus Terjun Bebas Pasca-Sanksi AS

by -3 views

Amerika Serikat telah menghukum Huawei dengan sejumlah sanksi selama dua tahun terakhir. AS menyatakan raksasa telekomunikasi China itu adalah ancaman keamanan nasional, klaim yang berulang kali dibantah oleh Huawei

Raksasa teknologi China Huawei mengaku mengalami pertumbuhan pendapatan dan laba pada 2020, Global Times melaporkan, yang memenuhi target perusahaan meskipun kerugian yang ditimbulkan oleh daftar hitam pemerintah Amerika Serikat atas bisnisnya yang secara tradisional kuat.

Baca juga: Transfer Senjata hingga Investasi, Jepang-Indonesia Siap Keroyok China?

Pendapatan mencapai 891,4 miliar yuan (US$135,93 miliar) pada 2020, naik 3,8 persen tahun-ke-tahun, sementara laba bersih naik 3,2 persen menjadi 64,6 miliar. Perusahaan mengumumkana angka-angka tersebut selama konferensi pers bertajuk “Riding Through the Night” di kantor pusatnya di Shenzhen, Provinsi Guangdong, China Selatan pada Rabu (31/3).

Pendapatan sektor bisnis konsumen mencapai 482,9 miliar yuan, naik 3,3 persen tahun-ke-tahun.

“Selama setahun terakhir kami bertahan kuat dalam menghadapi kesulitan,” tutur Ken Hu, ketua bergilir Huawei, dikutip dari Global Times.

Ia menambahkan, kinerja bisnis perusahaan sebagian besar sejalan dengan perkiraan perusahaan.

“Pada 2020, kelompok usaha perusahaan kami berkembang pesat, bisnis telekomunikasi tetap stabil, sementara pertumbuhan sektor bisnis konsumen melambat.”

Laporan kuat pada 2020 muncul setelah Huawei dimasukkan dalam daftar hitam ekspor oleh mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Mei 2019, sementara pembatasan perdagangan AS terhadap perusahaan tersebut diperkuat selama setahun terakhir.

Para analis mengatakan pertumbuhan tersebut mengindikasikan “strategi bertahan hidup” Huawei, yang mencakup segera menyesuaikan lini bisnisnya, telah memiliki efek awal, sementara memperingatkan masalah yang dialami raksasa teknologi itu akan terus berlanjut.

“Bencana sebenarnya belum tiba. Dampak dari larangan semikonduktor AS secara bertahap akan terlihat dalam laporan keuangannya tahun ini,” ujar Jiang Junmu, kepala penulis di situs berita industri telekomunikasi China c114.com.cn kepada Global Times pada Rabu (31/3).

Jiang memperingatkan, dampak terbesar masih akan terjadi di divisi konsumen Huawei, yang menyumbang 54,2 persen dari total penjualan perusahaan pada 2020. Kelompok konsumen tersebut mengambil alih bisnis peralatan jaringan inti Huawei menjadi departemen bisnis terbesar pada 2018.

Pada 2019, pendapatan bisnis konsumen Huawei naik 34 persen, dibandingkan dengan pertumbuhan 3,3 persen pada 2020.

“Semua ini sangat tergantung pada apakah Huawei dapat menemukan titik pertumbuhan baru dan kuat yang dapat menutupi penurunan bisnis ponsel,” tandas Jiang.

Huawei telah mengejar sumber pendapatan lain ketika produksi dan penjualan smartphone menyusut. Bersama dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang disewakan untuk peternak babi, Huawei juga bekerja sama dengan penambang batu bara dan pembuat mobil dalam negeri, Global Times mencatat. Namun, para analis memperingatkan bisnis itu, yang utamanya menyediakan teknologi oleh Huawei, mungkin tidak dapat menghasilkan “pendapatan dan keuntungan yang cukup” seperti bisnis ponselnya dalam jangka pendek.

Sementara itu, CNBC melaporkan, China adalah satu-satunya wilayah tempat operasi Huawei yang mengalami pertumbuhan pendapatan positif. Penjualan di China mencapai 584,9 miliar yuan (US$89,7 miliar), naik 15,4 persen tahun-ke-tahun dan menyumbang lebih dari 65 persen total pendapatan.

Pada 2020, ekonomi China tumbuh ketika negara tersebut berhasil menahan pandemi COVID-19 secara luas. Negara-negara ekonomi besar lainnya mengalami kontraksi ketika pandemi terus melanda seluruh dunia dan banyak negara memberlakukan penguncian wilayah dalam berbagai tingkat. Laba bersih Huawei untuk tahun 2020 adalah 64,6 miliar yuan (US$9,9 miliar), naik 3,2 persen tahun-ke-tahun.

Baca juga: Cegah Protes di Laut China Selatan, Beijing Sogok ASEAN

Dampak sanksi AS

Amerika Serikat telah menghukum Huawei dengan sejumlah sanksi selama dua tahun terakhir. AS menyatakan raksasa telekomunikasi China itu adalah ancaman keamanan nasional, klaim yang berulang kali dibantah oleh Huawei, menurut catatan CNBC.

Pada 2019, Huawei dimasukkan dalam daftar hitam AS yang disebut Daftar Entitas. Itu membatasi berbagai perusahaan Amerika untuk mengekspor teknologi tertentu ke Huawei. Google akhirnya memutuskan hubungan dengan Huawei. Artinya, raksasa telekomunikasi China itu tidak dapat menggunakan sistem operasi Android Google di ponsel pintarnya.

Hal itu bukan masalah besar di China di mana layanan Google seperti pencarian dan Gmail diblokir. Namun, itu merugikan Huawei di pasar internasional di mana para konsumen terbiasa dengan aplikasi tersebut. Tahun lalu, AS memutuskan untuk menghentikan Huawei dari pasokan cip utama yang dibutuhkannya untuk ponsel pintarnya.

Kedua langkah tersebut telah merusak penjualan ponsel pintar Huawei. Pada saat pencantuman Daftar Entitas, Huawei adalah pemain smartphone terbesar kedua berdasarkan pangsa pasar. Namun pada kuartal keempat, Huawei keluar dari lima vendor terbesar berdasarkan pangsa pasar karena penjualan di seluruh dunia anjlok.

Menurut laporan CNBC, Huawei mengaku bisnis konsumennya mencatat pendapatan 482,9 miliar yuan (US$74,1 miliar), naik 3,3 persen tahun-ke-tahun. Angka itu lebih lambat dari pertumbuhan 34 persen yang terlihat pada 2019.

Penerjemah: Fadhila Eka Ratnasari

Editor: Purnama Ayu Rizky

Keterangan foto utama: Logo Huawei. (Foto: AFP)

Huawei Terus Terjun Bebas Pasca-Sanksi AS

, , , , ,

Leave your vote

554 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *