in

Gus Sholah, Sang Minoritas Pendobrak

JAKARTA, KABARWARGA.COM – Tidak lama setelah kabar wafatnya KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah pada Ahad (2/2) pukul 20.55 WIB, Gus Zaki, senior saya di pesantren yang juga adik sepupu Almaghfurlah Gus Sholah menceritakan, beberapa hari lalu bermimpi bahwa Pondok Tebuireng didatangi banyak orang. Berbeda dari ribuan peziarah yang setiap hari masuk dari pintu barat, orang-orang masuk melewati gerbang utama di pintu timur.

Berselang beberapa saat, ia ditelepon alumni mengabarkan mimpi bertemu ayah Gus Zaki yang menanyakan apakah kuburan Salahuddin al-Ayyubi sudah dibersihkan. Ayah Gus Zaki yang sudah lama wafat itu selama hidupnya dikenal sangat dekat dengan Gus Sholah.

Beberapa jam sebelum Gus Sholah wafat, Ibu Nyai Farida Syaifuddin Zuhdi (istri) dan Gus Irfan, anak pertama Gus Sholah, mengirim kabar dan mohon didoakan untuk Gus Sholah yang kritis. Di grup WA santri maupun wali santri yang saya ikuti, sepanjang sore hingga malam doa-doa terbaik untuk Gus Sholah dipanjatkan. Di media sosial pun berduyun-duyun ajakan berdoa untuk kebaikan Gus Sholah datang dari beragam kalangan anak bangsa.

Dua mimpi itu menandai dan doa-doa itu menyertai kepergian seorang insinyur, pengasuh pesantren, cendekiawan, dan tokoh yang mumpuni.

Tukang Es di Malam Hari

Seperti Abdurrahman Ad-Dakhil atau Gus Dur, Salahuddin Al-Ayyubi (Gus Sholah) adalah genotype hybrid terbaik. Ayahnya adalah Menteri Agama RI KHA Wahid Hasyim, mertuanya juga Menteri Agama RI KH Syaifuddin Zuhri, kakeknya adalah pendiri Pesantren Tebuireng dan pendiri NU Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari, kakek dari ibu adalah pendiri Pesantren Denanyar Jombang dan Rais Aam PBNU KH Bisyri Syansuri.

Di kalangan nadliyin, itu adalah puncaknya puncak, core of the core ‘nasab’ dan ‘nasib’. Dengan given modalitas yang tidak semua orang miliki seperti ini, untuk menjadi seorang kiai besar sebenarnya tinggal melangkahkan kaki. Namun apa yang terjadi? Gus Sholah justru tidak berangkat ke pesantren. Meski lahir di kota santri Jombang –77 tahun silam– Gus Sholah tumbuh dan berkembang di Jakarta mengikuti ayahnya yang bertugas negara sebagai menteri dan berkhidmat di PBNU.

Masuk SMA I terfavorit di Ibu Kota, lalu lulus seleksi masuk perguruan tinggi yang terkenal sulit ditembus yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB). Mungkin saat itu Gus Sholah adalah nadliyin pertama yang masuk ke perguruan tinggi negeri umum, Fakultas Teknik dan itu di ITB pula.

Sebagai cucu pendiri NU dan anak Menteri Agama, dalam benak awam mungkin sudah sepatutnya masuk ke pesantren kemudian ke institut agama Islam (IAIN) atau langsung kuliah ke Timur Tengah seperti Gus Dur, kakaknya. Semua pesantren dipastikan dengan senang menerima ‘bibit hibrida’ seperti Gus Sholah.

Empat pesantren terbesar di Jombang juga terikat nasab dan nasib (sejarah) dengan keluarganya. Tebuireng yang terletak di selatan kota didirikan kakeknya, Denanyar di barat kota juga didirikan kakeknya. Di utara kota ada Tambak Beras didirikan buyutnya, dan Darul Ulum di timur zaman itu diasuh KH Romly Tamim, menantu kakeknya.

Bentangan kesempatan itu ternyata tidak membuat Gus Sholah menoleh. Ia yang sudah yatim sejak umur 11 tahun itu memilih belajar di SMP dan SMA kemudian kuliah di perguruan tinggi paling menakutkan karena teramat banyak calon yang dikecewakan alias tidak diterima. Seorang darah biru NU umumnya memang berangkat ke pesantren atau jika ada yang kuliah biasanya maksimum ke IAIN.

Gus Sholah mendobrak tradisi. Ia masuk “sekolah insinyur”. Saya berkeyakinan, pilihan Gus Sholah tersebut tidak lepas dari angan-angan dan doa orangtuanya.

Seperti diketahui, ayah Gus Sholah, KHA Wahid Hasyim adalah Menteri Agama dan Ketua Umum PBNU pada awal kemerdekaan. Pada saat akan dibuka pemilihan umum pertama, pada tahun 1952-an NU bersiap mengikuti Pemilu 1955. NU membutuhkan kader-kader dengan bermacam latar pendidikan untuk menjadi calon anggota legislatif dan calon menteri.

KHA Wahid Hasyim senang melihat ribuan lulusan pesantren di NU dari daerah hingga pusat. Namun sedih mendapati sedikit sekali nadliyin yang lulusan perguruan tinggi. Untuk menjawab kebutuhan itu sejumlah public figure dicangkok ke NU seperti tokoh film Usmar Ismail, Djamaluddin Malik (ayah Camelia Malik) dan lainnya. Sampai-sampai KHA Wahid Hasyim mengeluarkan pernyataan yang terkenal di kalangan nahdliyin hingga saat ini. “Mencari sarjana di NU sulitnya seperti mencari tukang es di malam hari.”

Kerisauan orangtua tersebut dijawab dengan serius oleh putra-putra Kiai Wahid. Kecuali Gus Dur yang masuk ke pesantren di Tegalrejo dan Jombang kemudian ke Kairo dan Baghdad, Gus Sholah masuk Fakultas Teknik Sipil ITB, Gus Umar masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan Gus Im atau Hasyim Wahid kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Saat itu Gus Sholah semacam “mengidap minoritas ganda”. Sebagai seorang nadliyin, tidak berangkat ke pesantren tetapi ke perguruan tinggi, bukan perguruan tinggi agama, tetapi ITB pula. Mungkin inilah ‘tukang es’ di malam hari yang pernah dicari orangtuanya dulu.

Problem Solver

Pada tahun 2000-an, ketika berkhidmat sebagai salah seorang Ketua PBNU, Gus Sholah menjadi idola anak muda NU baik yang aktif di organisasi ekstra kampus (PMII) maupun ekstra sekolah seperti IPNU-IPPNU. Gus Sholah menjadi pembicara dalam diskusi dan seminar-seminar yang secara rutin digelar anak-anak muda NU tersebut.

Pandangannya yang clear tentang berbagai masalah keumatan dan kebangsaan digandrungi generasi NU dari kampus. Saat itu hanya Gus Sholah yang berani berseberangan secara terbuka dengan kakaknya. Gus Dur dan Gus Sholah berpolemik di koran tentang isu-isu kenegaraan dari perspektif Islam dan lainnya. Suatu anugerah pencerahan yang langka bagi masyarakat saat itu.

Gus Sholah juga menjadi penasihat di banyak organisasi. Saya masih teringat, ketika ada perbedaan pandangan tajam di kalangan pucuk pimpinan IPNU antara Mujtahidurrodho dan Al-Amin Nasution, setelah mendengarkan nasihat Pengurus PBNU KH Fahruddin Masturo dari Sukabumi, Gus Sholah disepakati sebagai mediator. Ia mendengarkan dengan baik para pihak yang bersitegang, lalu dengan seksama memberi nasihat, peringatan, dan harapan.

Anak-anak muda yang sedang dibakar semangat itu kobaran apinya dikendalikan agar idealismenya tidak gosong, juga harus terus dinyalakan agar tidak membeku. Begitulah “Gus Sholah Way”. Semilir damai tetapi penuh bermuatan.

Setelah pamannya yaitu KH Yusuf Hasyim wafat pada 2006, Gus Sholah disepakati dalam musyawarah keluarga sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng berikutnya.

Saya juga masih ingat, pada tahun 2008-9 pernah membaca proposal revitalisasi Pesantren Tebuireng yang dibawa alumni ITB di kantor. Saya tercengang, Gus Sholah merencanakan banyak hal yang hari ini dapat kita lihat bersama-sama di Tebuireng, sebuah pesantren tua, pesantren rintisan sejak 1899, namun tampil gagah dan modern. Tanpa kehilangan tradisionalitas yang menjadi ciri khasnya, Tebuireng berhasil bermetamorfosis menjadi par excellence pesantren Indonesia.

Banyak jejak solutif yang diwariskan Gus Sholah bagi Tebuireng, pesantren, NU, dan bangsa. Sosoknya tenang nan mumpuni, seorang nadliyin minoritas di kampus teknologi negeri dan insinyur minoritas yang pengasuh pesantren. Allahummaghfirwarhamhu.

PENULIS : Mahrus Ali pengurus LTN PBNU (2010-15), Wali Santri Pondok Tebuireng Jombang.

TULISAN ini telah di muat di tautan berikut : Detik.com

What do you think?

791 points
Upvote Downvote

Written by buzz your story

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Bangsa yang Halu

6

FOTO : Mengantar Gus Sholah ke Peristirahatan Terakhir