in ,

Hasil Referendum Izinkan Vladimir Putin Menjadi Presiden Rusia Seumur Hidup

Demonstran Rusia Menolak Amandemen yang Izinkan Vladimir Putin Jadi Presiden Seumur Hidup

Seorang demonstran menolak amandemen konsitutis Rusia yang membuat Vladimir Putin bisa berkuasa seumur hidup. Foto oleh Nikolay Vinokurov / Alamy Stock Photo 

Mayoritas pemilih di Rusia baru saja menyetujui amandemen konstitusi, sehingga Presiden Vladimir Putin bisa menjabat secara teoretis hingga 16 tahun ke depan. Sebab, dengan amandemen tersebut, batasan durasi masa bakti sebagai presiden dihapus. Dengan kata lain, ini lampu hijau bagi sang politikus karismatik itu untuk menjabat seumur hidup.

Jika mengacu aturan sebelum amandemen, Putin hanya bisa menjabat sampai 2024. Presiden Rusia dalam UUD maksimal boleh menjabat enam tahun, dengan kesempatan sekali mencalonkan diri kembali pada pemilu berikutnya. Berkat perubahan UUD yang digelar lewat referendum yang hasilnya diumumkan pada Kamis (2/7), maka Putin, yang kini berusia 67 tahun, bisa mencalonkan diri kembali hingga pemilu 2030. Putin yang berulang kali menang pemilu, berpeluang menjadi pemimpin negara Barat modern terlama berkuasa sepanjang sejarah.

Referendum digelar selama tujuh hari berturut-turut, diikuti semua penduduk Rusia yang sudah berusia dewasa dan punya hak pilih, dengan pertanyaan sederhana “apakah anda bersedia bila parlemen menjalakan paket perubahan 200 pasal pada konstitusi Rusia 1993?”

Referendum ini digelar oleh pemerintah dengan dalih menjaga “stabilitas” dan “moral bangsa”. Berdasarkan hasil yang masuk ke KPU Rusia kemarin, 78 persen pemilih setuju pada paket amandemen konstitusi, sementara hanya 21 persen yang menolak. Tingkat partisipasi sebesar 65 persen dari total pemilik hak suara di seantero Negeri Beruang Merah.

Mengizinkan Putin menjabat lebih lama hanya satu dari sekian kontroversi dari paket amandemen tersebut. Pasal lain yang disebut-sebut bermasalah dalam amandemen, adalah kebijakan melarang pernikahan sejenis, menegaskan status Rusia sebagai “negara yang berTuhan”, serta perlindungan institusi “keluarga” sesuai nilai-nilai tradisional.

Nikolai Petrov, peneliti spesialis isu dalam negeri Rusia dari lembaga think-thank Chatham House menyatakan Putin jelas sosok yang amat diuntungkan oleh hasil referendum. “Dengan begitu, aturan main pemilu seperti kembali ke nol, dan [Putin] bisa mencalonkan diri kembali untuk dua pemilu berikutnya,” kata Petrov kepada VICE News.

Putin dan pendukungnya berusaha meyakinkan masyarakat bahwa amandemen ini diperlukan, mengingat ada banyak program pemerintah yang hendak dijalankan berkelanjutan di tahun-tahun mendatang. Apabila Putin lengser normal pada 2024, maka politik Rusia diklaim bakal kacau. Pemilu akan diisi nama-nama baru yang sibuk saling sikut.

“Berdasarkan pengalaman saya, mencari sosok pengganti di level tertinggi pemerintahan akan membuat energi bangsa ini lebih tercurah pada proses pencarian sosok tersebut, dan pemerintah justru tidak sempat bekerja,” kata Putin saat diwawancarai salah satu TV lokal pekan lalu. “Bangsa Rusia butuh pemerintah yang bekerja, bukannya sibuk mencari pemimpin baru.”

Sementara, ketika tampil di TV pada awal pekan ini untuk meyakinkan masyarakat mendukung amandemen, Putin sama sekali tidak menyebut soal pembatasan masa jabatannya sebagai presiden.

Petrov menyebut referendum kemarin sekadar simbol saja, karena secara de jure perubahan konstitusi sudah dilakukan parlemen sejak awal 2020. Namun, sesuai pernyataan parlemen, amandemen belum berlaku efektif sebelum ada dukungan publik, yang artinya tetap butuh pelaksanaan referendum.

“Dengan kemenangan di referendum ini, Putin dan pendukungnya ingin memberi kesan ke dunia kalau rezim mereka didukung mayoritas rakyat Rusia,” kata Petrov.

Kelompok oposisi Rusia, serta pengamat independen, menganggap terjadi banyak manipulasi maupun kecurangan selama pelaksanaan referendum. Kelompok oposisi yang menuntut adanya pembatasan masa bakti presiden kerap dihalang-halangi tampil di media. Sementara lembaga pengawasa referendum diisi orang-orang yang pro-pemerintah.

Alexei Navalny, politikus oposisi yang kerap mengkritik Kremlin, menyebut hasil referendum sebagai “kebohongan besar-besaran.” Dalam postingan blog pribadinya, Navalny menuding Putin “tak punya nyali menggelar referendum betulan dengan aturan main jelas dan kehadiran pengamat independen.”

“Sebab, kalau referendum kemarin digelar dengan adil, dia pasti kalah,” tulis Navalny.

Terjadi gelombang unjuk rasa di Ibu Kota Moskow, merespons kemenangan kubu Putin dalam referendum amandemen Rusia. Sebagian demonstran berbaring di jalan raya dengan mencoretkan angka “2036” di tubuhnya. Ada juga yang membawa poster bertuliskan “Kalian Yakin Mau Putin Selamanya?”

Pihak yang menyambut gembira hasil referendum rata-rata pendukung Putin dan kaum oligarki Rusia. Misalnya penguasa semi diktator di Negara Bagian Chechnya, Ramzan Kadyrov, yang kemarin malam mengunggah video di Telegram berisi puji-pujian buat Putin. “Dia selayaknya menjadi presiden seumur hidup,” kata Kadyrov.

Putin melesat dalam arena kekuasaan Rusia sejak 1999. Dia menjadi salah satu penguasa Rusia termuda sepanjang sejarah. Dia segera meliberalisasi beberapa bisnis tambang dan migas Rusia, menumbuhkan OKB yang kini menjadi miliarder dan pendukung garis kerasnya. Contoh anggota oligarki yang kaya raya berkat kebijakan Putin misalnya Roman Abramovich, pemilik klub sepakbola Chelsea.

Setelah sempat bertukar posisi lima tahun jadi perdana menteri dengan Dmitry Medvedev, Putin kembali menjabat sebagai presiden sejak 2018, ketika memenangi pemilu dengan 77 persen suara. Mantan pejabat intelijen KGB itu dalam berbagai kesempatan tidak menutup-nutupi ambisinya berkuasa selama mungkin.

“Saya sejujurnya tidak pernah menutup kemungkinan coba kembali maju dalam pemilu berikutnya,” ujarnya ketika berpidato pada Maret 2020. “Asal konstitusi memungkinkan, maka kita lihat saja apa yang akan terjadi.”

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News

What do you think?

789 points
Upvote Downvote

Written by buzz your story

mulai-2021,-bayi-bisa-minum-asi-buatan-lab

Mulai 2021, Bayi Bisa Minum ASI Buatan Lab

paket-pelatihan-kartu-prakerja-dihentikan,-sebab-dampak-program-sulit-dievaluasi

Paket Pelatihan Kartu Prakerja Dihentikan, Sebab Dampak Program Sulit Dievaluasi